Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Cerdas Bermoral, Kunci Peradaban Islam

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Cerdas Bermoral, Kunci Peradaban Islam
Ilustrasi AI
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Drs. Najib Sulhan, MA Dosen Umsura, dan Ketua PCM Mulyorejo

Ketika Allah mengangkat Nabi Muhammad saw sebagai rasul, Dia menurunkan wahyu pertama berupa perintah iqra’, yaitu membaca. Allah juga mengajarkan manusia melalui frasa ‘allama bil qalam, yaitu belajar menulis. Kedua perintah tersebut menegaskan pentingnya literasi untuk membangun kecerdasan.

Membaca dalam Islam bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan proses kesadaran yang transformatif. Melalui membaca, manusia mentransformasikan pengetahuan dengan menghubungkan informasi baru dan pengetahuan sebelumnya.

Manusia membangun pemahaman dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya.

Pintu Masuk Pengetahuan

Perintah iqra’ menandai awal perkembangan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam. Para mufasir menegaskan pentingnya membaca sebagai pintu masuk ilmu pengetahuan.

Prinsip bismi rabbika mengarahkan aktivitas membaca agar berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan. Prinsip ini menghubungkan nama Allah dengan seluruh aktivitas manusia.

Literasi menjadi kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Surah An-Nahl ayat 78 menjelaskan proses manusia memperoleh pengetahuan sejak lahir.

“Dan Allah mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Lalu, Dia memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati agar manusia bersyukur.”

Manusia memang belum memiliki pengetahuan ketika lahir. Namun, Allah membekali manusia dengan miliaran sel otak, baik yang aktif maupun belum aktif.

Pendengaran, penglihatan, dan perasaan membantu manusia mengembangkan kemampuan otaknya.

Literasi dalam Perspektif Al-Qur’an

Membaca bukan sekadar aktivitas untuk memperoleh pengetahuan. Membaca juga membantu manusia memaknai kehidupan dan mengenal Tuhan lebih dalam.

Melalui membaca, manusia membangun cara pandang terhadap kehidupan yang sesungguhnya.

Dengan demikian, literasi dalam perspektif Al-Qur’an tidak terbatas pada kemampuan teknis membaca teks.

Literasi juga melibatkan nilai, tujuan, dan kesadaran dalam memahami pengetahuan.

Era digital menghadirkan beragam alternatif bacaan. Namun, era ini juga memunculkan pergeseran dalam kebiasaan membaca. Banyak orang membaca layar tanpa menggali makna secara mendalam.

Mereka mengonsumsi informasi dengan cepat, tetapi belum tentu memahaminya.

Akibatnya, literasi bergeser dari proses mendalam menjadi aktivitas di permukaan.

Kondisi ini dapat melahirkan generasi yang terbiasa dengan kecepatan dan hal-hal instan. Namun, mereka berisiko kehilangan kedalaman makna.

Nabi Muhammad saw meletakkan dasar literasi yang kuat melalui wahyu ilahi. Beliau juga membimbing umat melalui tindakan nyata, ucapan, dan persetujuan.

Keteladanan tersebut menjadi landasan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Al-Qur’an dan hadis menjadi pedoman umat Islam untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Keduanya juga menjelaskan pentingnya keteladanan dalam kehidupan.

Selain menerima wahyu, Nabi Muhammad saw memberikan panduan melalui perilaku, ucapan, dan persetujuan.

Rasulullah saw bersabda, “Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Al-Qur’an dan hadis.”

Menulis Menjadi Budaya Ulama

Para ulama klasik membangun budaya literasi dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw.

Mereka menulis banyak kitab penting sebagai pijakan bagi umat Islam. Hingga kini, umat Islam masih membaca warisan tersebut sebagai peta jalan menuju kebaikan.

Budaya literasi ulama klasik seharusnya terus berlanjut. Umat Islam perlu melahirkan karya-karya penting sebagai wujud transformasi ilmu pengetahuan.

Upaya tersebut harus bermula dari kebiasaan membaca dan memahami pengetahuan.

Rasulullah Muhammad saw diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sebuah hadis menegaskan misi tersebut.

“Sesungguhnya aku (Muhammad saw) diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

Rasulullah saw menunjukkan empat sifat utama, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Keempat sifat tersebut mendorong manusia meninggalkan akhlak buruk dan membangun akhlak mulia.

Melalui pembiasaan, akhlak mulia kemudian mengkristal menjadi adab.

Siddiq berarti kejujuran. Integritas membantu manusia membangun dan menjaga kepercayaan orang lain.

Amanah berarti dapat dipercaya. Manusia memperoleh kepercayaan ketika menjalankan tanggung jawab dengan baik.

Tabligh berarti menyampaikan kebenaran atau kebaikan. Manusia dapat menyebarkan kebaikan melalui pesan dan tindakan nyata.

Fathanah berarti kecerdasan. Kecerdasan membantu manusia melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Dengan demikian, proses literasi dapat melahirkan generasi muslim yang cerdas. Keteladanan Rasulullah saw membantu generasi tersebut membangun karakter dan moralitas. Kecerdasan dan moralitas menjadi kunci untuk membangun peradaban Islam.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 15/10/2026 00:21
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu