
PWMU.CO – Lemahnya kegiatan parenting dari orang tua terhadap anaknya, dapat mengakibatkan masalah serius. Dampaknya berpengaruh negatif terhadap pola pertumbuhan serta perkembangan anak. Anak-anak merupakan individu yang sangat bergantung pada peran orang tua dalam proses tumbuh kembangnya. Hal ini dapat kita amati dari berbagai kejadian di sekitar kita. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua secara baik, lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan luarnya.
Secara faktual, ternyata tidak semua anak mendapatkan pola asuh yang layak dari orang tuanya. Kini lebih banyak orang tua yang sibuk bekerja atau mengejar karir. Imbasnya, perhatian terhadap anak pun menjadi sangat terbatas. Banyak anak yang menjadi keras kepala, sulit menerima nasehat, dan berbicara dengan nada tinggi kepada orang tua. Masalah ini dapat berdampak langsung terhadap anak dari berbagai usia, terutama pada masa kanak-kanak, karena pada masa ini karakter dan kepribadian sedang terbentuk.
Kurangnya parenting atau pola pengasuhan dari orang tua dapat diartikan sebagai kondisi ketika orang tua tidak hadir secara utuh dalam mendampingi, mendidik, dan memberikan kasih sayang kepada anak. Hal ini tidak hanya menyangkut kehadiran fisik saja, — seperti memberi makan, pakaian dan tempat tinggal, — tetapi juga kehadiran secara emosional. Terlibat langsung dalam aktivitas sehari-hari anak.
Ketidakhadiran ini bisa memicu terjadinya perubahan perilaku negatif pada anak. Misalnya, penggunaan gawai (gadget) sebagai pengganti kehadiran orang tua. Anak memperoleh handphone atau tablet sejak kecil agar tenang. Padahal ini bisa membuat anak menjadi kehilangan keterampilan sosial dan emosional. Mereka cenderung meniru ekspresi dan bahasa dari konten yang ditonton, termasuk berbicara dengan nada tinggi atau kasar, yang bisa terjadi akibat kurangnya pengawasan dan waktu bersama anak.
Tanpa kontrol, lebih banyak negatifnya
Meskipun dampaknya lebih banyak negatif, bukan berarti tidak ada sisi positif sama sekali. Beberapa anak yang terbiasa bermain gadget bisa menjadi lebih cepat tanggap secara visual, lebih cepat mengenal huruf, angka, atau bahasa asing dari video yang mereka tonton. Ada pula anak yang sudah paham teknologi sejak usia dini, bisa membuka aplikasi, bahkan memahami cara bermain game edukatif.
Namun, hal tersebut masih tetap belum sebanding dengan efek negatif yang timbul karenanya. Anak mungkin paham teknologi, tetapi tidak tahu bagaimana cara bersosialisasi dan mengelola emosinya. Yang paling terdampak tentu saja adalah anak-anak usia 3–6 tahun. Usia ini adalah masa di mana anak sedang belajar membentuk karakter dan keterampilan sosial.
Tanpa adanya arahan dan perhatian yang cukup dari orang tua, mereka akan cenderung membentuk karakter dari lingkungan luar. Antara lain tontonan YouTube, teman sebaya, atau pengasuhan dari orang-orang sekitar yang belum tentu tepat. Bahkan, bukan hanya anak yang terdampak, orang tua pun sering merasa kewalahan dan bingung menghadapi anak yang keras dan sulit diatur.
Jika dahulu hal seperti ini bukan hanya terjadi di kota besar, maka kini juga menjalar sampai di lingkungan pedesaan. Di desa-desa, anak-anak usia 4 – 6 tahun sudah mahir bermain gadget sendiri, lebih cenderung suka memerintah daripada mendengarkan, dan membentak saat tidak puas. Di lingkungan masyarakat sekitar, sudah tidak asing jika kita mendengar cerita tentang anak yang lebih galak dari orang tuanya.
Dampak dari kurangnya parenting bisa terlihat dari sikap anak yang berubah. Anak cenderung menjadi berkarakter keras, mudah marah, tantrum. Anak yang tidak terbiasa untuk mendengarkan arahan tentu akan terus menguji batasan. Semakin lama anak dibiarkan tanpa arahan, maka perilakunya akan semakin sulit terkendalikan. Jika tidak segera mendapatkan penanganan yang baik, kebiasaan ini akan terbawa hingga dewasa dan bisa berkembang menjadi gangguan perilaku atau emosional.
Antisipasi
Untuk mencegah dan mengatasi dampak buruk dari kurangnya parenting, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Yang utama adalah hadirnya orang tua secara utuh, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Karena itu, orang tua harus meluangkan waktu untuk bisa mendengarkan anak, bermain bersama, dan berbicara dari hati ke hati.
Bangun komunikasi yang sehat dengan anak, tidak selalu dengan memerintah atau memarahi. cukup dengan mengajak bicara secara lembut, menanyakan perasaannya, dan memberikan contoh komunikasi yang sopan kepada anak.
Terapkan disiplin secara konsisten, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan aturan yang jelas dan konsekuensi yang dapat dipahami anak.***
Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments