Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bahaya Namimah di Bulan Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Bahaya Namimah di Bulan Ramadan
Ketua PPDM Sidoarjo Ahmad Al Farizi saat memberikan Kultum di Masjid Al-Mahdi Perumtas 3 Grabagan. Foto: Sumardani/PWMU.CO
pwmu.co -

Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum membersihkan diri, termasuk dari dosa-dosa lisan yang kerap dianggap remeh.

Pesan itulah yang mengemuka dalam rangkaian salat isya dan tarawih disertai kultum yang digelar Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Grabagan bersama Takmir Masjid Almahdi Perumtas 3 Grabagan, Tulangan, Sidoarjo, Selasa (24/2/2026).

Bertindak sebagai imam sekaligus penceramah, Ustaz Ahmad Al Farizi, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Sidoarjo, mengangkat tema yang substantif dan relevan: bahaya namimah atau adu domba.

Di hadapan jamaah yang memenuhi Masjid Almahdi, Al Farizi memulai tausiyahnya dengan ajakan untuk memperbanyak rasa syukur.

Menurutnya, nikmat Allah SWT tidak terhitung jumlahnya, dan salah satu nikmat terbesar malam itu adalah masih diberi kesempatan bertemu Ramadan.

“Jika nikmat Allah dihitung satu per satu, kita tidak akan mampu menghitungnya. Nikmat yang sangat berharga pada malam ini adalah kita masih diberi umur untuk kembali bertemu bulan suci Ramadan,” ujarnya.

Al Farizi mengingatkan, Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi kesempatan emas memperbaiki kualitas diri. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadar.

“Dengan sisa umur yang dimiliki, kita harus memanfaatkan momentum suci ini secara maksimal,” tegasnya.

Namun, dia menekankan bahwa amaliah Ramadan bisa rusak jika tidak dijaga dengan baik. Salah satu perusaknya adalah namimah, yakni perilaku menyebarkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan memecah belah.

Mengutip Surah Al-Ahzab ayat 70, ia membacakan firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”

Menurutnya, ayat tersebut menjadi perintah tegas agar umat Islam menjaga lisan.

“Allah memerintahkan kita untuk berkata baik dan benar. Maka jagalah lisan agar amaliah kita terhindar dari namimah,” tegasnya.

Dalam penjelasannya, Al Farizi menyebut namimah sebagai perbuatan tercela yang berakar dari lisan yang tidak terkontrol.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Adu domba sering kali berawal dari ucapan yang tampak sederhana, namun berujung pada rusaknya persaudaraan.

“Jika lisan kita baik, akan timbul perbuatan yang baik pula. Sebaliknya, jika lisan tidak dijaga, dampaknya bisa merusak hubungan bahkan menghancurkan kepercayaan,” jelasnya.

Dia menegaskan, menjaga lisan merupakan bagian dari ketakwaan. Apalagi di bulan Ramadan, ketika pahala dilipatgandakan sekaligus dosa pun bisa menggerus nilai ibadah yang sedang dibangun.

Untuk memperkuat pesannya, Al Farizi mengutip hadis sahih tentang Rasulullah saw yang pernah melewati dua kuburan dan mendengar penghuninya sedang disiksa.

Ketika para sahabat bertanya, Nabi menjelaskan bahwa keduanya disiksa bukan karena dosa besar menurut pandangan manusia, tetapi karena kelalaian yang dianggap sepele.

Pertama, karena tidak bersuci dengan benar setelah buang air kecil. Kedua, karena kebiasaan mengadu domba atau melakukan namimah.

“Ini menunjukkan bahwa namimah bukan perkara ringan. Ia bisa menjadi sebab siksa kubur,” ujarnya di hadapan jamaah.

Menutup kultumnya, Al Farizi berharap jamaah Masjid Almahdi mampu menjaga lisan selama menjalankan ibadah puasa.

Dia menekankan bahwa predikat takwa bukan hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan ucapan.

“Semoga kita termasuk orang-orang yang bertakwa. Allah menjaga kita dari perbuatan yang merusak puasa, termasuk namimah,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu