Bukankah sebuah kesalahan jika menyandingkan sajadah dengan lightstick dalam waktu yang bersamaan? Pertanyaan ini kerap dialami oleh Gen Z.
Layar ponsel yang menampilkan senyum sang idola kerap dianggap sebagai benteng yang sengaja dibangun.
Namun benteng ini bukan untuk melupakan Tuhan Sang Pencipta, Sang Maha Esa, melainkan sebagai cara menjaga hati dari godaan pacaran yang dilarang agama.
Menjadi seorang K-Popers kerap dipilih sebagai alasan logis bagi jiwa-jiwa introvert untuk menemukan teman dan pelarian emosi tanpa harus mengorbankan prinsip iman dan kenyamanan batin.
Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang menghujat para K-Popers. Tangisan bahagia karena kabar idola yang diperoleh melalui ponsel sering dipandang sinis.
Stigma seperti “orang gila”, “buang-buang waktu”, “buang-buang uang”, “hal percuma”, hingga “lupa Tuhan” bukanlah hal asing di era digital ini.
Anehnya, tidak banyak yang mau mendengar alasan di balik pilihan mereka menjadi K-Popers.
Sejatinya, banyak dari mereka justru takut kepada Tuhan dan berusaha menjaga keimanannya, sambil tetap berjalan sesuai fitrah manusia: mencintai lawan jenis, menghindari pacaran, namun tetap ingin merasa dicintai dan dimengerti.
Keinginan untuk dicintai adalah sesuatu yang wajar, terutama bagi Gen Z. Namun di saat yang sama, perintah Allah untuk menjaga diri dari hubungan yang tidak halal sering kali menahan mereka dari pacaran.
Di tengah tarik-menarik itu, sebagian memilih K-Pop sebagai pelarian yang aman. Bagi mereka yang ingin taat kepada Tuhan namun tetap memiliki ruang menyalurkan rasa, K-Pop dipilih karena kasih sayangnya bersifat satu arah.
Sang idola bahkan tidak mengenal mereka. Cinta itu tidak terbalas, tetapi lagu-lagu yang relevan dengan kehidupan sering kali mampu menembus hati.
Mendukung idola dari kejauhan tanpa saling mengenal dianggap lebih aman daripada mendukung seseorang di dunia nyata yang berpotensi melibatkan perasaan, kedekatan fisik, dan pada akhirnya membuka pintu menuju zina, sesuatu yang jelas melanggar syariat. Bagi mereka, ini adalah bentuk ikhtiar menjaga diri.
Bagi kaum introvert, menjadi K-Popers juga dipengaruhi oleh minimnya interaksi sosial dan rasa takut kepada Tuhan.
Mereka lebih memilih tinggal di kamar daripada berkecimpung dalam dunia luar yang terasa bising dan melelahkan.
Konten K-Pop menjadi teman yang tidak menghakimi—menyajikan suka dan duka sebagaimana kehidupan, tetapi tanpa tekanan sekeras dunia nyata.
Kata-kata motivasi dari para idola kerap memberi dukungan emosional tanpa menuntut energi besar sebagaimana hubungan pacaran.
Kebanyakan Gen Z memilih K-Pop sebagai penghibur di tengah dunia yang riuh dan penuh drama.
K-Pop berada pada posisi hiburan, bukan tujuan hidup. Bahkan, stigma “gila karena K-Pop” sering mereka balik menjadi “K-Pop menyelamatkan kami dari kegilaan hidup”. Bagi mereka, stigma kedua justru terasa lebih jujur.
K-Pop memang bisa menjadi haram jika menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Namun pada kenyataannya, bagi banyak Gen Z, K-Pop hanyalah hiburan, bukan pusat kehidupan.
Mereka hanya membutuhkan jeda dari kerasnya drama hidup. K-Pop menjadi pelarian aman di kamar, dibandingkan terjerumus dalam maksiat di luar rumah.
Idola mereka hanyalah “vitamin” bagi rasa lelah, sementara iman adalah makanan pokok, dan Allah SWT tetap menjadi tujuan utama hidup.
Peran K-Pop sebagai hiburan tidak pernah menggantikan peran Allah di hati mereka. Ketika takut, mereka mengingat Allah. Ketika bermasalah, mereka bersandar kepada Allah.
Keduanya tidak saling menggantikan, tetapi berjalan di jalurnya masing-masing. Maka muncul ungkapan di kalangan K-Popers: Tuhan adalah segalanya, sedangkan bias hanyalah hiburan semata.
Menjadi K-Popers adalah cara agar kami bisa bertahan hidup dan tetap merasa dicintai, meski hanya di dunia maya. Ini adalah ikhtiar untuk menghindari dosa yang lebih besar, seperti pacaran.
Kami ingin bahagia, nyaman, dan tetap menjaga batasan agama. Menyibukkan diri dengan dunia idola—yang lagunya sering kali relevan dengan realitas hidup—dirasa lebih aman daripada mencari perhatian dalam hubungan yang berisiko melanggar batas.
Lantas, mengapa hal ini dianggap kesalahan jika Allah tetap menjadi prioritas utama dan idola hanya sekadar hiburan? Nyatanya, banyak yang terselamatkan dari putus asa hidup justru karena menjadi K-Popers.
Jika hobi ini membuat seseorang lebih positif, lebih menjaga diri, dan lebih taat, mengapa harus dicela?
Mari saling menghargai cara orang lain menemukan kebahagiaan. Dan bagi para K-Popers, tetaplah bersikap sewajarnya: menyukai bias tanpa berlebihan, menjaga niat untuk menjauhi zina, dan tidak menjauh dari ketaatan.
Karena pada akhirnya, hiburan boleh datang dan pergi, tetapi Allah tetap satu-satunya tujuan hidup yang hakiki.
Para K-popers, terutama kaum perempuan, mari kita melihat konten bias yang menutup aurat bila bias kita adalah pria.
Dan bagi K-poppers pria lebih baik ngebiasin sesama jenis saja,karena gril group K-pop insya Allah belum ada yang bisa menutup aurat secara sempurna. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments