Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang selalu berinteraksi dengan orang lain melalui berbagai bentuk komunikasi, mulai dari percakapan biasa, diskusi, seminar, hingga forum-forum yang melibatkan banyak pihak.
Namun, tidak semua komunikasi berjalan mulus. Kesalahpahaman sering muncul karena ucapan yang kurang tepat, bernada merendahkan, menyinggung perasaan, atau bahkan berupa ejekan. Akibatnya, hubungan yang semula baik dapat berubah menjadi perselisihan, pertengkaran, bahkan permusuhan.
Dalam Islam, menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang mukmin. Karena itu, setiap orang beriman dituntut untuk berhati-hati dalam berbicara dan membiasakan diri berpikir sebelum mengucapkan sesuatu.
Islam mengajarkan bahwa setiap ucapan manusia berada dalam pengawasan Allah SWT dan dicatat oleh para malaikat.
Allah SWT berfirman:
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap perkataan, baik yang membawa manfaat maupun yang menimbulkan kerusakan, akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Karena itu, berpikir sebelum berkata menjadi langkah penting agar setiap ucapan yang keluar bernilai kebaikan, memberi manfaat, dan tidak melukai orang lain.
Banyak konflik muncul bukan karena persoalan besar, tetapi karena ucapan yang disampaikan tanpa pertimbangan dan tanpa memperhatikan etika berbicara.
Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berkata benar sebagaimana firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa ayat tersebut mengandung perintah agar setiap muslim menyampaikan perkataan yang lurus, jujur, sesuai kebenaran, dan terbebas dari kebohongan maupun kebatilan.
Dengan membiasakan berkata benar, seseorang tidak hanya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, tetapi juga menjaga kualitas keimanannya di hadapan Allah SWT.
Perkembangan teknologi informasi menghadirkan ruang komunikasi yang semakin luas. Saat ini, seseorang tidak hanya berbicara melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan yang tersebar di media sosial.
Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan ilmu, motivasi, dan pesan-pesan kebaikan. Namun di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi tempat berkembangnya fitnah, ujaran kebencian, dan informasi yang memecah belah.
Karena itu, seorang muslim dituntut untuk mampu mengendalikan diri dalam menggunakan media sosial. Setiap tulisan yang dipublikasikan hendaknya menjadi sarana dakwah, pencerahan, dan penyebaran nilai-nilai kebaikan.
Salah satu prinsip penting dalam Islam terkait menjaga lisan adalah anjuran untuk berkata baik atau memilih diam apabila tidak mampu menyampaikan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari)
Hadis ini memberikan pedoman sederhana namun sangat mendalam. Tidak semua hal harus dikomentari dan tidak semua pendapat harus disampaikan. Ketika ucapan berpotensi menimbulkan mudarat, diam sering kali menjadi pilihan yang lebih baik.
Ucapan yang dipikirkan dengan baik akan melahirkan komunikasi yang menenangkan, membangun persaudaraan, dan memperkuat hubungan antarsesama.
Sebaliknya, ucapan yang keluar tanpa pertimbangan dapat memicu konflik dan menyisakan penyesalan.
Karena itu, menjaga lisan, mengendalikan ucapan, serta membiasakan diri berkata benar merupakan langkah penting untuk menghadirkan kedamaian dalam kehidupan. Dengan cara itulah seorang muslim dapat menjadi pribadi yang membawa manfaat, menebarkan ketenangan, dan menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.





0 Tanggapan
Empty Comments