Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dukung Pencegahan Stunting, KKN Pencerahan Umsida Olah Daun Kelor Jadi Puding

Iklan Landscape Smamda
Dukung Pencegahan Stunting, KKN Pencerahan Umsida Olah Daun Kelor Jadi Puding
Mahasiswa KKN P Kelompok 2 Umsida saat mempraktikkan pembuatan puding daun kelor sebagai alternatif menu pencegahan stunting, Minggu (2/8/2026). (Abdul/PWMU.CO).
pwmu.co -

Melimpahnya tanaman kelor di Desa Sumberrejo yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai sayur mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pencerahan (KKN P) Kelompok 2 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Mereka menghadirkan inovasi pengolahan daun kelor menjadi puding bergizi sebagai alternatif menu pencegahan stunting.

Program bertajuk Puding Kelor untuk Pencegahan Stunting ini berlangsung di Balai Desa Sumberrejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan pada Minggu (2/8/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri atas ibu-ibu PKK, kader Posyandu, ibu muda, serta masyarakat yang memiliki balita.

Mahasiswa tidak hanya mengenalkan cara mengolah daun kelor menjadi makanan yang lebih menarik bagi anak-anak. Namun juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi sebagai salah satu upaya mencegah stunting sejak dini.

Potensi Kelor sebagai Alternatif Menu Bergizi

Desa Sumberrejo memiliki tanaman kelor yang tumbuh cukup melimpah. Namun, selama ini pemanfaatannya masih terbatas sebagai sayur sehari-hari sehingga potensinya sebagai bahan pangan bergizi belum dimanfaatkan secara optimal.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN P 2 Umsida menghadirkan inovasi berupa puding kelor yang memiliki tekstur lembut, cita rasa manis, serta tidak meninggalkan aroma khas daun kelor sehingga lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Dalam kegiatan tersebut, Bidan Desa Sumberrejo, Novia Ulfa AMd Keb, menjelaskan pentingnya pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi yang seimbang sejak usia dini.

Menurutnya, pemanfaatan bahan pangan lokal seperti daun kelor dapat menjadi salah satu alternatif menu bergizi yang mudah diterapkan oleh masyarakat karena bahan bakunya mudah diperoleh di lingkungan sekitar.

“Pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada pemberian makanan bergizi, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan potensi pangan lokal yang tersedia” jelas Ulfa.

Daun kelor, lanjutnya,  memiliki kandungan gizi yang baik dan dapat diolah menjadi menu yang lebih menarik bagi anak-anak.

Praktik Pembuatan Puding Kelor

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan puding kelor yang dipandu oleh anggota KKN P 2, Friska Meldy Manda.

Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan mulai dari proses pengolahan daun kelor hingga menjadi puding yang siap disajikan.

Resep yang digunakan tergolong sederhana dengan biaya pembuatan sekitar Rp15.000 dan waktu pengolahan kurang lebih 25 menit, sehingga mudah dipraktekkan kembali oleh warga di rumah.

SMPM 5 Pucang SBY

Suasana praktik berlangsung interaktif. Beberapa peserta, di antaranya Dayat dan Yanti, turut mencoba secara langsung proses pembuatan puding dengan pendampingan mahasiswa KKN.

Sebanyak tiga cetakan puding berukuran besar berhasil diselesaikan pada sesi demonstrasi. Hasil olahan tersebut kemudian dicicipi bersama oleh peserta.

Tekstur yang lembut serta rasa manis membuat puding kelor lebih mudah diterima anak-anak dibandingkan olahan kelor dalam bentuk sayur.

Dorong Inovasi Menu Posyandu Berbasis Potensi Lokal

Kegiatan ini membuka wawasan peserta mengenai pemanfaatan daun kelor sebagai alternatif menu bergizi.

Jika sebelumnya kelor lebih sering diolah menjadi sayur, kini masyarakat memperoleh pilihan baru berupa puding yang lebih disukai anak-anak tanpa mengurangi manfaat gizinya.

“Ini bisa menjadi salah satu alternatif menu pada kegiatan Posyandu. Selama ini, menu tambahan yang diberikan kepada balita umumnya berupa bubur kacang hijau” tutur Yanti.

Melalui kegiatan ini, daun kelor dikenalkan sebagai pilihan bahan pangan lokal yang dapat diolah menjadi menu pendamping yang lebih bervariasi.

“Kami senang mendapatkan pengetahuan baru karena ternyata daun kelor bisa diolah menjadi puding yang rasanya enak dan disukai anak-anak. Cara membuatnya juga mudah sehingga ingin kami coba kembali di rumah” ungkapnya.

Selain memperoleh resep, peserta juga diajak memahami bahwa bahan pangan lokal yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar memiliki potensi besar untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga apabila diolah secara kreatif.

Ketua KKN P 2 Umsida, Hamka Dziyaul Haq, berharap inovasi pengolahan daun kelor ini tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat terus diterapkan oleh masyarakat.

“Harapan kami, inovasi puding kelor ini dapat terus diterapkan oleh ibu-ibu PKK maupun kader Posyandu Desa Sumberrejo sebagai salah satu alternatif menu bergizi untuk membantu upaya pencegahan stunting di lingkungan masyarakat” ujarnya.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 04/08/2026 01:09
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu