Dialog antaragama di Surabaya kembali digelar. Mengusung tema kitab suci dan amal sosial lintas iman. Namun di balik forum yang tampak harmonis ini, muncul pertanyaan mendasar. Apakah pelayanan sosial lintas agama benar-benar murni kemanusiaan tanpa agenda tersembunyi? Atau sekadar idealitas yang sulit diuji di lapangan?
Pada Selasa (28/4/2026), Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar dialog. Bertajuk “Kitab Suci dan Amal Sosial: Teologi Pelayanan dalam Perspektif Lintas Iman”. Forum ini mempertemukan unsur Muhammadiyah, PGI Jawa Timur, serta Katolik dari Katedral Surabaya dalam satu ruang diskusi yang mencoba mempertemukan teks suci dengan realitas sosial.
Secara normatif, semua pihak sepakat bahwa agama mendorong pelayanan sosial. Namun, dinamika diskusi menunjukkan bahwa implementasi nilai tersebut tidak sesederhana konsepnya.
Nilai Muhammadiyah: Antara Idealisme dan Ujian Praktik
Wakil Ketua PWM Jawa Timur, DR Muhammad Sholihin, menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki fondasi nilai yang kuat dalam menjalankan amal sosial.
Ia menyebut empat nilai utama. Pertama, kolektivitas dan kerukunan, sebagai jalan menuju kebahagiaan dunia-akhirat. Kedua, humanitas. Yakni merawat kemanusiaan global tanpa sekat.
Ketiga, moralitas ang menuntut ketulusan dan kejujuran total. Keempat, profesionalitas melalui pendekatan manajemen modern. Terutama pendekatan POAC, yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling.
“Jangankan tidak benar, tidak ikhlas saja tidak boleh. Bahkan ketidakjujuran sekecil apapun akan terlihat,” tegasnya.
Ia juga menambahkan prinsip kerja Muhammadiyah. Yakni fokus, cepat, berjuang, fleksibel, dan tetap gembira dalam kebersamaan.
Pernyataan ini menegaskan bahwa secara ideologis, Muhammadiyah menempatkan amal sosial sebagai bagian dari ibadah yang tidak boleh tercemar kepentingan lain.
Trilogi Islam dan Arah Dakwah Sosial
Ketua LDK PWM Jatim, Ahmad Tholhah, memperkuat landasan teologis melalui konsep trilogi Islam: iman, Islam, dan ihsan. Iman sebagai fondasi spiritual dan pemurnian akidah.
Islam sebagai sistem aturan yang melahirkan Islam berkemajuan. Sementara ihsan sebagai puncak, yaitu aksi nyata dalam pelayanan sosial. Menurutnya, teologi Al-Ma’un menjadi basis utama gerakan sosial Muhammadiyah.
“Ihsan itu output. Goal-nya aksi nyata pelayanan kepada manusia, lingkungan, dan kemanusiaan secara luas,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak berhenti pada konsep. Tetapi diwujudkan dalam jaringan nyata: rumah sakit, sekolah, panti asuhan, lembaga kebencanaan MDMC, hingga Lazismu.
Perspektif Katolik: Dari Eksklusif ke Inklusif
Perwakilan Katolik, RD Yustinus Sumantri, mengungkapkan bahwa gereja juga mengalami transformasi besar dalam memandang agama lain.
“Sebelum 1965, di luar gereja Katolik dianggap tidak ada keselamatan. Tapi sekarang berubah, ada pengakuan terhadap agama lain,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa inti ajaran Katolik adalah kasih kepada sesama manusia. Termasuk mereka yang berbeda iman dan yang paling rentan.
Pelayanan sosial diwujudkan melalui pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, dan panti jompo dengan semangat memanusiakan manusia.
Namun perubahan ini juga memunculkan dinamika internal, termasuk perdebatan otoritas ajaran dan ketaatan terhadap struktur gereja (magisterium).
PGI: Humanitas dan Tantangan Global
Sementara Ketua I PGI Jawa Timur, Pdt. Andri Purnawan, menyoroti isu kemanusiaan saat ini tidak bisa diselesaikan oleh satu agama saja. Krisis global, seperti lingkungan, energi, pangan, ekonomi sebagai tantangan bersama lintas iman.
“Kita tidak bisa hanya bicara kitab suci, tapi harus merespons realitas. Transformasi sosial itu bukan hanya pribadi, tapi sistem,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pelayanan Kristen harus hadir tanpa membawa “bendera agama”, melainkan dalam kerja sama nyata.
Forum ini menegaskan bahwa pelayanan sosial memang harus dilakukan tanpa diskriminasi dan tanpa orientasi konversi keyakinan. Namun dalam realitas masyarakat, kecurigaan terhadap “agenda tersembunyi” masih tetap ada.
Bahkan dalam diskusi, disinggung bahwa konten bernuansa konflik agama sering lebih “laris” dibanding edukasi damai. Sebuah tantangan serius bagi gerakan dialog lintas agama sebagaimana yang dilakukan oleh PW Muhammadiyah Jatim itu.
Terlepas dari berbagai tantangan yang membentang, forum ini menargetkan output berupa rekomendasi kerja sama dan penguatan jejaring lintas iman. Dialog antaragama di Surabaya ini memperlihatkan kesamaan nilai kemanusiaan lintas iman.
Di satu sisi, semua pihak berbicara tentang kasih, kemanusiaan, dan pelayanan. Di sisi lain, publik masih menunggu bukti nyata bahwa amal sosial benar-benar bebas dari kepentingan ideologis.





0 Tanggapan
Empty Comments