Dalam hitungan kalender miladiyah, usia Muhammadiyah sebentar lagi mencapai 114 tahun. Sepanjang itu pula Muhammadiyah terus bergerak untuk memajukan dan menunaikan tugas dakwah pencerahan (al-da’wah al-tanwiriyah). Bukan hanya bagi negeri tercinta, dakwah Muhammadiyah juga menyasar warga bangsa di dunia. Dakwah Muhammadiyah juga sudah merambah ke 32 negara.
Hal itu setidaknya tergambar melalui pendirian Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCIM) di negara-negara tersebut. Dalam kaitan ini kita patut bersyukur karena memiliki kader-kader Persyarikatan yang berdiaspora di banyak negara. Mereka umumnya menjadi profesional atau sedang melanjutkan studi sarjana (S1), master (S2), dan doktor (S3). Rasa cintanya pada Muhammadiyah menjadikan mereka tergerak untuk mendirikan PCIM.
Sejauh ini amal usaha Muhammadiyah (AUM) juga berkembang pesat. Bahkan, AUM bidang pendidikan sudah berdiri di Malaysia, Australia, dan Mesir. Keberhasilan Muhammadiyah itu tentu penting dipertahankan, bahkan harus diakselerasi. Sebagai gerakan Islam (al-harakah al-Islamiyyah/Islamic movement) Muhammadiyah harus terus melangkah. Bahkan melangkah atau bergerak saja tidak cukup, melainkan harus mempercepat langkah agar tidak tertinggal.
Pesan Abdul Mu’ti
Dalam suatu kesempatan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof Abdul Mu’ti, berpesan pada pimpinan dan warga Muhammadiyah agar merawat kepemimpinan Persyarikatan di semua tingkatan sehingga tetap kondusif. Mu’ti seraya berpesan agar aktivis Muhammadiyah “Menghindari 3K dan Melaksanakan 3K”.
Untuk 3K yang harus dihindari adalah: Konflik, Korupsi, dan Kolot. Sedang 3K yang penting dilaksanakan adalah: Kompak, Kreatif, dan Komunikasi.
Pesan tersebut terasa relevan dan sesuai dengan dinamika kepemimpinan Muhammadiyah di semua tingkatan. Penting disadari bahwa konflik dalam tubuh organisasi, baik bersifat vertikal maupun horizontal, pasti akan menghabiskan energi. Hal itu karena konflik mengakibatkan ketegangan, prasangka (prejudice), serta saling tidak percaya antar sesama warga dan pimpinan Persyarikatan.
Jika kondisi ini terjadi, kemajuan yang sudah capai pasti akan tergerus. Roda organisasi juga tidak akan bergerak normal. Dalam kondisi ini, jangan ditanyakan lagi bagaimana pelaksanaan program utama organisasi.
Fenomena korupsi dalam berbagai bentuknya menjadi persoalan krusial bangsa. Apalagi jika itu terjadi di Muhammadiyah. Bayangkan, Muhammadiyah yang tumbuh dari bawah, digerakkan oleh pribadi-pribadi yang menekankan pentingnya pengabdian, keikhlasan, dan kesukarelaan. Kemudian tiba-tiba di antara pimpinan dan penyelenggara AUM melakukan tindakan korupsi.
Padahal, sejauh ini masyarakat begitu percaya pada Muhammadiyah. Dalam perjalanan dakwah hingga nyaris berusia 114 tahun, Muhammadiyah juga banyak ditolong orang-orang kaya yang dermawan. Mereka membantu Muhammadiyah dengan penuh keikhlasan.
Para saudagar itu ingin sekali beramal baik dan meraih ridla Allah SWT, melalui Muhammadiyah. Kepercayaan luar biasa masyarakat tentu harus dijaga dengan cara menjauhkan diri dari perilaku korupsi. Jika ada AUM yang megah karena besar dan mapan, capaian itu pasti berkat kontribusi pribadi-pribadi yang tulus dan tampah pamrih. Jika di AUM yang megah itu terjadi tindakan korupsi, maka cepat atau lambat AUM itu akan turun kasta menjadi “megahi”. Apalagi jika korupsi itu terjadi di AUM kecil dan penuh konflik. Tugas kita, menurut Mu’ti, adalah menjadikan AUM semakin megah, bukan malah “megahi”. Caranya adalah kompak dan menjaga kepercayaan (trust) umat.
Faktor “kolot” dalam sistem pengelolaan organisasi juga penting diwaspadai. Kekolotan bukan hanya paradoks dengan budaya di Muhammadiyah yang menekankan pembaruan dan modernisasi. Apalagi faham keagamaan Muhammadiyah juga menggelorakan spirit “Berkemajuan”. Dalam muktamar ke-48 di Surakarta (Solo), Jawa Tengah, pada 18-20 November 2022 silam, Muhammadiyah juga melahirkan dokumen resmi tentang “Risalah Islam Berkemajuan”. Dokumen sarat makna ini diharapkan dapat memandu dakwah Muhammadiyah yang lebih berkemajuan.
Pada konteks itulah penting dipahami bersama bahwa kekolotan pasti akan mengakibatkan pergerakan Persyarikatan semakin lamban, bahkan stagnan. Untuk itulah pimpinan Persyarikatan penting menjadikan perkembangan informasi dan teknologi digital sebagai media mengakselerasi kemajuan organisasi.
Dengan memanfaatkan sistem informasi digital, gerak organisasi akan lebih lincah, cepat, dan adaptif dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, aktivis dan pimpinan Muhammadiyah juga harus terampil memanfaatkan media digital untuk mengakselerasi gerak organisasi.
Menghadapi tantangan dakwah Persyarikatan yang semakin kompleks jelas membutuhkan kepemimpinan yang lebih kompak, kreatif, dan komunikatif. Inilah 3K yang mesti dilaksanakan dalam kepemimpinan di Persyarikatan. Di samping itu, kepemimpinan di Muhammadiyah juga harus menghindari 3K, yakni konflik, korupsi, dan kolot. Rasanya dengan kiat inilah kepemimpinan Muhammadiyah menjadi lebih solid, lincah, dan adaptif.





0 Tanggapan
Empty Comments