Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tapak Suci Harus Menjadi Benteng Ideologi Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Tapak Suci Harus Menjadi Benteng Ideologi Muhammadiyah
Dr. HM. Sholihin Fanani
Oleh : Dr. HM Solihin Fanani, M.PSDM Wakil Ketua PWM Jatim

Muktamar Tapak Suci Putera Muhammadiyah XVI yang berlangsung pada 6–9 Agustus 2026 di Semarang bukan sekadar agenda lima tahunan untuk memilih kepemimpinan baru atau menyusun program kerja organisasi.

Lebih dari itu, muktamar ini merupakan momentum strategis untuk meneguhkan kembali jati diri Tapak Suci sebagai organisasi kader Persyarikatan Muhammadiyah yang mengemban misi dakwah, pendidikan, dan pembentukan karakter umat.

Di tengah derasnya arus globalisasi, digitalisasi, hingga pertarungan ideologi yang semakin kompleks, Tapak Suci tidak cukup hanya dikenal sebagai perguruan pencak silat yang melahirkan atlet-atlet berprestasi.

Prestasi di arena pertandingan memang penting, tetapi prestasi yang jauh lebih besar adalah keberhasilan mencetak kader yang kokoh akidahnya, luas ilmunya, kuat fisiknya, luhur akhlaknya, dan teguh dalam perjuangan Muhammadiyah.

Inilah hakikat Tapak Suci sejak awal kelahirannya. Tapak Suci tidak pernah didirikan hanya untuk mengajarkan teknik bela diri. Perguruan ini lahir sebagai bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah.

Karena itu, setiap jurus yang dipelajari sesungguhnya harus bermuara pada pembentukan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT, mencintai ilmu pengetahuan, serta mengabdikan diri kepada masyarakat.

Di sinilah posisi strategis Tapak Suci yang tidak dimiliki oleh banyak organisasi bela diri lainnya.

Lebih dari Sekadar Perguruan Silat

Muhammadiyah sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan memiliki pandangan bahwa dakwah tidak cukup dilakukan melalui mimbar. Dakwah juga dilakukan melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, hingga pembinaan generasi muda.

Tapak Suci merupakan salah satu instrumen penting dalam dakwah tersebut. Bela diri dalam perspektif Muhammadiyah bukanlah sarana untuk menunjukkan kekuatan atau mencari lawan.

Sebaliknya, bela diri adalah media untuk mendidik manusia agar mampu mengendalikan dirinya. Seorang pesilat sejati bukan orang yang gemar bertarung, melainkan orang yang mampu menahan amarah, menjunjung tinggi kejujuran, disiplin, serta memiliki keberanian membela kebenaran.

Karena itu, ukuran keberhasilan Tapak Suci tidak boleh berhenti pada jumlah medali yang diraih dalam kejuaraan nasional maupun internasional.

Ukuran yang lebih fundamental adalah berapa banyak kader yang tumbuh menjadi guru, dosen, dokter, pengusaha, aparat negara, ulama, pemimpin masyarakat, dan aktivis Muhammadiyah yang tetap membawa nilai-nilai Tapak Suci dalam kehidupannya.

Prestasi olahraga dapat dikenang selama beberapa tahun. Namun, kader ideologis akan memberi manfaat bagi umat sepanjang hayatnya.

Benteng Ideologi Muhammadiyah

Saat ini tantangan terbesar organisasi Islam bukan hanya persoalan ekonomi ataupun teknologi. Tantangan yang tidak kalah besar adalah melemahnya pemahaman ideologi organisasi di kalangan generasi muda.

Fenomena ini terjadi di berbagai organisasi. Banyak anggota mengenal atribut organisasi, tetapi tidak memahami nilai-nilai yang melatarbelakanginya. Mereka bangga memakai seragam, namun belum tentu memahami cita-cita perjuangan organisasi.

Tapak Suci tidak boleh mengalami situasi tersebut. Setiap kader Tapak Suci semestinya memahami apa itu Muhammadiyah, mengapa Muhammadiyah didirikan, bagaimana prinsip Islam Berkemajuan, serta mengapa dakwah amar makruf nahi mungkar harus diwujudkan melalui kerja nyata yang mencerahkan masyarakat.

Pemahaman ideologi ini tidak boleh hanya diberikan ketika pelantikan atau pengajian sesekali. Ia harus menjadi bagian yang menyatu dalam proses latihan. Artinya, latihan fisik harus berjalan seiring dengan latihan intelektual dan spiritual.

Seorang kader Tapak Suci idealnya mampu menjelaskan pemikiran KH Ahmad Dahlan sebagaimana ia mampu menjelaskan teknik dasar pencak silat. Ia fasih membaca Al-Qur’an sebagaimana ia mahir memainkan jurus. Ia memahami nilai tajdid sebagaimana ia memahami filosofi setiap gerakan yang dipelajarinya.

Dengan demikian, Tapak Suci benar-benar menjadi benteng ideologi Muhammadiyah.

Melahirkan Kader Berkarakter

Bangsa Indonesia saat ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas.

Berbagai persoalan sosial seperti kekerasan, penyalahgunaan narkoba, perundungan, intoleransi, korupsi, hingga lunturnya etika publik menunjukkan bahwa pembangunan karakter harus menjadi prioritas.

SMPM 5 Pucang SBY

Di sinilah Tapak Suci memiliki peran yang sangat strategis. Latihan rutin membentuk disiplin. Adab kepada pelatih menumbuhkan penghormatan kepada guru. Latihan fisik melatih ketangguhan menghadapi kesulitan.

Pengendalian emosi membangun kedewasaan. Semangat persaudaraan menumbuhkan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan oleh bangsa.

Karena itu, kader Tapak Suci harus tampil sebgai teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka harus dikenal sebagai pribadi yang santun, jujur, rendah hati, suka menolong, menjunjung persatuan, dan aktif menyelesaikan persoalan masyarakat.

Keunggulan seorang kader bukan hanya tampak ketika berada di gelanggang pertandingan, tetapi juga ketika berada di sekolah, kampus, kantor, masjid, maupun lingkungan tempat tinggalnya.

Menyatukan Empat Kekuatan

Ke depan, Tapak Suci perlu terus membangun empat keunggulan secara seimbang.

Pertama, keunggulan fisik. Tubuh yang sehat dan kuat merupakan modal untuk beribadah dan mengabdi kepada masyarakat.

Kedua, keunggulan intelektual. Kader Tapak Suci harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan memiliki wawasan kebangsaan.

Ketiga, keunggulan spiritual. Keimanan menjadi fondasi setiap tindakan sehingga kekuatan yang dimiliki tidak disalahgunakan.

Keempat, keunggulan sosial. Kader Tapak Suci harus hadir sebagai solusi atas persoalan masyarakat melalui kerja nyata, kepedulian, dan semangat pengabdian.

Keempat dimensi tersebut akan melahirkan sosok kader yang utuh. Bukan hanya kuat ototnya, tetapi juga kuat pikirannya, kokoh keyakinannya, dan besar kepeduliannya terhadap sesama.

Muktamar di Semarang hendaknya menjadi titik tolak lahirnya paradigma baru Tapak Suci.

Paradigma yang tidak semata berorientasi pada prestasi olahraga, tetapi juga memperkuat kaderisasi ideologi Muhammadiyah.

Paradigma yang tidak hanya mencetak pesilat tangguh, tetapi juga pemimpin masa depan.

Paradigma yang tidak sekadar membangun organisasi yang besar, tetapi juga membangun pengaruh sosial yang luas bagi kemajuan Indonesia.

Ke depan, Tapak Suci perlu semakin hadir dalam ruang-ruang pemberdayaan masyarakat, pendidikan karakter di sekolah, pembinaan generasi muda, penanggulangan bencana, penguatan literasi kebangsaan, hingga dakwah yang mencerahkan.

Dengan jejaring Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia, Tapak Suci memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan sosial yang memberi manfaat nyata bagi umat.

Pada akhirnya, keberhasilan Muktamar Tapak Suci Putera Muhammadiyah XVI tidak hanya diukur dari terselenggaranya sidang yang tertib atau terpilihnya pimpinan baru.

Keberhasilannya akan tampak ketika keputusan-keputusan yang dihasilkan mampu memperkuat Tapak Suci sebagai benteng ideologi Muhammadiyah sekaligus melahirkan kader-kader yang unggul dalam fisik, ilmu, iman, akhlak, dan pengabdian.

Sebab, Indonesia tidak hanya membutuhkan pesilat yang kuat. Indonesia membutuhkan kader yang kuat menjaga nilai, menguatkan persatuan, serta mengabdikan seluruh kemampuannya untuk kemajuan umat, bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah.

Itulah sejatinya ruh Tapak Suci: membentuk manusia yang bukan hanya mampu membela diri, tetapi juga mampu membela kebenaran, merawat kemanusiaan, dan menghidupkan dakwah Islam yang berkemajuan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 06/08/2026 11:42
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu