Sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo menjadi pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) dan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Mereka mengunjungi Tugu Pahlawan dan Museum 10 November, Jalan Pahlawan, Surabaya, Rabu (12/8/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program International Short Course yang mempertemukan mahasiswa USIM dengan mahasiswa Fakultas Hukum Umsura. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran lintas budaya sekaligus kesempatan bagi peserta untuk mengenal lebih dekat sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Para mahasiswa tidak hanya diajak melihat kawasan Tugu Pahlawan, tetapi juga mendapatkan penjelasan mengenai peristiwa besar Pertempuran 10 November 1945 yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Mengenal Sejarah Pertempuran Surabaya
Di Museum 10 November, para peserta mendapatkan penjelasan mengenai berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah perjuangan. Pemandu museum menjelaskan sejumlah peristiwa yang melatarbelakangi Pertempuran Surabaya serta perjalanan pembangunan Tugu Pahlawan sebagai monumen untuk mengenang perjuangan para pahlawan.
Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah sejarah kawasan Jalan Pahlawan. Sebelum menjadi kawasan Tugu Pahlawan, lokasi tersebut merupakan tempat berdirinya gedung pengadilan kolonial Belanda bernama Raad van Justitie.
“Sebelum menjadi Monumen Tugu Pahlawan, lokasi di Jalan Pahlawan Surabaya tersebut dulunya berdiri megah gedung pengadilan kolonial Belanda bernama Raad van Justitie. Gedung ini hancur lebur akibat pertempuran sengit pada November 1945, sebelum akhirnya area tersebut dialihfungsikan menjadi monumen peringatan nasional,” jelas Anang Dony Irawan, salah satu dosen pendamping kegiatan.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai perubahan kawasan Jalan Pahlawan. Kawasan yang pada masa kolonial menjadi bagian dari pusat pemerintahan dan peradilan kemudian berubah menjadi salah satu simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Antusiasme mahasiswa terlihat ketika mengikuti pemaparan pemandu museum. Mereka mengamati berbagai koleksi sejarah yang dipamerkan, termasuk sejumlah senjata yang digunakan pada masa perjuangan.
Para peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai penggunaan berbagai perlengkapan dan senjata tersebut dalam konteks perjuangan pada masa itu. Pengalaman tersebut membuat pembelajaran sejarah berlangsung lebih kontekstual karena mahasiswa dapat melihat langsung peninggalan yang berkaitan dengan peristiwa sejarah.
Perkuat Wawasan Lintas Budaya
Bagi mahasiswa USIM, kunjungan tersebut memberikan perspektif baru mengenai sejarah Indonesia. Pengalaman belajar secara langsung di lokasi bersejarah juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan mereka selama mengikuti International Short Course di Surabaya.
Sementara itu, bagi mahasiswa Fakultas Hukum Umsura, kunjungan tersebut menjadi ruang pembelajaran di luar kampus. Mereka dapat memahami sejarah perjuangan bangsa melalui peninggalan, koleksi, dan lokasi yang menjadi saksi berbagai peristiwa penting.
Kegiatan tersebut sekaligus mempertemukan mahasiswa dari dua negara dalam suasana pembelajaran yang lebih kontekstual. Pertukaran pengalaman selama kunjungan dapat memperluas wawasan peserta mengenai sejarah, budaya, dan perjalanan perjuangan masing-masing bangsa.
Kunjungan ke Tugu Pahlawan dan Museum 10 November menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan pengalaman sejarah secara langsung. Mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi melalui materi perkuliahan, tetapi juga melihat berbagai bukti sejarah yang tersimpan dan dirawat hingga saat ini.
Melalui kegiatan tersebut, sejarah perjuangan Surabaya diharapkan tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Pengalaman mengunjungi lokasi bersejarah dapat menjadi sarana untuk memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus membangun pemahaman lintas budaya di antara mahasiswa Indonesia dan Malaysia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments