Sebuah gang sempit di kawasan Baratajaya Surabaya menyimpan kisah panjang tentang inovasi pendidikan. Di ujung Gang Baratajaya IIA berdiri SD Muhammadiyah 16 Surabaya atau yang lebih dikenal sebagai Sekolah Kreatif Baratajaya, lembaga pendidikan yang selama 24 tahun berkembang menjadi salah satu rujukan pembelajaran kreatif dan pendidikan inklusi.
Bagi banyak orang yang pertama kali melintas di kawasan tersebut, lorong kecil itu mungkin terlihat seperti akses biasa menuju permukiman warga. Namun, bagi ribuan siswa yang pernah menempuh pendidikan di sana, gang tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan dan tempat tumbuhnya berbagai mimpi.
Selama lebih dari dua dekade, Sekolah Kreatif Baratajaya terus membangun identitas yang berbeda di tengah perkembangan dunia pendidikan.
Salah satu langkah penting yang menjadi tonggak perjalanan sekolah ini adalah keberaniannya menggunakan branding “Sekolah Kreatif” saat banyak lembaga pendidikan belum berani membangun identitas sekolah secara kuat.
Penggagas Sekolah Kreatif Baratajaya, Heru Tjahyono, menyebut langkah tersebut sebagai sebuah keberanian yang pada saat itu penuh tantangan.
“Keberanian 24 tahun silam menjadi harapan yang terus tumbuh dan berkembang. Saat ini lebih dari 30 sekolah di Jawa dan Kalimantan mengikuti branding sekolah kreatif,” ujarnya.
Konsep yang awalnya dianggap berbeda tersebut kini berkembang menjadi inspirasi bagi banyak sekolah yang ingin menghadirkan pembelajaran lebih inovatif dan berpusat pada peserta didik.
Perjalanan panjang yang telah dilalui membuat Sekolah Kreatif Baratajaya sering menjadi tujuan studi tiru berbagai lembaga pendidikan dari berbagai daerah.
Banyak sekolah datang untuk mempelajari model pembelajaran kreatif, pengembangan kurikulum, hingga pengelolaan pendidikan inklusi yang diterapkan sekolah tersebut.
Menurut Heru, perhatian sekolah-sekolah lain tidak hanya tertuju pada proses pembelajaran, tetapi juga sistem pendampingan peserta didik melalui layanan shadow teacher yang telah berjalan selama bertahun-tahun.
Komitmen terhadap pendidikan inklusi menjadi salah satu ciri khas Sekolah Kreatif Baratajaya.
Sekolah ini dikenal sebagai pelopor pendidikan inklusi di lingkungan Muhammadiyah dengan memberikan kesempatan yang sama bagi anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak dan ramah.
Melalui pendekatan tersebut, sekolah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman sekaligus mendorong tumbuhnya rasa empati dan kepedulian di antara peserta didik.
Memasuki area sekolah, suasana yang berbeda langsung terasa. Karya-karya siswa menghiasi berbagai sudut ruangan, mulai dari lukisan, media pembelajaran, hingga pajangan hasil kreativitas peserta didik.
Lingkungan sekolah dirancang agar menjadi bagian dari proses belajar. Setiap sudut menghadirkan pesan, inspirasi, dan pengalaman yang dapat membantu perkembangan siswa.
Wakil Kepala Sekolah, Suyono, S.Si., mengenang apresiasi yang pernah diberikan fasilitator Sekolah Penggerak Angkatan Kedua, Dra. Budi Martati, M.Pd.
Menurutnya, Budi Martati pernah menyampaikan bahwa “setiap sudut tembok sekolah ini bisa berbicara.”
Ungkapan tersebut menjadi motivasi bagi guru dan karyawan untuk terus melakukan inovasi dan pembaruan dalam pembelajaran.
Semangat untuk terus berkembang menjadi budaya yang hidup di lingkungan sekolah. Berbagai inovasi pembelajaran terus dihadirkan setiap tahun sebagai respons terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik.
Tidak hanya fokus pada aspek akademik, sekolah juga menanamkan pendidikan karakter melalui berbagai pendekatan. Mural edukatif, pesan-pesan motivasi, hingga kata-kata inspiratif di anak tangga sekolah menjadi bagian dari proses pembentukan karakter siswa.
Konsep tersebut sejalan dengan penerapan program Leader in Me yang mendorong peserta didik mengembangkan kepemimpinan, tanggung jawab, dan kebiasaan positif sejak dini.
Selama 24 tahun, Sekolah Kreatif Baratajaya membuktikan bahwa besarnya pengaruh sebuah sekolah tidak ditentukan oleh luas bangunan atau lebar jalan menuju lokasinya.
Dari sebuah lorong kecil di tengah permukiman warga, lahir berbagai inovasi pendidikan, budaya belajar yang kreatif, serta komitmen kuat terhadap pendidikan inklusi.
Perjalanan itu menjadi bukti bahwa gagasan besar dapat tumbuh dari tempat yang sederhana, selama ada keberanian untuk berinovasi dan konsistensi dalam menghadirkan pendidikan yang bermakna bagi setiap anak.





0 Tanggapan
Empty Comments