Desa Latukan, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan menyimpan sejarah penting dalam perjalanan dakwah Islam di wilayah tersebut, khususnya melalui berdirinya organisasi Muhammadiyah serta Masjid Nurul Huda. Jejak sejarah ini bermula pada dekade 1960-an, ketika sejumlah tokoh masyarakat memiliki kepedulian besar terhadap pengembangan pendidikan dan syiar Islam di desa tersebut.
Gagasan awal berdirinya Muhammadiyah di Desa Latukan muncul sekitar tahun 1960. Tokoh yang pertama kali menggagasnya adalah almarhum Nur Tadho, yang saat itu menjabat sebagai Kepala MI Islamiyah. Ia memiliki semangat kuat untuk mengembangkan dakwah Islam yang lebih terorganisir serta meningkatkan kualitas pendidikan agama bagi masyarakat.
Dalam mewujudkan gagasan tersebut, Nur Tadho tidak berjalan sendiri. Ia mendapatkan dukungan dari beberapa tokoh lain, di antaranya Kusnan Yasin dari Karanggeneng serta Muziyasirot yang berasal dari Magelang, Jawa Tengah. Dengan semangat kebersamaan, mereka mulai memperkenalkan berbagai kegiatan keagamaan yang berlandaskan nilai-nilai Muhammadiyah kepada masyarakat Desa Latukan.
Setelah melalui proses panjang serta berbagai upaya dakwah, Muhammadiyah akhirnya resmi berdiri di Desa Latukan pada tahun 1964. Peresmian tersebut dipelopori oleh beberapa tokoh penting, yaitu Muhammad Bissri, seorang guru agama negeri di SDN yang berasal dari Solo, kemudian M. Dimyati yang merupakan guru MI Latukan, serta Jaelan yang saat itu menjabat sebagai pamong Desa Latukan.
Berdirinya Muhammadiyah di desa ini menjadi titik awal berkembangnya berbagai kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam. Sebagai pusat ibadah dan dakwah, pada tahun 1967 didirikan sebuah masjid yang diberi nama Masjid Nurul Huda. Sejak saat itu, masjid tersebut menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat, mulai dari shalat berjamaah, pengajian, hingga berbagai kegiatan dakwah lainnya.
Seiring berjalannya waktu, Muhammadiyah di Desa Latukan juga mengembangkan berbagai amal usaha untuk mendukung pembinaan umat, khususnya di bidang pendidikan. Beberapa di antaranya adalah pendirian madrasah serta Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) sebagai sarana pembelajaran agama bagi anak-anak.
Selain itu, berbagai kegiatan keagamaan rutin terus dijalankan, seperti pengajian tingkat cabang yang dilaksanakan setiap bulan, pengajian tingkat ranting yang juga diadakan secara berkala, program Jumat Berkah yang dilaksanakan setiap pekan, serta pengajian Aisyiyah yang digelar secara bergilir dari rumah ke rumah setiap bulan.
Dalam mendukung keberlangsungan kegiatan ibadah dan sosial tersebut, masyarakat turut memberikan kontribusi melalui wakaf tanah. Tercatat terdapat tanah wakaf untuk lahan pertanian seluas kurang lebih 200 ru atau sekitar seperempat hektare. Selain itu, terdapat pula tanah wakaf untuk pembangunan masjid seluas sekitar 800 meter persegi serta lahan untuk madrasah seluas kurang lebih 900 meter persegi.
Semangat kebersamaan dan pengorbanan para tokoh terdahulu menjadi fondasi kuat bagi perkembangan Muhammadiyah di Desa Latukan hingga saat ini. Sejarah ini menjadi bukti bahwa perjuangan para pendahulu dalam menegakkan syiar Islam tidak hanya melahirkan lembaga keagamaan, tetapi juga membangun tradisi dakwah, pendidikan, dan kepedulian sosial yang terus memberi manfaat bagi masyarakat.
Warisan perjuangan tersebut kini menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus melanjutkan dakwah Islam serta menjaga nilai-nilai kebersamaan yang telah ditanamkan oleh para pendiri Muhammadiyah di Desa Latukan.
Tulisan ini, tugas dari peserta PDL Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan

(Istimewa/PWMU.CO)






0 Tanggapan
Empty Comments