Muhammadiyah sejak masa awal berdirinya telah memiliki daya tarik yang kuat bagi masyarakat. Pada era kolonial sebelum Indonesia merdeka, sosok KH Ahmad Dahlan menjadi magnet utama yang menarik perhatian umat Islam dari berbagai daerah.
Sebagai ulama yang dikenal memiliki keluasan ilmu, keteladanan akhlak, dan semangat pembaruan, KH Ahmad Dahlan berhasil membangun kepercayaan masyarakat. Dalam berbagai kunjungannya ke sejumlah wilayah di Nusantara, mulai Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Sulawesi, banyak tokoh dan ulama yang kemudian tertarik bergabung serta mendirikan Muhammadiyah di daerah masing-masing.
Interaksi langsung dengan pendiri Muhammadiyah tersebut menjadi pintu masuk lahirnya cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai daerah.
Memasuki era setelah kemerdekaan hingga masa reformasi, daya tarik Muhammadiyah mengalami perubahan. Jika dahulu figur KH Ahmad Dahlan menjadi pusat perhatian, kini peran tersebut lebih banyak diambil oleh amal usaha Muhammadiyah yang berkembang di berbagai sektor.
Bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah, ekonomi, kemanusiaan, hingga pelayanan masyarakat menjadi wajah nyata Muhammadiyah yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas.
Keberadaan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai lembaga sosial Muhammadiyah membuat banyak masyarakat yang awalnya tidak mengenal Muhammadiyah menjadi tertarik untuk mendekat dan bergabung.
Tidak sedikit pula keluarga dari latar belakang organisasi lain yang mempercayakan pendidikan anak-anak mereka di lembaga pendidikan Muhammadiyah, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Menurut penulis, perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong lahirnya kader-kader baru Muhammadiyah dari berbagai latar belakang sosial maupun organisasi.
Muhammadiyah memiliki sejumlah organisasi otonom (Ortom) yang berfungsi sebagai ruang kaderisasi sekaligus pintu masuk bagi masyarakat yang ingin mengenal persyarikatan lebih dekat.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Hizbul Wathan, hingga Aisyiyah menjadi wadah pembinaan yang selama ini berhasil melahirkan banyak kader.
Melalui aktivitas organisasi, interaksi sosial, diskusi, serta keterlibatan dalam berbagai program kemasyarakatan, banyak pendatang baru yang kemudian semakin memahami dan mencintai Muhammadiyah.
Kedekatan dengan tokoh, budaya organisasi yang tertib, serta suasana persaudaraan yang kuat menjadi faktor yang memperkuat proses kaderisasi tersebut.
Di sisi lain, penulis menilai masuknya pendatang baru juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi Muhammadiyah.
Tidak semua pendatang baru datang tanpa membawa kepentingan. Sebagian berasal dari organisasi, kelompok, atau latar belakang ideologi tertentu yang berpotensi memengaruhi arah gerak persyarikatan apabila tidak dikelola dengan baik.
Kepentingan tersebut dapat berupa kepentingan politik, ekonomi, maupun penyebaran manhaj dan pemikiran tertentu yang berbeda dengan garis perjuangan Muhammadiyah.
Meski demikian, Muhammadiyah dinilai memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai dinamika tersebut. Sejarah menunjukkan bahwa persyarikatan tetap mampu mempertahankan identitasnya meskipun berhadapan dengan beragam pengaruh dari luar.
Menurut penulis, salah satu langkah penting untuk menjaga kekuatan Muhammadiyah adalah memperkuat proses kaderisasi berbasis Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Materi seperti AD/ART Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, serta konsep Islam Berkemajuan perlu terus ditanamkan kepada seluruh kader, termasuk mereka yang baru bergabung.
Selain itu, pemberian amanah dalam mengelola amal usaha dan kegiatan persyarikatan juga dapat menjadi sarana untuk mengukur komitmen serta integritas kader dalam menjalankan tugas organisasi.
Dengan sistem organisasi yang mapan, pengalaman panjang dalam berdakwah, serta proses kaderisasi yang berkelanjutan, Muhammadiyah diyakini memiliki fondasi yang kuat untuk tetap menjaga jati dirinya di tengah berbagai dinamika sosial, politik, maupun ideologi yang terus berkembang.





0 Tanggapan
Empty Comments