Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammadiyah Pembelajar: Budaya Belajar sebagai Penentu Masa Depan Persyarikatan

Iklan Landscape Smamda
Muhammadiyah Pembelajar: Budaya Belajar sebagai Penentu Masa Depan Persyarikatan
Ramliyanto. Foto; Dok/Pri
Oleh : Ramliyanto Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur

Ada organisasi yang bertahan karena kekuatan ekonomi. Ada yang tumbuh karena pengaruh politik. Ada pula yang mampu melewati pergantian zaman karena memiliki tradisi organisasi yang kuat. Muhammadiyah memiliki sesuatu yang lebih mendasar: budaya belajar.

Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, Muhammadiyah tumbuh dari tradisi intelektual seorang pencari ilmu bernama K.H. Ahmad Dahlan.

Dari semangat belajar itulah lahir keberanian untuk bertanya, menguji kebiasaan, menerima gagasan baru, dan menerjemahkan ilmu menjadi amal nyata. Barangkali di situlah salah satu rahasia panjang umur Muhammadiyah.

Sebab organisasi yang berhenti belajar pada akhirnya akan berhenti bertumbuh. Sebaliknya, organisasi yang terus belajar akan selalu memiliki kemampuan untuk membaca perubahan dan menemukan cara baru untuk menjawab tantangan zaman.

Jejak budaya belajar Muhammadiyah dapat ditelusuri dari perjalanan intelektual K.H. Ahmad Dahlan.

Ketika menunaikan ibadah haji dan bermukim di Tanah Suci, beliau tidak sekadar menjalankan ritual keagamaan. Di Makkah, cakrawala pemikirannya berkembang melalui perjumpaan dengan gagasan-gagasan pembaruan Islam yang berkembang pada masa itu.

Pemikiran Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaluddin Al-Afghani turut memperkenalkan perspektif baru tentang pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan sunah, sekaligus membangun kesadaran umat Islam agar terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan kemajuan zaman.

Ketika kembali ke Yogyakarta, yang dibawa K.H. Ahmad Dahlan bukan hanya pengalaman spiritual. Ada sesuatu yang jauh lebih besar: semangat intelektual untuk melakukan perubahan. Semangat itulah yang kemudian menemukan bentuknya dalam Muhammadiyah.

Gerakan ini tidak lahir dari gedung yang megah. Ia tumbuh dari ruang sederhana, dari proses belajar yang berlangsung dalam suasana yang mungkin jauh dari bayangan kita tentang sebuah organisasi besar.

Di ruang tamu rumah KH. Ahmad Dahlan yang berukuran sekitar enam kali dua setengah meter, sejumlah murid belajar agama dengan pendekatan yang berbeda dari kebiasaan zamannya.

Dari ruang kecil itu, sejarah kemudian bergerak. Lebih dari satu abad kemudian, gerakan yang bermula dari ruang belajar tersebut telah berkembang menjadi jaringan besar yang menaungi sekolah, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, lembaga sosial, dan berbagai amal usaha di Indonesia maupun mancanegara.

Ada jarak yang luar biasa antara ruang belajar yang sederhana itu dengan luasnya Muhammadiyah hari ini. Namun, ada satu benang merah yang menghubungkan keduanya: belajar.

Para perintis Muhammadiyah bukan sekadar orang-orang yang pandai mengajar. Mereka adalah pribadi-pribadi yang bersedia terus belajar.

Bersama R.H. Syarkawi, H. Abdul Gani, H. Syuja’, H. Hisyam, H. Fachrodin, H. Tamimuddari, serta tokoh-tokoh lain seperti K.H. Sangidu dan Nyai Ahmad Dahlan, K.H. Ahmad Dahlan membangun sebuah gerakan yang berani menguji kebiasaan lama dengan cahaya ilmu.

Ketika sistem pendidikan modern diperkenalkan dengan meja, kursi, papan tulis, serta pelajaran ilmu umum, mereka tidak sibuk mempertanyakan dari mana metode itu berasal. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah metode tersebut dapat menghasilkan pendidikan yang lebih baik?

Ketika ilmu falak memberikan perhitungan arah kiblat yang lebih akurat, K.H. Ahmad Dahlan berani mengikuti hasil kajian ilmiah meskipun keputusan tersebut menimbulkan kontroversi.

Di sini kita menemukan salah satu karakter penting Muhammadiyah: tidak alergi terhadap sesuatu yang baru hanya karena ia baru.

Yang menjadi ukuran bukan semata-mata dari mana sebuah gagasan berasal, tetapi apakah gagasan tersebut benar, bermanfaat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan serta sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Sikap semacam itu membutuhkan keberanian intelektual. Dan keberanian intelektual hanya mungkin lahir dari budaya belajar.

Pembaruan Selalu Mengandung Risiko

Karena itu, berbagai tantangan yang dihadapi Muhammadiyah pada masa awal sesungguhnya tidak semata-mata merupakan penolakan terhadap sebuah organisasi baru. Di baliknya terdapat benturan antara cara berpikir lama dengan gagasan pembaruan yang dibawa K.H. Ahmad Dahlan dan para pengikutnya.

Tuduhan sebagai “kiai kafir”, pembongkaran langgar K.H. Ahmad Dahlan, hingga berbagai hambatan administratif pada masa kolonial menjadi bagian dari dinamika tersebut.

Namun, semua itu tidak menghentikan langkah Muhammadiyah. Para pendirinya tampaknya memahami satu hukum sederhana dalam perubahan: belajar dan memperbarui diri sering kali menghadirkan ketidaknyamanan.

Sebab, belajar berarti bersedia mengakui bahwa pengetahuan kita mungkin belum lengkap. Belajar berarti membuka ruang bagi kemungkinan bahwa cara yang selama ini dianggap benar ternyata masih dapat diperbaiki.

Di situlah budaya belajar menjadi penting bagi sebuah organisasi. Organisasi pembelajar tidak menganggap pengalaman masa lalu sebagai alasan untuk berhenti berubah.

Sebaliknya, pengalaman masa lalu digunakan sebagai pijakan untuk membaca masa depan.

Muhammadiyah kemudian membuktikan bahwa belajar bukan sekadar aktivitas intelektual. Pengetahuan harus berujung pada amal.

Pendidikan dikembangkan melalui sekolah dan madrasah yang memadukan ilmu agama dengan ilmu umum. Pengajaran tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi diarahkan untuk membentuk manusia yang mampu menghadirkan manfaat.

Begitu pula dengan spirit Surah Al-Ma’un. Ia tidak berhenti sebagai materi pengajian. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diterjemahkan menjadi gerakan sosial: panti asuhan, rumah sakit, pelayanan kesehatan, filantropi, dan berbagai bentuk pelayanan kemanusiaan.

Inilah karakter penting Muhammadiyah: ilmu harus menemukan jalan menuju amal.

Dengan demikian, belajar dalam Muhammadiyah seharusnya tidak dimaknai sekadar sebagai aktivitas menambah pengetahuan. Belajar adalah proses untuk mengubah cara berpikir, memperbaiki cara bekerja, melahirkan inovasi, dan pada akhirnya menghadirkan kemaslahatan.

Muhammadiyah dan Gagasan Learning Organization

Menariknya, apa yang telah dipraktikkan Muhammadiyah sejak awal berdirinya memiliki irisan kuat dengan gagasan learning organization yang dikembangkan Peter M. Senge dalam The Fifth Discipline (1990).

Senge memandang organisasi pembelajar sebagai organisasi yang mampu terus mengembangkan kapasitasnya untuk menciptakan masa depan. Organisasi tidak hanya bereaksi terhadap perubahan, tetapi belajar membaca perubahan, beradaptasi, dan membangun kemampuan baru.

Jika perspektif ini digunakan untuk membaca perjalanan Muhammadiyah, kita menemukan sebuah paradoks yang menarik.

Muhammadiyah telah berusia lebih dari satu abad. Tetapi untuk tetap hidup, Muhammadiyah justru harus terus menjadi organisasi yang mau belajar seperti organisasi yang baru tumbuh.

Usia panjang tidak boleh berubah menjadi rasa cukup. Besarnya amal usaha tidak boleh melahirkan kepuasan untuk berhenti berinovasi.

Banyaknya anggota tidak boleh membuat Persyarikatan kehilangan kepekaan terhadap perubahan masyarakat.

Sebaliknya, semakin besar Muhammadiyah, semakin besar pula kebutuhan untuk belajar.

SMPM 5 Pucang SBY

Belajar dari perkembangan ilmu pengetahuan. Belajar dari teknologi. Belajar dari perubahan perilaku generasi muda.

Belajar dari perkembangan dunia pendidikan. Belajar dari dinamika ekonomi dan sosial. Belajar dari persoalan kesehatan.

Bahkan belajar dari berbagai kesalahan dan kekurangan yang mungkin terjadi dalam perjalanan organisasi.

Bukan Lagi Sekadar Bertahan

Dunia berubah jauh lebih cepat dibandingkan satu abad lalu. Kecerdasan buatan, digitalisasi, perubahan demografi, ekonomi berbasis pengetahuan, perubahan pola komunikasi, krisis lingkungan, serta transformasi dunia kerja telah menciptakan tantangan baru.

Generasi muda Muhammadiyah juga tumbuh dalam ekosistem yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Mereka belajar melalui berbagai sumber. Mereka berinteraksi dengan dunia tanpa batas geografis. Mereka terbiasa memperoleh informasi dalam hitungan detik. Mereka juga memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap organisasi, pendidikan, kepemimpinan, dan pelayanan publik.

Dalam situasi seperti ini, Muhammadiyah tidak cukup hanya mewariskan apa yang telah dilakukan generasi sebelumnya.

Muhammadiyah perlu mewariskan kemampuan untuk belajar. Ini jauh lebih penting. Sebab, kita tidak mungkin mengetahui seluruh persoalan yang akan dihadapi Muhammadiyah dalam 20, 30, atau 50 tahun mendatang. Tetapi kita dapat memastikan bahwa ketika persoalan itu datang, Persyarikatan memiliki kader, pimpinan, amal usaha, dan ekosistem yang mampu mempelajarinya.

Dengan kata lain, yang perlu diwariskan bukan hanya jawaban, tetapi juga kemampuan menemukan jawaban baru.

Menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-49 pada 2027, penguatan budaya belajar layak ditempatkan sebagai salah satu agenda strategis Persyarikatan.

Muktamar tentu akan membahas program kerja, kepemimpinan, struktur organisasi, serta arah gerakan untuk periode mendatang. Namun, ada pertanyaan yang tidak kalah penting:

Apakah Muhammadiyah telah menjadi organisasi pembelajar?

Pertanyaan tersebut perlu dibawa ke berbagai lapisan Persyarikatan.

Apakah majelis dan lembaga memiliki budaya evaluasi dan pembelajaran yang kuat?

Apakah amal usaha pendidikan terus belajar mengembangkan model pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa depan?

Apakah rumah sakit Muhammadiyah terus belajar dari perkembangan teknologi kesehatan?

Apakah kader diberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, bereksperimen, dan mengembangkan gagasan baru?

Apakah pimpinan mampu menerima kritik sebagai bahan pembelajaran?

Dan yang tidak kalah penting: apakah generasi muda merasa Muhammadiyah sebagai ruang yang memungkinkan mereka bertumbuh?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting karena program kerja dapat berubah. Struktur organisasi dapat berubah. Bahkan kepemimpinan akan selalu berganti.

Tetapi budaya belajar harus menjadi napas yang terus hidup.

Muhammadiyah membutuhkan ekosistem di mana setiap pimpinan, kader, majelis, lembaga, dan amal usaha tidak hanya bekerja, tetapi juga belajar dari apa yang dikerjakannya.

Kegagalan dievaluasi. Keberhasilan dipelajari. Praktik baik dibagikan. Inovasi diuji. Pengetahuan didokumentasikan. Dan pengalaman satu bagian Persyarikatan menjadi pengetahuan bagi bagian lainnya.

Jika itu terjadi, Muhammadiyah bukan hanya memiliki banyak amal usaha. Muhammadiyah memiliki ekosistem pengetahuan yang terus berkembang.

Besar dan Terus Bertumbuh

Pada akhirnya, warisan terbesar K.H. Ahmad Dahlan bukan semata-mata sebuah organisasi yang kini telah berusia lebih dari satu abad.

Warisan itu adalah semangat untuk terus belajar, berpikir, dan memperbarui diri demi kemaslahatan umat. Muhammadiyah menjadi besar karena berani belajar.

Belajar dari Al-Qur’an dan Sunnah. Belajar dari perkembangan ilmu pengetahuan. Belajar dari pengalaman umat manusia. Belajar dari perubahan zaman. Dan yang paling penting, belajar menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi amal yang memberikan manfaat.

Jika pada abad pertama Muhammadiyah membuktikan bahwa budaya belajar mampu melahirkan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha yang memberi manfaat bagi bangsa, maka tantangan abad kedua lebih besar lagi.

Muhammadiyah perlu menjadikan seluruh Persyarikatan sebagai ekosistem pembelajar.

Sebab dunia tidak sedang menunggu organisasi yang sekadar besar. Dunia membutuhkan organisasi yang mampu terus bertumbuh.

Organisasi yang tidak takut mengakui bahwa ada hal-hal yang belum diketahui. Organisasi yang mau mendengar. Organisasi yang bersedia menguji kembali cara-cara lama.

Organisasi yang mampu mengubah pengetahuan menjadi inovasi dan inovasi menjadi kemaslahatan. Dan organisasi yang tetap teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah sembari terbuka membaca perubahan zaman.

Mungkin inilah salah satu cara terbaik untuk merawat warisan K.H. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah harus terus belajar agar terus berkemajuan.

Karena pada akhirnya, masa depan Persyarikatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar Muhammadiyah hari ini, tetapi oleh seberapa kuat kemauan Muhammadiyah untuk terus belajar menghadapi hari esok. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 04/08/2026 07:51
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu