Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini mulai merambah sekolah-sekolah sering kali dipandang sebatas upaya pemenuhan gizi, pencegahan stunting, dan peningkatan konsentrasi belajar. Namun, bagi SMP Muhammadiyah 7 Surabaya—yang mengusung branding “Sekolahnya Para Pemimpin”—MBG memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Program ini bukan sekadar tentang makanan, melainkan menjadi “laboratorium karakter” yang hadir langsung di atas meja makan siswa.
Bagaimana mungkin sepiring makanan berkaitan dengan kepemimpinan? Dalam filosofi pendidikan sekolah ini, kepemimpinan bukan tentang jabatan, melainkan tentang penguasaan diri, empati, dan integritas.
Seorang pemimpin harus mampu mengelola sumber daya secara bijak. Dalam konteks sekolah, sumber daya tersebut hadir dalam bentuk sederhana: sepiring makanan.
Siswa diajarkan untuk tidak menyisakan makanan (zero waste). Menghabiskan makanan bukan sekadar soal kebersihan, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap proses, kerja keras petani, serta rasa syukur atas rezeki yang diberikan.
Pemimpin yang tidak mampu menghargai hal kecil di piringnya, akan sulit dipercaya mengelola tanggung jawab besar di masa depan.
Sekolah juga menerapkan pendekatan unik dalam mengelola makanan. Jika terdapat makanan yang tidak habis karena alasan tertentu—misalnya porsi terlalu besar—siswa diajarkan untuk tidak membuangnya.
Sejak awal, sebelum makanan tersentuh, siswa diajak menyisihkan bagian yang masih layak untuk dibagikan kepada teman atau masyarakat yang membutuhkan.
Pendekatan ini menjadi latihan empati yang konkret. Seorang pemimpin dituntut memiliki kepekaan sosial, mampu melihat kebutuhan orang lain, dan menyadari bahwa setiap nikmat yang dimiliki juga mengandung hak orang lain.
Sebelum makan dimulai, siswa mengikuti briefing dan doa bersama. Momen ini menjadi ruang penanaman nilai religiusitas, kedisiplinan, dan keteraturan.
Siswa diajak memahami bahwa ada adab sebelum makan dan tanggung jawab setelah makan. Mereka wajib merapikan kembali tempat makan serta menjaga kebersihan lingkungan.
Tidak ada pemimpin yang membiarkan orang lain membereskan kekacauan yang ia buat sendiri.
Program MBG, jika dikelola dengan narasi yang tepat, tidak hanya menghasilkan generasi yang sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental dan sosial.
SMP Muhammadiyah 7 Surabaya berupaya memastikan bahwa setiap asupan energi yang diterima siswa menjadi kekuatan untuk berpikir kritis, berempati, dan memimpin dengan hati.
Pada akhirnya, pemimpin masa depan bukan hanya mereka yang cerdas secara intelektual, tetapi juga yang mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Makan siang gratis mungkin hanya berlangsung 15 menit, tetapi nilai karakter yang ditanamkan di dalamnya diharapkan membekas seumur hidup.





0 Tanggapan
Empty Comments