Mengajak siswa untuk belajar langsung ke pasar tradisional menjadi salah satu kegiatan menarik di Kelompok Bermain (KB) Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 38 Kota Baru Driyorejo, Gresik.
Tidak hanya memperkenalkan suasana pasar tradisional, berbagai macam sayuran, buah-buahan, dan ikan juga dikenalkan. Siswa diajak untuk berbelanja sayuran yang kemudian dibawa pulang.
Berlokasi di Jalan Raya Phirus Biru 12D Blok AJ nomor 43 Kota Baru Driyorejo, siswa KB ABA 38 bersiap di halaman sekolah dengan mengenakan seragam batik kuning jingga.
“Siswa hari ini akan melakukan pembelajaran ke pasar tradisional yang kebetulan lokasinya dekat dengan sekolah. Banyak hal yang akan kami kenalkan kepada siswa,” kata Mukhlissotul Cholidiah, S.IP., Kepala Sekolah KB ABA 38 Kota Baru Driyorejo.
Sebanyak 58 siswa mengikuti kegiatan ini dengan didampingi empat guru. Mereka dibagi menjadi empat kelompok dan diberangkatkan dalam dua sesi. Sesi pertama pukul 07.00–09.00 WIB, dan sesi kedua pukul 09.30–11.30 WIB.
Senin (13/10/2025) dijadwalkan keberangkatan untuk Kelompok Nuh pada sesi pertama dan Kelompok Ibrahim pada sesi kedua. Keesokan harinya, Selasa (14/10/2025), Kelompok Ibrahim berangkat pada sesi pertama, disusul Kelompok Musa pada sesi selanjutnya.
Kegiatan outing class ini dilaksanakan di Pasar Tradisional Sentra Bisnis Driyorejo (SBD) yang berlokasi di Jalan Raya Batu Mulia nomor 12D Kota Baru Driyorejo. Siswa tampak antusias mengikuti pembelajaran di luar kelas.
“Hore, belanja ke pasar!” sahut Kanaya Putri Amarta, salah satu siswi KB Kelompok Ibrahim.
Lisa, sapaan akrab Mukhlissotul Cholidiah, S.IP., terlebih dahulu menjelaskan kepada siswa tentang berbagai jenis pasar yang ada di Indonesia.
“Ada pasar tradisional dan pasar modern. Keduanya memiliki perbedaan, termasuk dalam barang yang dijual,” ujarnya.
“Di mana pun pasti ada bahaya, namun sebisa mungkin kita harus mengantisipasi, termasuk saat berada di pasar,” imbuhnya.
Renata Nurmawati S.Pd salah satu guru KB ABA 38, melakukan pemeriksaan kepada siswa terkait uang yang dibawa untuk belajar membeli dan berinteraksi dengan penjual.
“Uang yang dibawa berasal dari orang tua masing-masing dan cukup untuk membeli sayuran di pasar. Uang tersebut diletakkan di dalam saku baju setiap siswa,” paparnya.
Berjarak sekitar 600 meter dari sekolah, para siswa berjalan kaki menuju pasar dengan barisan rapi sambil bergandengan tangan. Indah Ayu Ratih A.Md.K.K salah satu guru pendamping, berpesan kepada siswa agar menyapa orang yang ditemui selama perjalanan.
“Mari, Pak,” ucap Indah sambil memberi contoh untuk selalu tersenyum ramah.
Riuh suara siswa setibanya di dalam pasar sontak memecah suasana ramai. Sambutan hangat dari para pedagang pun terdengar bersahutan.
“Ayo, silakan mau beli apa?” ucap Rukmini, salah satu penjual sayuran.
Sambil tersenyum, Kanaya tampak memilih sayuran dengan penuh semangat.
“Aku beli sayur bayam supaya sehat,” celoteh Kanaya Putri Amarta.
“Kegiatan ini memberikan pengalaman nyata untuk mengenal lingkungan sekitar serta meningkatkan keterampilan sosial, kognitif, karakter, dan budaya lokal,” pungkas Mukhlissotul Cholidiah, S.IP.






0 Tanggapan
Empty Comments