MI Muhammadiyah 1 Pare Kediri mengikuti mini seminar Manajemen Pendidikan Inklusif yang diselenggarakan di MI Muhammadiyah 2 Badas, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (29/4/2026). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai forum pembahasan manajemen pendidikan inklusif bagi tenaga pendidik madrasah.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM) dalam rangka mendukung terwujudnya sekolah inklusif serta penguatan asesmen kebutuhan dalam penelitian pendidikan.
Sebanyak sembilan guru MI Muhammadiyah 1 Pare (Mimsapa) Kediri mengikuti kegiatan ini. Mereka terdiri atas empat wali kelas, yakni Hidayatul Farida, S.Sos., Siti Khoirul Bariyah, S.Ag., Efendi, S.Pd., dan Rofi’ Zuliana, M.Pd. Selain itu, turut hadir Koordinator Inklusi Ardhya Wira Santi, S.Pd., bersama empat guru pendamping khusus (GPK), yaitu Afriel Mutiara Maharani, S.Pd., Syahna Agustirani R., S.Psi., Yuli Tryal Zahwa, S.Pd., dan Nezard Grenida Qonita Izuma.
Rombongan tiba di lokasi kegiatan pada pukul 09.00 WIB. Seminar dilaksanakan di Laboratorium Komputer MI Muhammadiyah 2 Badas (Mimda) Kediri.
Materi seminar disampaikan oleh Kepala Pusat Pendidikan Universitas Negeri Malang, Ediyanto, M.Pd., Ph.D., dengan topik The Development of AI-Based STEAM Teaching Modules to Improve Hearing-Impaired Students’ Numeracy Skills.

Dalam sesi diskusi, Wali Kelas 2A MI Muhammadiyah 1 Pare, Siti Khoirul Bariyah, S.Ag., menyampaikan pandangannya mengenai pendidikan inklusif.
“Pendidikan inklusif tidak hanya diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi merupakan sistem pembelajaran yang dirancang secara menyeluruh agar dapat mengakomodasi seluruh peserta didik,” ujarnya.
Koordinator Inklusi Mimsapa, Ardhya Wira Santi, S.Pd., juga turut menambahkan pandangannya. Bagi Ardhya, pendidikan inklusif bertujuan menghadirkan layanan pendidikan yang setara bagi seluruh peserta didik.
“Pendidikan inklusif merupakan upaya memberikan pendidikan yang setara untuk semua anak, memberikan pelayanan dan pendampingan yang terbaik sesuai kebutuhan ABK dan menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua anak,” tuturnya.
Melalui keikutsertaan dalam seminar ini, para guru diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai implementasi pendidikan inklusif, sehingga dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di madrasah sesuai kebutuhan peserta didik. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments