Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Wamendikdasmen Fajar: Santri Al-Furqon Harus Tumbuh Menjadi Generasi Rabbani

Iklan Landscape Smamda
Wamendikdasmen Fajar: Santri Al-Furqon Harus Tumbuh Menjadi Generasi Rabbani
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq mengajak wisudawan Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon Tasikmalaya menjadi generasi rabbani yang mampu menebarkan ilmu, akhlak, dan manfaat bagi masyarakat.
pwmu.co -

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menghadiri Wisuda Kelas Akhir atau Takrimun Najihin Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon di Singaparna, Tasikmalaya, Sabtu (7/6/2026).

Dalam tausiahnya, Fajar menegaskan bahwa wisuda tidak hanya menjadi seremoni kelulusan, tetapi juga momentum pemuliaan ilmu, penghargaan atas proses pendidikan, dan peneguhan lahirnya generasi rabbani yang siap memberikan pencerahan bagi masyarakat.

Menurutnya, istilah Takrimun Najihin memiliki makna yang mendalam karena tidak sekadar menjadi bentuk penghargaan kepada peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga mencerminkan tradisi Islam dalam memuliakan ilmu, guru, orang tua, dan seluruh proses perjuangan menuntut ilmu.

“Selama enam tahun, para peserta didik ditempa dalam proses yang tidak ringan. Takrimun Najihin adalah bentuk saling memuliakan. Allah memuliakan setiap insan, dan pendidikan Islam mengajarkan kita untuk memuliakan ilmu, guru, orang tua, serta proses perjuangan,” ujar Fajar.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar mengaku memiliki kedekatan emosional dengan wilayah Tasikmalaya karena pernah menempuh pendidikan di MAN Darussalam Ciamis saat remaja.

“Tasikmalaya bukan kota yang asing bagi saya. Datang ke sini seperti membawa saya kembali ke masa remaja. Terima kasih karena saya bisa hadir dan melihat pancaran semangat dari wajah-wajah para wisudawan,” ungkapnya.

Mengutip QS. Ali Imran ayat 79, Fajar mengajak para lulusan Al-Furqon untuk tumbuh sebagai generasi rabbani yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mampu mengajarkan dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Menurutnya, terdapat dua tugas utama generasi rabbani. Pertama, tu‘allimunal kitab, yakni menjadi pribadi yang menyiarkan ilmu dan kebaikan kepada masyarakat. Kedua, wabima kuntum tadrusun, yaitu terus belajar dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

“Inilah yang dalam spirit Kiai Ahmad Dahlan dapat kita pahami sebagai ajakan untuk menjadi guru sekaligus murid. Mengajarkan kebaikan, tetapi pada saat yang sama tidak pernah berhenti belajar,” tegas Fajar.

Fajar juga menjelaskan perbedaan konsep rabbani dengan rahbaniyyah. Menurutnya, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjauh dari kehidupan sosial, melainkan hadir aktif di tengah masyarakat dengan membawa ilmu, akhlak, dan tanggung jawab.

“Jadilah generasi rabbani yang seimbang antara spiritual dan sosial. Bukan generasi yang menjauh dari kehidupan, tetapi generasi yang masuk ke tengah masyarakat dengan ilmu, akhlak, kearifan, dan tanggung jawab,” jelasnya.

Dalam tausiah tersebut, Fajar turut menyinggung perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak perlu berlomba menyaingi kemampuan mesin, tetapi harus memastikan teknologi digunakan secara etis dan bertanggung jawab.

SMPM 5 Pucang SBY

“Kalau manusia hanya mengejar kemampuan AI, kita akan pontang-panting. Tugas kita adalah menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab, memanfaatkan pengetahuan untuk kemaslahatan manusia,” ujarnya.

Menurut Fajar, masa depan tidak hanya membutuhkan kecakapan akademik, tetapi juga karakter yang kuat, kemampuan memecahkan masalah, keterampilan komunikasi, pengalaman berorganisasi, dan cara pandang yang luas.

“Banyak pejabat publik dan tokoh penting lahir dari pesantren. Mungkin secara akademik dulu biasa-biasa saja, tetapi mereka punya ketahanan, resiliensi, kemampuan berorganisasi, dan karakter yang kuat,” katanya.

Sebagai alumni pesantren yang pernah menjalani pendidikan selama 13 tahun, Fajar meyakini bahwa kehidupan pesantren memberikan bekal penting dalam membentuk kepribadian, karakter, dan daya tahan menghadapi tantangan kehidupan.

“Percayalah, pengalaman di pesantren akan menjadi bekal berharga. Apa pun profesi kalian nanti, pengalaman ini akan menjadi modal penting, terutama dalam membangun karakter, kepribadian, dan ketahanan diri,” tuturnya.

Di akhir tausiahnya, Fajar mengajak para wisudawan memanfaatkan masa muda untuk terus belajar, berorganisasi, memperluas pengalaman, dan mengembangkan potensi diri.

“Muda hanya datang sekali. Kembangkan potensi, tempa diri di banyak tempat, dan jadilah pribadi yang membawa manfaat,” pesannya.

Ia pun menutup tausiah dengan mengajak para lulusan Al-Furqon menjadi kader muda Muhammadiyah yang mampu menghadirkan ilmu, akhlak, dan kemanfaatan bagi masyarakat.

“Jadilah kader muda yang mencerahkan. Seperti spirit Sang Surya, hadirkan ilmu, akhlak, dan manfaat bagi siapa pun tanpa pilih kasih. Kelak, harumkan nama keluarga, almamater, Muhammadiyah, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 08/06/2026 17:51
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu