Tanpa Utang Bank, Raup Miliaran dari Bisnis Kue Kering (Bagian 4)
Dari dapur sederhana di gang sempit Ketandan, Diah Arfianti membuktikan bahwa kesungguhan, strategi, dan keyakinan kepada Sang Khalik bisa membawa usaha kecil menjelma besar. Tanpa utang bank, tanpa jalan pintas. Hanya ikhtiar yang dirawat dan tawakal yang dijaga.
Ada kalanya pendapatan dari bisnis kue kering naik. Kadang turun. Tak jarang stagnan. Grafik usaha memang tak pernah lurus seperti penggaris. Tapi bagi Diah Arfianti, yang harus dijaga bukan sekadar angka, melainkan kerja keras dan semangatnya.
Ia belajar berdamai dengan fluktuasi. Menjauhkan diri dari putus asa. Memupuk sabar seperti merawat adonan: harus telaten, tak bisa tergesa.

Gabung Pahlawan Ekonomi
Tahun 2012 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanannya. Seorang tetangga mengajaknya bergabung dengan program Pahlawan Ekonomi, program pemberdayaan keluarga yang difasilitasi Pemerintah Kota Surabaya sejak 2010. S
Saat itu, Diah belum banyak tahu tentang program tersebut. Namun ia tahu satu hal: ia ingin belajar.
Ajakan itu ia sambut tanpa ragu. “Saya tahunya ada program Pahlawan Ekonomi. Program itu untuk mewadahi dan membekali keterampilan pelaku UMKM di Surabaya,” ucap alumnus SMK Satya Widya Surabaya jurusan perhotelan itu.
Perkiraannya tak meleset. Di sana, Diah seperti menemukan ruang tumbuh. Ia tak hanya belajar membuat produk yang enak, tetapi juga memahami cara menjualnya dengan benar.
Internet marketing, inklusi keuangan, instrumen investasi, marketing and packaging, e-commerce—ia ikuti satu per satu. Gratis. Tapi ilmunya mahal.
Salah satu pelatihan yang paling membekas adalah digital marketing bersama tutor dari Facebook. Di situ ia pertama kali mengenal empat pertanyaan sederhana namun mengubah cara berpikirnya: Apa cerita Anda? Apa tujuan bisnis Anda? Siapa target pasar Anda? Apa keunikan produk Anda (unique selling point)?
Empat pertanyaan itu seperti kompas baru. Ketika ia mulai mempraktikkannya, hasilnya membuatnya terkejut. Produk yang diposting di Facebook langsung mendapat respons.
Pesanan berdatangan. Untuk wilayah Surabaya, ia dan suaminya mengantar sendiri. Untuk luar kota, ia kirim lewat jasa ekspedisi.

Mengunggah Cerita
Namun Diah tak sekadar mengunggah foto kue. Ia mengunggah cerita. Mengunggah bukti. Struk transfer. Foto saat serah terima. Testimoni pembeli. Bahkan momen pengiriman.
Awalnya ia canggung. Takut dicap pamer. Takut dianggap sombong.
“Tapi saya diberi tahu, itu bukan pamer. Itu membangun kepercayaan. Supaya orang yakin ini benar-benar ada,” katanya.
Ia pun mantap melangkah. Dan hasilnya nyata. Tujuh agen pada Lebaran 2017 lahir dari kepercayaan yang dibangun pelan-pelan itu.
Setiap ada transaksi, ia unggah. Setiap ada pembeli puas, ia abadikan. Tanpa disadari, ia sedang membangun persepsi: bahwa kue kering tak harus menunggu Lebaran untuk laris.
“Setiap hari ada saja yang pesan. Saya unggah fotonya. Biar orang tahu kue kering bisa laku tiap hari,” ujarnya sambil tersipu.
Sebelum memiliki kurir, Diah dan Rofik mengantar pesanan dengan sepeda motor. Ongkos kirim Rp 15–20 ribu. Minimal beli dua stoples, langsung diantar jika stok tersedia. Mereka menembus panas dan hujan, mengantar harapan dari rumah ke rumah.
Teknologi benar-benar mengubah arah usahanya. Jika dulu penjualan konvensional mendominasi, kini sekitar 70 persen produknya terjual lewat online—terutama Facebook dan Instagram.

Tembus Pasar Mancanegara
Diah Cookies pun tumbuh. Variannya makin banyak. Pelanggannya meluas hingga Jakarta, Bandung, dan Bali. Sesekali turis asing datang ke rumahnya untuk membeli langsung. Dari gang sempit di Ketandan, aromanya menjalar ke banyak kota.
Bahkan, kue-kue Diah Cookies turut menembus pasar mancanegara, dibawa oleh diaspora Indonesia ke berbagai penjuru dunia.
Perkembangannya tak luput dari pantauan mentor dan komite Pahlawan Ekonomi. Kerja kerasnya mendapat pengakuan. Diah Cookies dinobatkan sebagai Juara Pertama Kategori Home Industry dalam Pahlawan Ekonomi Award 2016.
Bagi Diah, penghargaan itu bukan sekadar trofi. Itu penegasan bahwa jalan yang ia pilih—jalan sabar, jalan belajar, jalan konsisten—adalah jalan yang benar.
Dan seperti adonan yang terus mengembang, keyakinannya pun tumbuh: selama mau bekerja keras dan terus belajar, dapur kecil itu akan selalu punya masa depan.
Pada akhirnya, dapur kecil itu bukan hanya tempat memanggang kue. Ia menjadi saksi jatuh-bangun, air mata yang ditahan, dan doa-doa yang lirih.
Dari sana Diah belajar bahwa rezeki bukan semata hasil hitungan matematika, melainkan buah dari kesungguhan yang dijaga terus-menerus.
Ada hari-hari sepi, ada hari-hari panen pesanan. Tetapi selama tangan tetap bekerja dan hati tetap percaya, selalu ada jalan yang terbuka. (habis)






0 Tanggapan
Empty Comments