Di era digital, reputasi sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh pemberitaan media konvensional, tetapi juga oleh bagaimana organisasi tersebut hadir di media sosial.
Dua pakar komunikasi, Aswad Ishak dan M. Najih Farihanto, menegaskan bahwa reputasi positif tidak datang secara instan, melainkan hasil dari strategi yang dirancang dengan matang.
“Aspek pertama yang harus dilakukan organisasi adalah menganalisis situasi dan menentukan tujuan. Misalnya, apakah ingin dikenal sebagai pejuang pendidikan, pelopor inovasi, atau lembaga yang inklusif,” ujar Aswad saat memaparkan materinya dalam Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi Zona II di Narita Hotel, Tangerang, Sabtu (30/8/2025).
Setelah tujuan jelas, imbuh dia, organisasi perlu menyiapkan peta konten yang sesuai dengan target audiens.
Aswad mencontohkan, bila organisasi ingin menonjolkan nilai perjuangan, maka pendekatan storytelling dengan alur Hero’s Journey bisa menjadi pilihan.
“Mulailah dengan menceritakan tantangan, lalu perjuangan, hingga akhirnya keberhasilan. Cerita yang kuat akan lebih menyentuh audiens dibanding sekadar informasi kaku,” jelasnya.
Sementara itu, M. Najih Farihanto menekankan pentingnya konsistensi dan keaslian dalam setiap konten.
“Konten otentik dan konsisten akan memperkuat brand positioning. Jika ditambah elemen visual yang menarik, tagar khusus, serta ajakan partisipasi audiens, reputasi positif akan lebih cepat terbentuk,” katanya.
Keduanya juga menjelaskan bahwa strategi membangun reputasi digital bisa dibagi ke dalam beberapa tahapan yang disesuaikan dengan perjalanan audiens:
- Awareness (menarik perhatian): video singkat, poster, meme, reels.
- Consideration (edukasi dan nilai tambah): artikel, testimoni, infografik.
- Conversion (ajakan bertindak): promo, diskon, call-to-action yang kuat.
- Loyalty (menjaga hubungan): konten eksklusif, behind the scenes, dan user generated content (UGC).
“Kalau kita ingin membangun loyalitas, jangan hanya memberi informasi satu arah. Libatkan audiens dalam konten, biarkan mereka merasa menjadi bagian dari cerita organisasi,” ujar Najih.
Lebih lanjut, Aswad dan Najih merinci tahapan teknis yang perlu ditempuh organisasi, mulai dari analisis situasi, identifikasi target audiens, pemetaan konten, pemilihan kanal distribusi, hingga penyusunan kalender konten.
“Produksi konten hanyalah sebagian dari proses. Yang lebih penting adalah bagaimana konten itu didistribusikan, dipromosikan, lalu dievaluasi efektivitasnya,” kata Aswad.
Evaluasi, menurutnya, sangat krusial agar organisasi tahu strategi mana yang berhasil dan mana yang harus diperbaiki.
“Tanpa evaluasi, organisasi hanya akan mengulang pola yang sama tanpa tahu apakah berdampak atau tidak,” tambahnya.
Keduanya juga menekankan bahwa reputasi digital yang kuat tidak hanya terlihat dari jumlah likes atau komentar di media sosial, tetapi dari bagaimana organisasi dipersepsikan oleh publik luas dan media massa.
“Indikator keberhasilan bisa dilihat dari peningkatan pemberitaan positif dengan tonalitas yang baik, media menjadikan organisasi sebagai narasumber tepercaya, dan adanya hubungan dua arah dengan media,” jelas Najih.
Aswad menambahkan, “Kalau media mulai menghubungi kita untuk dimintai pendapat tanpa harus beriklan, itu artinya reputasi organisasi sudah kuat.”
Bagi organisasi modern, membangun reputasi digital bukan sekadar hadir di media sosial, tetapi bagaimana menghadirkan cerita yang kuat, konsisten, dan bernilai. Dengan strategi tepat, reputasi positif akan tumbuh dan melekat di benak publik secara berkelanjutan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments