Suatu hari, seorang tabiin terkemuka, Hasan al-Basri, pernah menitipkan pesan mendalam bagi sejarah: “seseorang tidak akan pernah bisa menghasilkan karya luar biasa jika ia tidak melakukan hal-hal yang luar biasa pula”. Catatan ini menjadi rumus baku bagi lahirnya setiap peradaban besar di muka bumi.
Mari kita tengok sejarah modern secara objektif. David Ben-Gurion, pencetus berdirinya negara Israel, harus banting tulang dan hilir mudik demi menggolkan cita-citanya.
Ia terbiasa menggelar rapat maraton nonstop selama 6 hingga 8 jam setiap hari, yang terus diulanginya selama berbulan-bulan. Ben-Gurion mempraktikkan apa yang disebut Hasan al-Basri sebagai “hal luar biasa”.
Ia menolak kenal lelah, pantang patah semangat, dan mengharamkan cara berpikir pendek. Semangatnya membara bagai kobaran api yang sanggup menghanguskan sebuah kota.
Kini, dunia menyaksikan betapa majunya negara Israel. Terlepas dari sepak terjang mereka yang banyak melukai nilai kemanusiaan dan hukum internasional, secara geopolitik Israel tetap menjadi sebuah negara yang diperhitungkan di panggung global.
Keseriusan dalam proses pada akhirnya melahirkan hasil yang nyata.
Ironi di Jalan Dakwah
Pertanyaan besarnya kemudian tertuju kepada kita: bagaimana dengan para aktivis yang berkecimpung di dunia perjuangan, yang notabene berdiri di atas jalan Allah?
Jika diamati secara jujur, keadaannya justru sering kali berbanding terbalik. Realitas di lapangan memperlihatkan potret gerakan yang miris: tidak disiplin, terlalu banyak perhitungan, serta terjebak dalam budaya banyak bicara namun minim aksi.
Bagaimana mungkin kita bisa membangun sebuah peradaban yang besar—entah itu negara, organisasi, perkumpulan, atau perusahaan—jika mentalitas penggeraknya masih mencla-mencle?
Jangankan memikul beban berat, disuruh menghadiri rapat, pertemuan, atau pengajian saja alasannya masih segudang.
Apakah kita lupa bahwa membangun sebuah kota tidak bisa selesai dalam satu malam? Membentuk organisasi yang hebat pun mustahil dilakukan sembari bersantai-santai.
Sering kali timbul pertanyaan di dalam benak, mengapa dunia dakwah ini kian sepi peminat dan nyaris sunyi seperti toko di dekat hutan. Pada hari-hari pertama, antusiasmenya memang patut diacungi jempol—ramai bagai belalang di musim hujan.
Namun seiring berjalannya waktu, barisan itu makin surut dan menyusut. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah segelintir orang yang memiliki jiwa militan. Imbasnya, forum-forum pengajian seolah berjalan hambar tanpa ruh.
Kemegahan Surga dan Harga Tiketnya
Sungguh sebuah aneh. Padahal, mimbar-mimbar kita sering kali mengingatkan bahwa berjuang di jalan Allah dengan modal keikhlasan dan kelapangan dada menjanjikan hadiah yang teramat megah.
Hadiahnya adalah surga, yang luasnya bukan sekadar 25 lapangan sepak bola, melainkan seluas langit dan bumi.
Di dalamnya dijanjikan aneka kenikmatan universal: buah-buahan, madu, susu, air jernih, daging burung, bidadari, istana megah, hingga piala penghargaan. Lebih dari itu, penghuninya tidak akan pernah lagi merasakan sakit, kecewa, terluka, iri hati, dendam, ataupun tertekan.
Surga adalah tempat yang selalu dilingkupi kesejukan kebahagiaan abadi—sebuah ruang untuk hidup tanpa kesudahan dan bermesraan dengan Tuhan.
Namun, rute menuju surga bukanlah isapan jempol belaka. Berjuang di jalan-Nya menuntut kondisi yang benar-benar prima dan kesiapan lahir batin. Mereka yang memilih menjadi “tulang punggung” dakwah harus siap mental, bahkan jika harus “digigit anjing” sekalipun.
Berjalan di jalur ini berarti harus siap dihina, memiliki sedikit kawan, tersisih, terkucilkan, dan terlihat tidak menarik. Seorang pejuang harus tetap mendaki, meski hasil nyata kadang belum berada di genggaman tangan.
Merebut surga tidak semudah mengupas kulit pisang. Jalurnya menuntut kiprah yang berdarah-darah:
- Air mata: Ada tangisan yang menguras emosi.
- Cemoohan: Ada hinaan yang kerap merontokkan keteguhan jiwa.
- Ancaman: Ada tekanan yang meringkukkan sekujur tubuh.
- Kata-kata kasar: Ada makian yang sanggup menghentikan aliran darah.
Tiket masuk surga hanya diberikan kepada siapa yang sanggup membela agama Allah dengan harta dan jiwanya. Tanpa pengorbanan itu, keinginan kita untuk membangun peradaban hanyalah sebatas mimpi di siang bolong.
Bukankah Allah sendiri telah mengingatkan lewat firman-Nya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (QS. Al-Baqarah: 214).
Panggilan untuk Terus Melangkah
Walaupun gunung perjuangan begitu tinggi hingga membutuhkan stamina ekstra, dan meskipun masuk surga terasa begitu sulit seolah melewati lubang jarum, wahai para aktivis, teruslah melangkah walau tertatih!
Jangan membuang waktu untuk menunggu mereka yang lambat, dan jangan menoleh pada teman yang memilih jalur berbeda. Teruslah berangkat sebagaimana kafilah dagang memulai perjalanannya.
Jangan cemaskan terik matahari yang membakar padang sahara, panjangnya jalan yang membentang, atau luasnya tantangan di depan mata.
Tetaplah optimis. Insya Allah, Dia akan memberikan balasan yang setimpal, hingga akhirnya kita kembali sebagai hamba yang paling dekat di sisi-Nya.***





0 Tanggapan
Empty Comments