Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammadiyah untuk Dunia: Meneguhkan Visi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan Global

Iklan Landscape Smamda
Muhammadiyah untuk Dunia: Meneguhkan Visi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan Global
Ilustrasi
Oleh : Ramliyanto Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur

Serial tulisan menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-49 2027 (1)

Dunia sedang berubah dengan sangat cepat. Kemajuan teknologi membuat batas-batas geografis semakin kabur, tetapi pada saat yang sama dunia juga dihadapkan pada berbagai persoalan yang semakin kompleks.

Konflik bersenjata di berbagai kawasan, krisis kemanusiaan, meningkatnya arus pengungsi, perubahan iklim, kemiskinan, hingga menguatnya sentimen kebencian atas nama agama menunjukkan bahwa globalisasi tidak selalu menghadirkan kedamaian.

Dunia ternyata tidak hanya membutuhkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga membutuhkan nilai-nilai yang mampu menghadirkan harapan, keadilan, dan kemanusiaan.

Risalah Muhammadiyah Internasional dan Agenda Muktamar 2027

Dalam konteks itulah, pembahasan Risalah Muhammadiyah Internasional sebagai salah satu agenda strategis menjelang Muktamar Muhammadiyah 2027 menemukan urgensinya.

Sebagaimana yang telah diumumkan, dalam Sidang Tanwir yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 di Palu, Sulawesi Tengah, salah satu topik penting yang telah diagendakan adalah pembahasan tentang posisi, peran, serta pengembangan dakwah Muhammadiyah sebagai gerakan global.

Tentu saja, perlu menjadi kesadaran kolektif warga persyarikatan bahwa risalah ini semestinya tidak dipahami sekadar sebagai dokumen organisasi yang mengatur aktivitas Muhammadiyah di luar negeri.

Lebih dari itu, ia perlu menjadi penegasan arah baru Muhammadiyah pada abad kedua usianya: menghadirkan Islam Berkemajuan sebagai kekuatan moral, intelektual, dan kemanusiaan bagi masyarakat dunia.

Internasionalisasi Muhammadiyah yang Terus Bertumbuh

Sesungguhnya, langkah menuju ke sana telah dimulai sejak beberapa dekade terakhir.

Muhammadiyah kini memiliki jaringan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) yang tersebar di berbagai benua.

Amal usaha Muhammadiyah juga telah melampaui batas negara, mulai dari Universitas Muhammadiyah Malaysia, Muhammadiyah Australia College, layanan pendidikan di Mindanao, Filipina, hingga Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal di Kairo.

Di bidang kemanusiaan, Muhammadiyah Aid hadir membantu korban bencana dan konflik di Palestina, Bangladesh, Nepal, Turki, Maroko, dan berbagai belahan dunia lainnya.

Sementara itu, keterlibatan Muhammadiyah dalam proses perdamaian di Filipina Selatan serta berbagai forum dialog antaragama menunjukkan bahwa dakwah Persyarikatan semakin diterima sebagai mitra dalam membangun perdamaian global.

Perluasan jejaring global itu memperoleh penguatan baru ketika Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya dan Irlandia resmi diterima sebagai anggota Muslim Council of Britain (MCB).

PCIM menjadi organisasi asal Indonesia pertama, dan hingga saat pemberitaan masih satu-satunya, yang bergabung dalam dewan tersebut.

Keanggotaan ini bukan sekadar pengakuan kelembagaan, tetapi membuka ruang yang lebih luas bagi Muhammadiyah untuk memperkuat suara diaspora Indonesia, membangun jejaring dengan komunitas Muslim di Inggris, serta menghadirkan corak Islam Indonesia yang berkemajuan, moderat, dan berorientasi pada kemanfaatan.

Dari Kepemilikan Aset hingga Pembangunan Peradaban

Bahkan, langkah terbaru berupa akuisisi sebuah bangunan bersejarah di Alcalá de Henares, Madrid, Spanyol, memiliki makna yang jauh melampaui kepemilikan sebuah aset.

Bangunan tersebut direncanakan menjadi masjid, pusat pendidikan, pusat kebudayaan, sekaligus ruang dialog antariman.

SMPM 5 Pucang SBY

Di saat yang sama, Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta secara konsisten menyiapkan kader-kader muda yang berdakwah ke berbagai negara melalui program internasional, dilengkapi penguatan bahasa asing, kurikulum internasional, dan jejaring pendidikan global.

Semua itu menunjukkan bahwa internasionalisasi Muhammadiyah bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah kenyataan yang terus bertumbuh.

Mengukur Internasionalisasi dari Dampak bagi Dunia

Namun, di tengah berbagai capaian tersebut, ada satu pertanyaan yang layak menjadi bahan perenungan menjelang Muktamar 2027.

Apakah internasionalisasi Muhammadiyah cukup diukur dari semakin banyaknya cabang, sekolah, universitas, atau negara yang berhasil dijangkau?

Ataukah sesungguhnya yang lebih penting adalah sejauh mana Muhammadiyah mampu memberi pengaruh positif bagi peradaban dunia?

Pertanyaan ini menjadi penting karena dalam hubungan internasional modern, pengaruh sebuah institusi tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kekuatan politik ataupun ekonomi.

Joseph S. Nye, pakar politik Universitas Harvard, memperkenalkan konsep soft power, yakni kemampuan memengaruhi pihak lain melalui daya tarik nilai, budaya, gagasan, pendidikan, dan legitimasi moral, bukan melalui paksaan.

Dalam perspektif ini, Muhammadiyah sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar. Pendidikan, pelayanan kesehatan, filantropi, dakwah yang moderat, pengembangan ilmu pengetahuan, dan komitmen terhadap kemanusiaan merupakan bentuk-bentuk soft power yang selama lebih dari satu abad telah menjadi identitas Persyarikatan.

Muhammadiyah sebagai Gerakan Global

Karena itu, menurut hemat penulis, Risalah Muhammadiyah Internasional hendaknya tidak berhenti pada strategi memperluas kehadiran organisasi di berbagai negara.

Risalah tersebut perlu menegaskan orientasi yang lebih mendasar, yakni menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan yang memproduksi gagasan, membangun jejaring ilmu pengetahuan, memperkuat diplomasi kemanusiaan, dan menyiapkan kader-kader global yang mampu berdialog lintas bahasa, budaya, dan peradaban tanpa kehilangan jati diri Islam Berkemajuan.

Dunia membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok, lebih banyak kolaborasi daripada konfrontasi, dan lebih banyak keteladanan daripada sekadar retorika.

Di ruang inilah Muhammadiyah memiliki peluang sekaligus tanggung jawab untuk mengambil peran yang lebih besar.

Pada abad pertama, Muhammadiyah membuktikan bahwa dakwah dapat diwujudkan melalui sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat yang memberi manfaat nyata bagi Indonesia.

Memasuki abad kedua, tantangan itu meluas ke tingkat global. Yang perlu diperluas bukan semata-mata organisasi, melainkan kebermanfaatannya.

Sebab, pada akhirnya, kebesaran sebuah gerakan tidak diukur dari seberapa banyak cabang yang dimilikinya, tetapi dari seberapa luas manfaat yang mampu dihadirkannya bagi kemanusiaan.

Barangkali, di sinilah makna terdalam Risalah Muhammadiyah Internasional. Bukan sekadar membawa Muhammadiyah ke berbagai penjuru dunia, melainkan menghadirkan nilai-nilai Islam Berkemajuan untuk dunia.

Revisi Oleh:
  • Satria - 21/09/2026 20:23
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu