Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah perundingan mengenai program nuklir Iran yang digelar di Jenewa, Swiss, pada Jumat (27/2/2026), antara Iran dan Amerika Serikat berakhir tanpa kesepakatan. Kebuntuan diplomatik tersebut segera diikuti eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Pada Sabtu (28/2/2026) pagi, Israel melancarkan serangan ke Teheran, ibu kota Iran. Target serangan disebutkan mengarah langsung ke kediaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan itu dilaporkan menewaskan Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989.
Kematian Khamenei memicu respons keras dari Teheran. Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk yang berada di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Situasi ini semakin memperburuk stabilitas regional dan menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan dukungannya atas serangan tersebut. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut operasi itu sebagai serangan yang “hebat” dan mengumumkan kematian Khamenei. Ia menulis bahwa pemimpin Iran tersebut tidak mampu menghindari sistem intelijen dan pelacakan Amerika Serikat yang disebutnya sangat canggih, serta menegaskan adanya kerja sama erat dengan Israel dalam operasi tersebut.
Pernyataan itu menuai sorotan, mengingat Trump juga menjabat sebagai Chairman Board of Peace (BoP), lembaga perdamaian yang baru dibentuk dan mendapat mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendukung upaya perdamaian di Gaza, Palestina. Trump diketahui sebagai penggagas lembaga tersebut.
Pasca serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, muncul desakan agar pemerintah Indonesia meninjau kembali rencana bergabung dalam Board of Peace. Kritik tajam datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI, Sudarnoto Abdul Hakim, menyatakan bahwa Board of Peace telah kehilangan legitimasi moralnya. Ia menilai serangan terhadap Iran menunjukkan bahwa Trump, baik sebagai Presiden Amerika Serikat maupun sebagai Chairman BoP, tidak mencerminkan komitmen terhadap perdamaian.
Menurut Sudarnoto, tindakan tersebut justru memperlihatkan sikap yang bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang seharusnya diemban oleh lembaga tersebut. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments