Kementerian Agama Republik Indonesia membekali sedikitnya 750 guru madrasah dari 36 provinsi melalui Program Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan guru menghadapi keberagaman sekaligus mendorong peningkatan Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB).
Program yang diselenggarakan Kemenag RI melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam bekerja sama dengan Institut Leimena tersebut berlangsung pada Senin-Kamis (10–14/8/2026) secara daring dan asinkron.
Direktur GTK Madrasah Kemenag RI, Fesal Musaad, mengatakan literasi keagamaan lintas budaya menjadi kompetensi penting bagi pendidik, terutama dalam menghadapi masyarakat Indonesia yang beragam.
Ia berharap pelatihan tersebut turut berkontribusi terhadap penguatan kerukunan umat beragama. Indeks KUB Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 77,89.
“Jika sampai 100 (persen), Indonesia bisa saja menjadi negara eksportir moderasi dan center of excellence toleransi dan perdamaian dunia. Semoga pelatihan LKLB mampu mendongkrak indeks KUB,” kata Fesal sebagai narasumber kunci, Rabu (12/8/2026).
Bukan Menyeragamkan Keyakinan
Fesal menegaskan, LKLB bukan upaya menyeragamkan keyakinan atau mengaburkan identitas keagamaan seseorang. Sebaliknya, pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat komitmen seseorang terhadap agamanya sekaligus membangun kemampuan memahami keberagaman secara arif dan objektif.
“Dengan kata lain, seseorang dapat menjadi pemeluk agama yang taat dan warga bangsa yang bisa hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang plural,” ujarnya.
Menurut Fesal, Program LKLB selaras dengan agenda transformasi pendidikan Kemenag RI, khususnya penguatan Moderasi Beragama dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dicanangkan Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar.
Ia menyebut KBC telah diterapkan di madrasah, termasuk melalui 6.629 madrasah yang menjadi piloting program tersebut.
Sejalan dengan KBC, LKLB tidak hanya membekali guru dengan pemahaman mengenai keragaman agama, budaya, dan tradisi. Para peserta juga mendapatkan penguatan keterampilan pedagogis untuk menumbuhkan empati, membangun budaya dialog, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
“Saya percaya, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga menghasilkan manusia yang mampu bekerja sama dengan siapa pun, menghormati perbedaan, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” tandas Fesal.
Guru Hadapi Tantangan Era Digital
Fesal juga menyoroti tantangan yang muncul pada era digital. Peserta didik kini dapat memperoleh informasi tanpa batas, termasuk narasi keagamaan yang belum tentu benar, ujaran kebencian, polarisasi sosial, dan intoleransi.
Karena itu, menurutnya, guru tidak cukup hanya berperan sebagai pengajar. Guru juga perlu menjadi pembimbing dan pendamping yang mampu membantu peserta didik memahami informasi secara kritis serta bersikap bijaksana dalam menghadapi perbedaan.
“Penguatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya sangat selaras dengan arah pembangunan pendidikan madrasah dan menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kualitas guru sebagai agen transformasi,” kata Fesal.
Pelatihan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri. Di antaranya Menteri Luar Negeri RI periode 1999–2001 Alwi Shihab, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) M. Amin Abdullah, Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI Faried Saenong, Wakil Asia Presidium Dewan Gereja-gereja Sedunia Pdt. Henriette T. Lebang, Senior Non-Residence Scholar University of Pittsburgh Chris Seiple, serta Guru Besar New York University Elisha Russ-Fishbane.
11.388 Pendidik Telah Mengikuti LKLB
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Program LKLB yang diluncurkan pada 2021 telah dilaksanakan sebanyak 79 kali dengan total 11.388 pendidik dari 38 provinsi yang telah mengikuti program tersebut.
Menurut Matius, LKLB merupakan pendekatan untuk membantu peserta menggali sekaligus menerapkan nilai-nilai luhur agama dan budaya bangsa Indonesia, termasuk Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk ini, hubungan antarumat beragama dan berkeyakinan sering mendapat sorotan karena adanya ketegangan, bahkan konflik, atau minimal keengganan untuk membangun relasi, apalagi kolaborasi,” kata Matius.
Program tersebut tidak hanya menyasar peserta di Indonesia. Matius menyebut LKLB juga telah melatih calon pemimpin politik dari Vietnam serta guru dan dosen dari Mindanao, Filipina.
Menurutnya, pendekatan LKLB juga telah diakui sebagai salah satu strategi dalam Visi Komunitas ASEAN 2045, khususnya pada pilar Komunitas Politik-Keamanan dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN.
“Program LKLB tidak melatih orang untuk menjadi pakar agama, namun membekalinya dengan literasi agar mereka dapat belajar memperlakukan orang lain secara setara dan membangun rasa saling menghormati dalam masyarakat yang beragam. Ini membuatnya relevan juga dalam konteks ASEAN yang sangat majemuk,” ujarnya.
Melalui pelatihan tersebut, Kemenag dan Institut Leimena berharap guru madrasah semakin siap menjadi agen pendidikan yang mampu menanamkan sikap saling menghormati, membangun dialog, dan merawat kerukunan di tengah keberagaman masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments