
PWMU.CO – Malam puncak Multi-Faith Eco-Literacy Camp yang digelar di Lor Sambi Eco-Park Sleman menjadi panggung refleksi dan perlawanan melalui seni (15/02/2025).
Dalam balutan cahaya temaram dan udara malam Sleman yang sejuk, panggung Apresiasi Seni dan Sastra menjadi wadah bagi para peserta Eco-Literacy Camp yang diadakan oleh para aktivis lingkungan Rumah Baca Komunitas untuk menumpahkan keresahan dan harapan mereka terhadap masa depan bumi yang kian terancam.
Setelah seharian penuh menyelami esensi eco-journalism bersama Bambang, dan memahami perlindungan alam dalam perspektif lintas iman, kini saatnya suara mereka menggema dalam bentuk puisi, orasi, dan musikalisasi.
Labib membuka malam itu dengan lantunan Kalam Ilahi, seruan agung yang mengingatkan manusia untuk tidak lagi merusak keseimbangan alam. Suasana semakin larut dalam emosi ketika Simin membawakan musikalisasi puisi Mimpi, seakan membisikkan pesan lirih dari bumi yang kian letih.
Tak kalah menggugah, David Effendi menghadirkan orasi kesadaran yang dibalut dengan alunan musik Bangun Orang Waras!, sebuah panggilan untuk mereka yang masih terlelap dalam ketidakpedulian.
Malam itu, seni menjadi suara bagi hutan-hutan yang digunduli, sungai-sungai yang diracuni limbah industri, dan udara yang kian berat oleh polusi. Refleksi itu semakin tajam ketika para peserta mengangkat isu-isu lingkungan yang kian memburuk.

Krisis hutan yang kian parah akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan dengan dalih food estate, yang justru menggusur masyarakat adat dan mempercepat kepunahan flora-fauna endemik.
Ekspansi perkebunan sawit besar-besaran yang merampas ratusan hektar hutan, menyebabkan kebakaran lahan yang mencemari udara dan memperburuk krisis iklim.
Pencemaran sungai dan laut, dari limbah industri hingga sampah plastik yang membunuh kehidupan bawah air, menciptakan zona mati di banyak perairan Indonesia.
Fenomena urbanisasi yang tidak ramah lingkungan, di mana pembangunan gedung pencakar langit dan infrastruktur beton terus menggusur ruang hijau, menghilangkan paru-paru kota yang sangat dibutuhkan.
Krisis air bersih, yang semakin nyata akibat eksploitasi sumber daya air oleh korporasi besar, meninggalkan masyarakat kecil dalam kekeringan.
Kolaborasi seni ini bukan sekadar hiburan, melainkan manifestasi kegelisahan terhadap realitas pahit yang dihadapi alam. Di bawah langit malam yang menjadi saksi, seni berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata.
Malam itu, seni bukan hanya ekspresi, tetapi juga perlawanan—sebuah panggilan bagi kita semua untuk bergerak sebelum segalanya terlambat.(*)
Penulis Abdullah Azzam Ati’illah Editor Zahrah Khairani Karim






0 Tanggapan
Empty Comments