Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Muttaqien di Karangrejo, dari Asuhan Keluarga Amien Rais hingga Menjadi Tokoh Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Jejak Muttaqien di Karangrejo, dari Asuhan Keluarga Amien Rais hingga Menjadi Tokoh Muhammadiyah
Muttaqien, tokoh Muhammadiyah Karangrejo Foto: Dok/keluarga

Ada orang-orang yang berdakwah dengan panggung besar. Ada pula yang memilih jalan sunyi: menghidupkan pengajian, menggerakkan salat berjamaah, mengajak masyarakat berkurban, dan bertahan ketika jalan dakwah belum banyak mendapat tepuk tangan. Muttaqien termasuk yang kedua.

Di Karangrejo, Magetan, nama Muttaqien tidak bisa dilepaskan dari perjalanan dakwah Muhammadiyah sejak dekade 1980-an. Ia bukan tokoh yang tumbuh dari kemewahan fasilitas organisasi. Sebaliknya, ia bergerak dengan segala keterbatasan waktu dan sarana.

Profesi sebagai guru tidak membuat langkahnya dalam berdakwah melambat. Di sela kesibukan mengajar, ia tetap menyempatkan diri menghidupkan pengajian dan berbagai kegiatan keagamaan. Ada panggilan yang terus mendorongnya untuk bergerak: suara hati untuk bermuhammadiyah.

Bagi Muttaqien, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi yang namanya tercatat dalam struktur kepengurusan. Muhammadiyah menjadi jalan pengabdian yang dijalani dengan keteguhan.

Jejak itu kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan Muhammadiyah di Karangrejo. Dari Solo, mengenal pemikiran Amien Rais

Keteguhan Muttaqien dalam bermuhammadiyah tidak lahir begitu saja. Ada pengalaman masa muda yang ikut membentuk cara pandangnya. Salah satunya kedekatan dengan keluarga Amien Rais ketika Muttaqien masih muda.

Menurut putranya, Ushuludin Ghoni, ayahnya sejak duduk di bangku SMP hingga SMA diasuh oleh orang tua Amien Rais ketika berada di Solo.

Kedekatan itu membuat Muttaqien muda cukup akrab dengan Amien Rais yang saat itu dikenal sebagai salah satu intelektual muda Muhammadiyah.

“Bapak sejak SMP sampai SMA diasuh orang tua Amien Rais saat di Solo. Setiap hari bertemu dan berkomunikasi dengan Pak Amien Rais,” kata Ghoni.

Hubungan itu semakin dekat karena masih terdapat hubungan kekerabatan antara keluarga Muttaqien dan keluarga Amien Rais.

“Kebetulan masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga Amien Rais,” ujarnya.

Pertemuan dan komunikasi yang berlangsung sejak masa muda tersebut meninggalkan pengaruh dalam cara pandang Muttaqien. Menurut Ghoni, pemikiran sosial politik Amien Rais ikut memberi warna pada pandangan politik sang ayah.

Pengalaman masa muda di Solo itu menjadi salah satu potongan penting dalam membentuk sosok Muttaqien. Dia tumbuh sebagai pribadi yang memiliki pendirian kuat, termasuk dalam memandang kehidupan bermasyarakat dan menjalankan keyakinan keagamaannya.

Guru yang Disiplin

Di luar aktivitas Muhammadiyah, Muttaqien dikenal sebagai seorang guru. Dia mengabdikan diri sebagai guru di SMP Negeri 1 Karangrejo, Magetan. Di lingkungan sekolah, sosoknya dikenal tegas, disiplin, bahkan terkesan galak.

Banyak murid yang mungkin pernah merasa gentar ketika berhadapan dengannya. Namun, bertahun-tahun kemudian, ketegasan itu justru menjadi bagian dari sosok guru yang dikenang.

Ghoni, yang juga menjadi Bendahara Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Karangrejo, mengatakan ayahnya memang dikenal sebagai guru yang keras dalam menerapkan kedisiplinan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah dilepaskannya dari kehidupan sekolah: nilai-nilai keislaman.

“Bapak selalu menghidupkan suasana Islami di sekolahan, dalam hal menggerakkan kegiatan salat, salat Id, dan ibadah kurban di sekolahan,” tuturnya.

Di sinilah karakter Muttaqien sebagai guru dan aktivis Muhammadiyah seperti menemukan titik temu.

Dia tidak hanya mengajar mata pelajaran di ruang kelas. Dia berusaha menghadirkan praktik keberagamaan dalam kehidupan sekolah.

Salat, salat Id, dan kurban tidak berhenti sebagai ritual, tetapi menjadi bagian dari budaya yang ia coba tumbuhkan di lingkungan pendidikan.

Ketegasan yang sama juga terasa di rumah. Bagi anak-anaknya, Muttaqien adalah sosok ayah yang keras dan tegas. Ada rasa takut, tetapi pada saat yang sama tumbuh rasa hormat dan sayang.

Ketika anak-anaknya mulai berkeluarga dan hidup mandiri, sikap itu tidak berubah menjadi jarak. Muttaqien tetap hadir memberikan dukungan dan penguatan.

Ketegasan baginya rupanya bukan sekadar watak. Ada prinsip yang ingin ia tanamkan kepada anak-anaknya: hidup harus memiliki pendirian.

Teguh ketika menjadi minoritas Prinsip itu pula yang tampak dalam perjalanan Muttaqien bersama Muhammadiyah.

Menurut Ghoni, ayahnya termasuk sosok yang teguh memegang pendirian. Sebagai warga Muhammadiyah, ia berusaha menjalankan komitmen terhadap keputusan-keputusan Muhammadiyah.

Pada masa awal menetap di Karangrejo, pilihan keberagamaan yang dijalani Muttaqien tidak selalu mudah. Dia datang sebagai pendatang dan berada di tengah masyarakat yang telah memiliki tradisi serta kebiasaan yang mengakar.

Keteguhannya menjalankan paham keagamaan Muhammadiyah bahkan sempat membuatnya menghadapi berbagai fitnah.

Namun, Muttaqien tidak memilih mundur. Dia tetap menjalankan keyakinannya dan terus berusaha membangun hubungan dengan masyarakat.

Waktu kemudian membuktikan bahwa keteguhan tidak selalu berakhir dengan pertentangan. Perlahan, kehadirannya justru mendapatkan kepercayaan.

Puncaknya, seorang pendatang seperti Muttaqien dipercaya menjadi kepala Desa Patihan, Karangrejo, Magetan.

“Meskipun demikian, masyarakat mempercayakan Bapak menjadi kepala Desa Patihan walaupun beliau sebagai seorang pendatang,” kata Ghoni.

SMPM 5 Pucang SBY

Kepercayaan itu menjadi bukti bahwa aktivitas dakwah dan keteguhan prinsip tidak membuat Muttaqien kehilangan ruang untuk membangun hubungan sosial. Sebaliknya, konsistensi yang dijalani bertahun-tahun justru melahirkan kepercayaan masyarakat.

Menjadi Ketua PCM selama 15 Tahun

Perjalanan Muttaqien di Muhammadiyah Karangrejo juga tidak sebentar. Dia dipercaya menjadi Ketua PCM Karangrejo pada rentang 1985 hingga 2000. Selama sekitar 15 tahun, ia berada di salah satu posisi penting dalam menggerakkan organisasi di tingkat cabang.

Masa itu bukan masa ketika Muhammadiyah bisa mengandalkan berbagai kemudahan teknologi komunikasi seperti sekarang. Menggerakkan pengajian, menghimpun kader, membangun kegiatan keagamaan, dan mempertahankan eksistensi organisasi membutuhkan ketekunan.

Muttaqien menjalaninya di sela profesinya sebagai guru. Ada waktu yang harus dibagi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan Muhammadiyah. Tetapi keterbatasan waktu tidak membuatnya berhenti.

Pengajian tetap digelar. Kegiatan keislaman terus dihidupkan. Muhammadiyah tetap dirawat melalui orang-orang yang bersedia meluangkan tenaga dan pikiran.

Pada masa kepemimpinannya itu pula, Muttaqien menjadi bagian dari dinamika Muhammadiyah yang lebih luas.

Pada Muktamar Muhammadiyah di Aceh tahun 1995, ia bersama kader Muhammadiyah Magetan turut hadir sebagai penggembira.

Mungkin kehadirannya bukan sesuatu yang tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa besar. Namun, bagi seorang aktivis cabang, hadir dalam muktamar adalah bagian dari pengalaman yang mempertemukan dirinya dengan denyut Muhammadiyah dari berbagai daerah.

Di sana, Muhammadiyah tidak hanya terlihat sebagai organisasi di Karangrejo. Ia melihat sebuah gerakan yang lebih besar, dengan jaringan dan perjuangan yang membentang dari satu daerah ke daerah lainnya.

Menjadi Kepala Desa

Tahun 2006. menjadi babak baru dalam perjalanan hidup Muttaqien. Setelah bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai guru SMP Negeri 1 Karangrejo, dia melepaskan profesinya karena dipercaya menjadi kepala Desa Patihan selama satu periode.

Peralihan dari ruang kelas ke pemerintahan desa tentu bukan perubahan kecil.

Selama menjadi guru, dia berhadapan dengan murid dan dunia pendidikan. Sebagai kepala desa, lingkup pengabdiannya menjadi lebih luas. Ia harus berhadapan dengan masyarakat dengan beragam latar belakang, kebutuhan, dan kepentingan.

Namun, karakter yang dibawanya tetap sama: tegas, disiplin, dan teguh pada prinsip.

Karangrejo kemudian menjadi ruang panjang pengabdian seorang Muttaqien. Ia datang sebagai pendatang, menjalani masa-masa sulit, menghadapi fitnah, tetapi pada akhirnya memperoleh kepercayaan masyarakat.

Di Muhammadiyah, ia menjadi bagian dari generasi yang menjaga api dakwah ketika organisasi masih bertumbuh. Di sekolah, ia dikenal sebagai guru yang keras tetapi meninggalkan kesan mendalam. Di desa, ia dipercaya menjadi kepala desa.

Tiga ruang pengabdian itu—sekolah, Muhammadiyah, dan masyarakat—seperti tiga sisi dari satu pribadi yang sama.

Sang legenda yang meninggalkan jejak

Muttaqien lahir pada 1954 di Desa Bajong, Bukateja, Purbalingga, Banyumas.

Dia kemudian datang ke Magetan dan menetap di Desa Patihan, Kecamatan Karangrejo. Dari tempat itulah sebagian besar perjalanan pengabdiannya berlangsung.

Desember 2017 menjadi akhir perjalanan hidupnya.

Muttaqien meninggal dunia, meninggalkan keluarga, murid, kader Muhammadiyah, dan masyarakat yang pernah bersinggungan dengan perjalanan hidupnya.

Namun, kematian tidak serta-merta menghapus jejak seseorang.

Nama Muttaqien tetap hidup dalam cerita orang-orang yang pernah mengenalnya. Tentang guru yang tegas. Tentang ayah yang keras tetapi penuh perhatian.

Tentang aktivis Muhammadiyah yang tidak mudah bergeser dari prinsip. Tentang seorang pendatang yang akhirnya mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Dan terutama, tentang seorang lelaki yang memilih untuk tetap bergerak ketika jalan dakwah tidak selalu mudah.

Barangkali memang demikian cara sebuah gerakan bertahan.

Bukan semata-mata karena nama-nama besar yang berdiri di panggung, tetapi karena ada orang-orang seperti Muttaqien yang bertahun-tahun menghidupkan pengajian, menggerakkan salat, menanamkan nilai Islam di sekolah, merawat organisasi, dan tetap berjalan meski pernah menghadapi fitnah.

Dia mungkin telah pergi sejak Desember 2017. Tetapi api yang pernah dinyalakannya di Karangrejo tidak selesai bersama kepergiannya.

Sebab dakwah selalu memiliki cara untuk meneruskan jejak. Dan dalam ingatan Muhammadiyah Karangrejo, Muttaqien adalah salah satu nama yang pernah menjaga nyala itu. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 04/08/2026 05:57
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu