Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Ekonomi Indonesia Terlihat Sehat, tetapi Pasar Panik?

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Ekonomi Indonesia Terlihat Sehat, tetapi Pasar Panik?
Perang Senyap di Balik Angka-Angka: Mengapa Ekonomi Indonesia Terlihat Sehat, tetapi Pasar Panik?
Oleh : Agus M Maksum Praktisi IT, Digital Preneur, Pengamat Ekonomi Digital, dan Pengasuh Kajian Ekonomi & Teknologi Digital

Tulisan ini merupakan kompilasi berbagai catatan dan refleksi penulis dalam membaca dinamika ekonomi, teknologi, serta geopolitik global yang semakin kompleks. Di era ketika persaingan tidak lagi hanya terjadi melalui kekuatan militer, perang modern juga bergerak melalui uang, informasi, teknologi, dan persepsi.

Ada satu pertanyaan yang beberapa bulan terakhir terus mengganggu pikiran saya.

Mengapa Indonesia yang menurut berbagai indikator resmi tampak baik-baik saja justru diperlakukan pasar seolah sedang menghadapi masalah besar?

Mengapa ketika pemerintah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, sebagian media internasional justru ramai membahas potensi krisis?

Mengapa ketika data menunjukkan stabilitas, pasar justru memperlihatkan kepanikan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendorong saya untuk melihat lebih dalam, bukan hanya pada angka, tetapi juga pada cerita yang mungkin tersembunyi di balik angka-angka tersebut.

Jika melihat berbagai indikator ekonomi yang tersedia, Indonesia sebenarnya masih menunjukkan fondasi yang relatif kuat.

Pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,61 persen, menjadi salah satu yang tertinggi sejak 2021. Inflasi berada di kisaran 3,08 persen, angka yang masih relatif terkendali dibandingkan banyak negara lain yang masih berjuang menghadapi dampak pascapandemi dan gejolak geopolitik global.

Rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga masih berada di bawah 41 persen, jauh dari batas 60 persen yang ditetapkan dalam regulasi nasional.

Cadangan devisa Indonesia pun masih berada pada level yang memadai untuk membiayai kebutuhan impor sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Jika dianalogikan sebagai sebuah keluarga, Indonesia masih memiliki pendapatan yang tumbuh, cicilan yang terkendali, pengeluaran yang relatif stabil, dan tabungan yang cukup untuk menghadapi situasi darurat.

Namun justru di sinilah letak keanehannya.

Ketika berbagai indikator fundamental menunjukkan kondisi yang relatif sehat, pasar keuangan bergerak seolah Indonesia sedang menghadapi badai besar.

IHSG mengalami tekanan. Rupiah melemah. Investor asing melakukan aksi keluar dari pasar. Sentimen negatif bermunculan hampir setiap hari.

Di sinilah paradoks itu muncul.

Fundamental berbicara tentang stabilitas, tetapi sentimen pasar berbicara tentang krisis.

Pertanyaannya kemudian menjadi menarik. Apakah pasar sedang membaca sesuatu yang belum diketahui publik? Ataukah terdapat faktor lain yang turut membentuk persepsi bahwa Indonesia sedang berada dalam situasi yang mengkhawatirkan?

Dalam dunia ilmu pengetahuan, tidak ada pengamatan yang sepenuhnya bebas dari sudut pandang.

Pemikir seperti Ibn Khaldun, Syed Muhammad Naquib al-Attas, hingga Thomas Kuhn menjelaskan bahwa cara seseorang memahami realitas sering kali dipengaruhi oleh kerangka berpikir yang digunakannya.

Dua orang dapat melihat data yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Seorang dokter, misalnya, tidak melihat hasil laboratorium sekadar sebagai kumpulan angka. Ia mencari pola, hubungan, dan gejala yang saling berkaitan.

Begitu pula dalam ekonomi.

Angka hanyalah gejala. Yang lebih penting adalah memahami konteks dan cerita yang sedang berlangsung di balik angka tersebut.

Karena itu, saya tidak ingin berhenti pada statistik semata. Saya lebih tertarik mencari pola, hubungan sebab akibat, serta memahami siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dari suatu peristiwa ekonomi.

Belakangan muncul berbagai narasi yang menggambarkan Indonesia seolah sedang menuju jurang resesi.

Namun jika mengacu pada definisi ekonomi yang umum digunakan, Indonesia belum berada dalam kondisi tersebut.

Resesi teknis terjadi ketika perekonomian mengalami pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut. Adapun depresi ekonomi merupakan kondisi yang jauh lebih berat, seperti yang pernah dialami Indonesia pada 1998 ketika ekonomi terkontraksi lebih dari 13 persen, sektor perbankan runtuh, pengangguran melonjak, dan nilai tukar mengalami tekanan luar biasa.

Kondisi saat ini tentu berbeda.

Indonesia memang menghadapi berbagai tantangan, tetapi tekanan tidak selalu identik dengan krisis.

Ibarat seseorang yang sedang mengalami demam ringan. Kondisinya mungkin tidak nyaman, tetapi belum tentu sedang menghadapi penyakit yang membahayakan.

Persoalannya muncul ketika tekanan tersebut terus-menerus dipersepsikan sebagai ancaman besar tanpa melihat keseluruhan konteks yang ada.

Dalam dunia modern, persaingan tidak selalu berlangsung melalui senjata atau kekuatan militer.

Pergerakan modal, informasi, dan persepsi juga dapat memengaruhi stabilitas suatu negara.

Lembaga pemeringkat internasional, indeks global, maupun bank investasi besar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap arah pergerakan modal dunia. Ketika muncul rekomendasi tertentu atau perubahan penilaian terhadap suatu negara, arus investasi global dapat bergerak sangat cepat.

Dalam hitungan detik, dana bernilai miliaran hingga triliunan dolar dapat berpindah dari satu pasar ke pasar lainnya.

Perpindahan tersebut tidak selalu terjadi karena aktivitas ekonomi riil berhenti berjalan, tetapi sering kali dipicu oleh perubahan persepsi risiko.

Fenomena ini kerap disebut sebagai perilaku kawanan atau herd behavior, ketika banyak pelaku pasar bergerak ke arah yang sama karena khawatir tertinggal dari arus utama.

SMPM 5 Pucang SBY

Akibatnya, kepanikan yang muncul di pasar terkadang lebih besar daripada kondisi ekonomi yang sebenarnya terjadi.

Ada satu fenomena yang menurut saya menarik untuk dicermati.

Ketika rupiah mengalami tekanan, penguatan dolar Amerika Serikat secara global tidak selalu berada pada level yang luar biasa. Namun pada saat yang sama, dolar Singapura justru menunjukkan tren penguatan.

Sebagai salah satu pusat keuangan terbesar di Asia, Singapura memang menjadi pintu masuk berbagai arus investasi internasional ke kawasan regional, termasuk Indonesia.

Dalam pandangan saya, ketika terjadi perpindahan modal menuju pusat-pusat keuangan yang dianggap lebih aman, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpotensi meningkat.

Apakah kondisi tersebut merupakan hubungan sebab akibat yang langsung? Tentu diperlukan kajian yang lebih mendalam.

Namun pola tersebut layak untuk dicermati sebagai bagian dari dinamika ekonomi regional yang semakin terintegrasi.

Dari perspektif geopolitik, Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan untuk memperluas ruang geraknya di tingkat internasional.

Indonesia bergabung dengan BRICS, memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional, memperkuat kerja sama energi dengan berbagai negara, serta melakukan diversifikasi kerja sama pertahanan dan teknologi.

Langkah-langkah tersebut sejatinya sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang telah lama menjadi fondasi diplomasi Indonesia.

Dalam pandangan saya, setiap perubahan keseimbangan kekuatan global hampir selalu memunculkan respons dari berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda.

Respons tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari tekanan diplomatik, persaingan ekonomi, hingga dinamika pasar keuangan.

Namun tentu tidak adil jika seluruh tekanan yang terjadi hanya dikaitkan dengan faktor eksternal.

Setiap tantangan dari luar akan lebih mudah berdampak apabila terdapat kelemahan di dalam negeri.

Komunikasi pemerintah yang kurang sinkron, perubahan kebijakan yang mendadak, ketidakpastian regulasi, hingga lemahnya koordinasi antarinstansi dapat memengaruhi tingkat kepercayaan pelaku pasar.

Padahal, dalam ekonomi modern, kepercayaan merupakan aset yang sangat berharga.

Ketika kepercayaan terganggu, modal cenderung mencari tempat yang dianggap lebih aman.

Karena itu, menjaga kepercayaan publik dan investor menjadi faktor yang tidak kalah penting dibanding menjaga berbagai indikator ekonomi lainnya.

Menurut saya, Indonesia tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh lengah.

Pertama, diperlukan komunikasi ekonomi nasional yang konsisten, cepat, dan berbasis data agar publik memperoleh informasi yang jelas.

Kedua, seluruh kementerian dan lembaga perlu bergerak dalam orkestrasi yang sama sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak menimbulkan kebingungan di pasar.

Ketiga, kepastian hukum harus terus diperkuat karena investor tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga membutuhkan kepastian aturan.

Keempat, diplomasi ekonomi perlu dijalankan secara tenang, efektif, dan berorientasi pada hasil.

Kelima, transparansi dalam pengelolaan kebijakan strategis perlu diperluas agar ruang bagi spekulasi dan disinformasi semakin kecil.

Pada akhirnya, saya tidak melihat situasi saat ini sebagai pertanda datangnya kiamat ekonomi.

Sebaliknya, saya melihatnya sebagai ujian kedewasaan bangsa dalam menghadapi tekanan dan ketidakpastian global.

Apakah kita akan panik setiap kali menghadapi gejolak?

Ataukah kita mampu melihat persoalan secara lebih jernih dan memahami konteks yang lebih besar di balik berbagai peristiwa ekonomi yang terjadi?

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar tidak runtuh hanya karena tekanan dari luar.

Mereka runtuh ketika kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Karena itu, yang dibutuhkan hari ini bukan saling menyalahkan, melainkan memperkuat kepercayaan, memperbaiki koordinasi, dan menjaga optimisme terhadap masa depan.

Kita semua berada di kapal yang sama bernama Indonesia.

Gelombang mungkin datang dari berbagai arah. Angin bisa berubah sewaktu-waktu.

Namun selama kemudi tetap dipegang dengan tenang, selama seluruh awak kapal bergerak menuju tujuan yang sama, dan selama rakyat masih percaya pada masa depan bangsanya, kapal ini akan terus berlayar.

Dan seperti banyak bangsa besar dalam sejarah, sering kali justru badai-badai itulah yang menempa sebuah bangsa menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 10/06/2026 18:27
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu