Di era disrupsi, pengelolaan masjid tidak lagi dapat dilakukan secara konvensional. Sebagai pusat peradaban umat, masjid dituntut memiliki tata kelola yang profesional, amanah, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Kesadaran tersebut menjadi semangat utama dalam Pelatihan Masjid Indonesia Berdaya Academy Batch 10 yang digelar di Masjid Sabilillah, tepatnya di Gedung Auditorium KH. Masjkur, pada Sabtu–Ahad (18–19 April 2026).
Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo, turut ambil bagian dengan mengirimkan Bayu Firdaus sebagai delegasi. Keikutsertaan ini menjadi langkah strategis dalam menyerap ilmu manajemen masjid modern untuk diterapkan di tingkat lokal.
Kegiatan yang dipromotori oleh Gerakan Masjid Indonesia Berdaya ini diikuti sekitar 50 peserta dari 30 masjid terpilih. Seluruh peserta telah melalui proses seleksi administrasi yang ketat.
Meski diselenggarakan di Malang, kegiatan ini memiliki jangkauan nasional. Peserta berasal dari berbagai daerah, seperti Tasikmalaya, Pontianak, hingga Bali.
Sejumlah tokoh penggerak kemasjidan dan dai nasional turut hadir memberikan materi dan motivasi, di antaranya Abdul Somad, Luqmanul Hakim, serta Muhammad bin Anies Shahab.
Dari sisi manajerial, peserta mendapatkan berbagai materi penting, mulai dari leadership kemasjidan, analisis SWOT, hingga manajemen dakwah berbasis media sosial. Selain itu, peserta juga dibekali strategi digital fundraising bersama tim Kitabisa.com, branding media sosial oleh Kang Inong (Founder Shift Media), serta program kolaborasi dari Paragon Group yang disampaikan oleh Ustaz Firdaus.
Ketua Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Ridwan Manan, menegaskan bahwa masjid harus bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan umat.
“Diharapkan dengan pelatihan ini, takmir mampu menghidupkan masjid bukan sekedar tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan umat, penggerak sosial, dan pilar peradaban. Masjid harus hidup dan menghidupkan jamaahnya, lingkungannya, dan masa depannya. Masjid yang kuat dan berdaya adalah masjid yang memiliki tata kelola yang profesional, amanah, serta mampu menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan jamaah,” pesan Ustaz Ridwan Manan.
Delegasi peserta, Bayu Firdaus, juga menyampaikan antusiasmenya selama mengikuti pelatihan.
“Saat ini saya hadir di tengah-tengah pengurus masjid dari berbagai daerah. Kami saling berdiskusi tentang problematika masjid masing-masing dan memecahkan persoalan bersama. Kami merasa tidak sendiri karena bersama pejuang masjid lainnya, kami memiliki tujuan yang sama: memakmurkan rumah Allah,” ujarnya.
“Beberapa prestasi yang telah diperoleh masjid kami di tingkat Nasional tidak membuat kami puas, melainkan kami harus selalu tumbuh dan meng Update perkembangan seputar kemasjidan” tambah Bayu yang juga merupakan pegiat dakwah digital.
Kegiatan ini memberikan pelajaran penting bahwa niat ikhlas harus berjalan beriringan dengan kecakapan manajemen. Profesionalisme dalam pengelolaan masjid bukan sekadar kebutuhan administratif, tetapi menjadi langkah strategis untuk memastikan masjid tetap relevan serta mampu menjawab tantangan umat di masa depan.





0 Tanggapan
Empty Comments