Hingga tahun 1926, setidaknya terdapat 88 sekolah Muhammadiyah yang telah berdiri di seluruh Hindia Belanda. Sebutan Indonesia untuk zaman itu. Demikian yang dilaporkan oleh Pengurus Besar –sekarang Pimpinan Pusat—Muhammadiyah dalam Kongres (sekarang Muktamar) ke-15 di Surabaya.
Suasana Stadstuin-Theater Surabaya pagi hari itu kembali dipenuhi peserta Muktamar Muhammadiyah. Senin, 1 Maret 1926. Kali ini sidang yang lebih bersifat konseptual. Hadir laki-laki dan perempuan Muhammadiyah dari berbagai daerah. Juga sembilan utusan organisasi, perwakilan pers, serta kepolisian Hindia Belanda.
Sidang dipimpin langsung oleh Ketua (Umum) PP Muhammadiyah, KH. Ibrahim. Pertemuan ini menjadi salah satu sesi penting dalam Muktamar ke-15 Muhammadiyah. Sebab, ia membahas dua bidang yang sejak awal menjadi fondasi gerakan Muhammadiyah. Pendidikan dan penerbitan melalui Taman Poestaka.
Sejak dibuka, sidang berlangsung tertib. Para peserta tampak menyimak dengan serius setiap pemaparan yang disampaikan para pembicara. Berbeda dengan rapat umum yang banyak berisi pidato-pidato penyemangat, sidang pagi ini lebih banyak mengulas arah kebijakan organisasi. Juga strategi Muhammadiyah dalam membangun masyarakat melalui pendidikan dan penyebaran literasi Islam.
Pembicara pertama adalah M. Ng. Djojosoegito. Dalam waktu yang relatif singkat, ia memaparkan sejumlah persoalan mendasar mengenai pendidikan Muhammadiyah. Waktu yang terbatas membuat seluruh materi harus disampaikan secara ringkas. Tapi isinya mencerminkan visi besar Muhammadiyah terhadap pembangunan sumber daya manusia di Hindia Belanda.
Di antara yang dibahas Djojosoegito adalah pendidikan secara umum, prinsip-prinsip dasar sekolah Muhammadiyah, serta cita-cita organisasi dalam mencerdaskan rakyat. Termasuk bagaimana cara mencapai tujuan itu, hingga perkembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Djojosoegito, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan. Pendidikan adalah sarana membangun karakter masyarakat berdasarkan ajaran Islam sekaligus mempersiapkan umat menghadapi perkembangan zaman.
Dalam penjelasannya, Djojosoegito menguraikan bahwa landasan pendidikan Muhammadiyah bersumber langsung dari Al-Qur’an. Ia mengutip beberapa prinsip pokok yang menurutnya menjadi dasar penyelenggaraan sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Prinsip pertama adalah persamaan dan persaudaraan bagi seluruh bangsa. Menurutnya, Islam mengajarkan bahwa semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Sehingga pendidikan harus terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan status sosial maupun keturunan.
Prinsip kedua ialah menjaga diri dari segala bentuk kejahatan. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan orang yang cerdas. Tapi juga membentuk pribadi yang memiliki akhlak mulia serta mampu menjauhi berbagai perilaku yang merusak diri maupun masyarakat.
Prinsip ketiga adalah keberanian menegakkan kebenaran, sekalipun harus menghadapi kesulitan. Nilai ini dipandang penting untuk membentuk generasi yang memiliki integritas dan tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat.
Sementara prinsip keempat menyangkut pengaturan kehidupan sosial masyarakat. Pendidikan Muhammadiyah diarahkan agar peserta didik mampu hidup bermasyarakat, saling menghormati, serta berkontribusi dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
Ia kemudian mengingatkan besarnya kebutuhan lembaga pendidikan di Hindia Belanda. Pada masa itu, kesempatan memperoleh pendidikan masih sangat terbatas bagi masyarakat bumiputra. Muhammadiyah hadir untuk mengisi kekurangan tersebut dengan membangun sekolah-sekolah yang tidak hanya memberikan ilmu agama. Tapi juga ilmu pengetahuan umum.
Menurut Djojosoegito, sistem pendidikan Muhammadiyah bertumpu pada dua unsur utama yang tidak dapat dipisahkan. Pertama, pendidikan agama yang menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik. Kedua, mata pelajaran umum sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan.
Di hadapan peserta sidang, Djojosoegito juga memaparkan perkembangan jaringan pendidikan Muhammadiyah yang menunjukkan pertumbuhan cukup pesat. Tercatat ada 88 sekolah yang telah dioperasikan oleh oleh organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan tersebut.
Hingga tahun 1926, Muhammadiyah telah mendirikan 12 sekolah Hollandsch-Inlandsche School (H.I.), 20 sekolah bumiputra, 40 sekolah rakyat, 13 sekolah bagi masyarakat kurang mampu, dua sekolah guru atau kweekschool, serta satu Sekolah Normal Islam.
Data itu menunjukkan bahwa dalam waktu relatif singkat Muhammadiyah telah membangun sistem pendidikan yang cukup luas di berbagai daerah. Bukan hanya sekolah dasar. Persyarikatan juga mempersiapkan lembaga pencetak guru agar kebutuhan tenaga pendidik dapat dipenuhi secara mandiri.
Setelah pemaparan selesai, Ketua Sidang K.H. Ibrahim menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Djojosoegito. Agenda kemudian berlanjut kepada pembicara kedua, M. Tajib, anggota PP Muhammadiyah.
Dalam ceramahnya, Tajib mengangkat tema Taman Poestaka. Bidang yang pada masa itu bertanggung jawab terhadap penerbitan buku dan pengembangan literasi di lingkungan Muhammadiyah.
Ia membuka penjelasannya dengan mengutip beberapa ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan pentingnya ilmu pengetahuan. Menurutnya, kemajuan suatu organisasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya sekolah atau aktivitas dakwah. Tapi juga ketersediaan bahan bacaan yang berkualitas.
Tajib menilai bahwa penerbitan buku merupakan bagian penting dalam perjuangan Muhammadiyah. Melalui bacaan, gagasan-gagasan pembaruan Islam dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Bahkan tanpa harus selalu melalui ceramah atau pertemuan langsung.
Karena itu Muhammadiyah berupaya mengembangkan penerbitan buku dalam berbagai bahasa. Tujuannya agar dapat dibaca oleh masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Dalam penjelasannya, Tajib menegaskan bahwa Muhammadiyah menempuh dua jalan utama untuk mencapai tujuan organisasinya. Jalan pertama adalah penyiaran dakwah kepada masyarakat. Jalan kedua penyelenggaraan pendidikan melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Kedua jalur itu dipandang saling melengkapi. Dakwah memberikan pemahaman langsung kepada masyarakat. Sedangkan pendidikan dan penerbitan memastikan proses pembinaan berlangsung secara berkelanjutan.
Pembicara berikutnya adalah M. Amir yang juga membahas persoalan Taman Poestaka. Amir menyoroti banyaknya bahan bacaan yang beredar di kalangan masyarakat Indonesia, yang menurutnya memuat pandangan-pandangan keliru tentang Islam. Kondisi ini dinilai dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat jika tidak diimbangi dengan penerbitan buku-buku yang memberikan penjelasan berdasarkan ajaran Islam.
Karena itu, Muhammadiyah memandang penyediaan literatur yang benar sebagai kebutuhan mendesak. Kehadiran buku-buku Islam yang mudah dipahami masyarakat menjadi salah satu benteng pentingnya.
Menjelang berakhirnya sidang, Wakil Ketua Muhammadiyah H. Fachrodin memperoleh kesempatan memberikan pengarahan kepada peserta kongres. Ia menjelaskan bahwa rangkaian sidang masih akan berlanjut dengan sejumlah agenda penting lainnya.
Salah satu topik yang akan dibahas ialah mengenai kepanduan atau Padvinderij. Bidang yang saat itu mulai dikembangkan Muhammadiyah sebagai sarana pembinaan karakter generasi muda. Selain itu, Fachrodin mengumumkan bahwa pada hari Rabu lusa akan diselenggarakan rapat umum di Stadstuin-Theater yang sekaligus menjadi acara penutupan Muktamar Muhammadiyah.
Tepat sekitar pukul 13.00, K.H. Ibrahim menutup sidang. Sebelum mengakhiri pertemuan, ia menyampaikan penghargaan kepada seluruh peserta atas besarnya antusiasme dan kedisiplinan selama mengikuti persidangan.





0 Tanggapan
Empty Comments