Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

MBG: Mulai Buka-bukaan Gaes

Iklan Landscape Smamda
MBG: Mulai Buka-bukaan Gaes
dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes (Dosen FK Umsura)
Oleh : dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes Dosen FK Umsura

Awalnya kita mengenal MBG sebagai singkatan dari Makanan Bergizi Gratis. Sebuah program yang dirancang dengan tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.

Namun, belakangan ini netizen tampaknya mulai memberikan kepanjangan baru: Mulai Buka-bukaan Gaes.

Maha benar netizen dengan segala kreativitas sindirannya.

Mengapa istilah itu muncul?

Karena setelah satu nama diperiksa, muncul nama berikutnya. Setelah nama berikutnya diperiksa, muncul lagi nama lain. Begitu seterusnya.

Dalam matematika, gejala seperti ini mungkin bisa disebut deret aritmatika. Dalam ilmu kedokteran, orang mungkin teringat istilah metastasis. Sedangkan dalam ilmu perkorupsian—jika cabang ilmu itu benar-benar ada—fenomena ini mungkin dikenal sebagai sindrom “saya tidak mau masuk penjara sendirian”.

Kasus dugaan korupsi dalam Program MBG yang belakangan mencuat memperlihatkan bahwa praktik korupsi modern ternyata sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan.

Tidak ada yang ingin menikmati fasilitas tahanan seorang diri.

Semua ingin reuni.

Semua ingin temu kangen.

Semua ingin berbagi cerita.

Bahkan mungkin berbagi kamar.

Dugaan penyimpangan dalam pengadaan maupun tata kelola program tersebut kini menyeret sejumlah nama dan terus berkembang kepada pihak-pihak lain yang diduga memiliki keterkaitan.

Dalam perspektif sosiologi organisasi, fenomena ini cukup menarik untuk diamati.

Biasanya organisasi dibangun atas dasar kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam praktik korupsi, tujuan bersama itu terkadang bergeser. Bukan lagi pelayanan publik, melainkan pelayanan rekening pribadi.

Yang lebih menarik adalah fenomena “buka-bukaan” yang sering muncul setelah proses hukum berjalan.

Saat masih menjabat, semuanya tampak kompak, harmonis, dan saling mendukung. Namun ketika rompi tahanan mulai dikenakan, tiba-tiba muncul bakat terpendam sebagai narasumber investigasi.

Ingatan yang selama bertahun-tahun tampak kabur mendadak menjadi sangat tajam.

Detail rapat yang dulu terlupakan tiba-tiba muncul kembali. Lengkap dengan tanggal, jam, lokasi, bahkan warna map proposalnya.

Jika para psikolog berkenan meneliti, mungkin fenomena ini dapat dikategorikan sebagai peningkatan fungsi memori akibat tekanan hukum.

Pergantian pimpinan lembaga juga menghadirkan pelajaran menarik.

Dalam teori manajemen modern dikenal istilah the right man in the right place. Namun dalam praktik birokrasi Indonesia, kadang muncul variasi yang terdengar lebih realistis: new man in the same problem.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketika pimpinan lama diganti, masyarakat tentu berharap sistem ikut diperbaiki.

Sebab pengalaman menunjukkan bahwa mengganti sopir tidak otomatis membuat kendaraan menjadi lebih baik jika mesinnya masih bermasalah dan remnya masih blong.

Perubahan individu penting, tetapi pembenahan sistem jauh lebih penting.

Tanpa perbaikan tata kelola, pergantian jabatan hanya berpotensi menghasilkan wajah baru dengan persoalan yang sama.

Dari perspektif ekonomi publik, dugaan korupsi dalam program bantuan sosial maupun program pemenuhan gizi memiliki dampak berlapis.

Negara mengalami kerugian.

Kualitas layanan berpotensi menurun.

Kepercayaan publik terkikis.

Dan yang paling dirugikan adalah masyarakat yang seharusnya menjadi penerima manfaat program tersebut.

Dalam konteks MBG, yang seharusnya mendapatkan tambahan protein adalah anak-anak Indonesia, bukan rekening para oknum.

Karena itu, setiap dugaan penyimpangan dalam program publik sesungguhnya bukan hanya persoalan administrasi atau hukum semata. Ia juga menyangkut masa depan generasi yang menjadi sasaran program.

Pada akhirnya, masyarakat tentu berharap agar MBG kembali dimaknai sesuai tujuan awalnya: Makanan Bergizi Gratis.

Bukan Mulai Buka-bukaan Gaes.

Sebab apabila setiap proses hukum terus menghadirkan nama-nama baru yang saling membuka keterlibatan pihak lain, jangan-jangan episode berikutnya bukan lagi program gizi nasional.

Melainkan program pencarian bakat dengan judul:

“Indonesia Mencari Saksi”.

Korupsi tidak selalu dilakukan oleh orang pintar.

Namun ketika kasusnya terbongkar, biasanya semua mendadak menjadi sangat pintar.

Terutama pintar mengingat siapa saja yang pernah ikut terlibat.

Semoga berbagai persoalan yang mengiringi program ini dapat segera diselesaikan secara transparan dan berkeadilan. Yang lebih penting lagi, semoga tujuan utama MBG untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia tetap dapat diwujudkan secara optimal.

Revisi Oleh:
  • Satria - 10/06/2026 19:55
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu