Inovasi kembali dihadirkan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Terpadu (KKN-T) Kelompok 26 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Kali ini, mereka menggelar Workshop Pembuatan Lilin Aromaterapi Berbahan Minyak Jelantah dengan produk inovatif bertajuk “Jela-Terapi”.
Agenda tersebut berlangsung di Pendopo Griyo Asmoro, Desa Watesari, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo pada Minggu (2/8/2026) pukul 09.00 WIB.
Kegiatan yang terlaksana bersama ibu-ibu Desa Watesari ini bertujuan memberikan edukasi mengenai pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk yang lebih bermanfaat, bernilai ekonomis, sekaligus ramah lingkungan.
Melalui workshop ini, mahasiswa KKN-T Kelompok 26 ingin mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap minyak jelantah yang selama ini sering dianggap sebagai limbah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna dan nilai jual.
Edukasi Pengelolaan Limbah Rumah Tangga
Workshop ini merupakan salah satu program kerja mahasiswa KKN-T Kelompok 26 yang mengangkat tema pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai tambah.
Selain menjadi solusi dalam mengurangi limbah minyak jelantah, kegiatan ini harapannya juga mampu menumbuhkan semangat berwirausaha melalui produk sederhana yang dapat dibuat menggunakan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Ketua KKN-T Kelompok 26 Umsida, M Bagus Achsanul Qolbi, menjelaskan bahwa ide pelaksanaan workshop berawal dari hasil observasi mahasiswa selama menjalankan KKN di Desa Watesari.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menggunakan minyak jelantah secara berulang maupun membuangnya langsung ke saluran air. Padahal kebiasaan tersebut dapat berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan.
“Saat kami melakukan observasi, kami melihat masih banyak minyak jelantah yang digunakan berulang kali untuk memasak atau dibuang begitu saja” terang Bagus.
Padahal, menurutnya, penggunaan minyak jelantah secara terus-menerus dapat membahayakan kesehatan, sedangkan pembuangannya ke saluran air atau tanah juga dapat mencemari lingkungan.
“Melalui Jela-Terapi, kami ingin mengajak masyarakat mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang lebih bermanfaat, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi” ujar Bagus.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa KKN-T Kelompok 26 mendampingi peserta secara langsung mulai dari pengenalan alat dan bahan, proses pemurnian minyak jelantah, pembuatan lilin aromaterapi, hingga teknik pengemasan produk agar memiliki tampilan yang menarik dan siap digunakan maupun dipasarkan.
Belajar Membuat Lilin Aromaterapi Jela-Terapi
Dalam workshop tersebut, peserta mempraktikkan secara langsung proses pembuatan lilin aromaterapi Jela-Terapi. Tahap pertama diawali dengan pemurnian minyak jelantah, yaitu minyak yang telah direndam menggunakan arang selama 24–48 jam kemudian diendapkan agar kotoran dan bau berkurang.
Setelah itu, minyak dipisahkan dari endapan, disaring, lalu dipanaskan pada suhu sekitar 70–80 derajat celcius selama 15–20 menit untuk mengurangi kadar air sehingga menghasilkan minyak yang lebih bersih dan siap digunakan.
Tahap berikutnya adalah persiapan wadah lilin dengan memasang sumbu tepat di bagian tengah wadah agar tetap tegak saat proses pencetakan.
Selanjutnya, parafin dilelehkan menggunakan metode double boiler, kemudian dicampurkan dengan stearin hingga homogen. Setelah itu, minyak jelantah yang telah dimurnikan ditambahkan ke dalam campuran tersebut sambil terus diaduk hingga seluruh bahan tercampur rata.
Setelah suhu campuran menurun, peserta menambahkan minyak esensial sebagai aroma terapi serta pewarna sesuai selera. Seluruh bahan kemudian diaduk perlahan hingga merata sebelum dituangkan ke dalam wadah yang telah dipasang sumbu.
Lilin selanjutnya didiamkan pada suhu ruang selama 12–24 jam hingga mengeras, kemudian sumbu dipotong sesuai ukuran dan produk disimpan selama 24–48 jam agar menghasilkan kualitas pembakaran yang lebih baik sebelum digunakan.
Selain memberikan keterampilan dalam mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat, mahasiswa juga mengedukasi peserta mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui pengelolaan limbah rumah tangga.
Inovasi Jela-Terapi harapannya dapat menjadi alternatif usaha rumahan yang mudah diterapkan sekaligus membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat minyak jelantah.
Antusiasme Ibu-Ibu Desa Watesari
Workshop berlangsung dengan penuh antusias. Ibu-ibu Desa Watesari tampak aktif mengikuti setiap tahapan pembuatan lilin aromaterapi, mulai dari proses pemurnian minyak hingga pencetakan produk.
Suasana semakin interaktif ketika peserta saling berbagi pengalaman mengenai pengelolaan minyak jelantah di rumah dan berdiskusi mengenai peluang pengembangan produk sebagai usaha rumahan.
Perangkat Desa Watesari, Sulisqowati, mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN-T Universitas Muhammadiyah Sidoarjo karena dinilai memberikan manfaat yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Pelatihan seperti ini sangat bermanfaat karena mengajarkan masyarakat apalagi ibu rumah tangga cara memanfaatkan minyak jelantah yang selama ini dianggap tidak berguna menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi” ujar Sulisqowati.
“Semoga ilmu yang diberikan mahasiswa dapat terus diterapkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Watesari” tuturnya.
Hal senada juga disampaikan oleh salah satu peserta workshop, Siti Qoriyah, yang mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya baru mengetahui bahwa minyak jelantah ternyata bisa diolah menjadi lilin aromaterapi yang cantik dan harum. Proses pembuatannya juga tidak terlalu sulit sehingga bisa dipraktikkan sendiri di rumah. Semoga ilmu yang kami dapat hari ini bisa menjadi bekal untuk membuat produk sendiri, bahkan kalau memungkinkan dapat menjadi tambahan penghasilan bagi keluarga” ungkapnya.
Melalui program Jela-Terapi, mahasiswa KKN-T Kelompok 26 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo berharap masyarakat Desa Watesari semakin sadar akan pentingnya mengelola limbah rumah tangga secara bijak.
Lebih dari sekadar sebuah workshop, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mengubah limbah menjadi peluang yang bermanfaat.
Dengan kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, minyak jelantah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sisa dapur kini dapat diolah menjadi lilin aromaterapi yang bernilai guna, bernilai jual, serta berpotensi mendukung perekonomian keluarga sekaligus menciptakan lingkungan Desa Watesari yang lebih bersih, kreatif, dan berkelanjutan.





0 Tanggapan
Empty Comments