Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jepara menggelar pelatihan water rescue Batch 2 di kawasan Waterboom Tiara Park, Kalinyamatan, Jepara, Ahad (20/9/2026). Pelatihan penyelamatan di air ini melibatkan anggota Basarnas dan TNI AL sebagai bagian dari pembekalan keterampilan bagi peserta.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi tersebut mengusung semboyan “Ubah Ketakutan Menjadi Ketangguhan, Tangguh di Darat, Ahli di Air”. Peserta mendapat pembekalan mengenai penanganan kondisi darurat di perairan yang dilanjutkan dengan praktik dan simulasi penyelamatan.
Ketua MDMC Jepara Roy Alviantoro mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya membekali relawan dengan kemampuan yang dapat digunakan dalam situasi darurat di perairan. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi bagian dari semangat Muhammadiyah dalam membantu masyarakat.
“Kegiatan ini bukan sekadar agenda pelatihan biasa, melainkan sebuah manifestasi nyata dari teologi penolong yang senantiasa dihidupkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah,” terang Roy.
Libatkan Berbagai Unsur Muhammadiyah
Pelatihan water rescue Batch 2 diikuti peserta dari berbagai unsur Muhammadiyah di Kabupaten Jepara. Peserta di antaranya berasal dari tenaga kesehatan Amal Usaha Muhammadiyah, kader Tapak Suci, pelajar, serta unsur lembaga dan organisasi di lingkungan Muhammadiyah.
Dari unsur Amal Usaha Muhammadiyah, peserta berasal dari PKU Mayong dan PKU Aisyiyah. Sementara itu, pelajar yang mengikuti kegiatan berasal dari SMA dan SMK Mayong, SMK Mlonggo, serta SMK Bangsri.
Kegiatan tersebut juga melibatkan kader Tapak Suci, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB), Lazismu, serta Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Dorang.
Menurut Roy, keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kemampuan penanggulangan bencana di lingkungan Muhammadiyah Jepara.
Peserta Belajar Teori hingga Simulasi
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teoretis, tetapi juga mengikuti praktik di kawasan perairan. Materi diberikan secara bertahap untuk mengenalkan kondisi dan risiko yang dapat dihadapi dalam penyelamatan di air.
Peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan arus air, teknik dasar bertahan hidup di air atau survival, penggunaan alat pelindung diri (APD) dan pelampung, serta teknik renang pertolongan atau rescue swimming.
Materi kemudian dilanjutkan dengan simulasi evakuasi korban tenggelam. Melalui simulasi tersebut, peserta berlatih menerapkan teknik yang telah dipelajari dalam situasi yang menyerupai kondisi darurat di perairan.
Pelatihan tersebut melibatkan instruktur dan pelatih yang memiliki pengalaman dalam bidang penyelamatan di air. Di antaranya Taqiyuddin, Didik Zaen, dan Tim SAR MDMC Cilacap.
Keterlibatan instruktur dari unsur yang memiliki pengalaman di bidang penyelamatan diharapkan dapat memberikan pemahaman teknis kepada peserta mengenai prosedur dan keselamatan dalam melakukan pertolongan di air.
Roy mengatakan pelatihan tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan teknis peserta, tetapi juga membangun kesiapan relawan ketika menghadapi kondisi darurat.
“Solidnya kolaborasi lintas unsur Persyarikatan menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Peserta tidak hanya berasal dari satu unsur, tetapi dari berbagai lini yang memiliki peran dalam pelayanan sosial dan kemanusiaan,” imbuhnya.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat menjadi bekal ketika mereka terlibat dalam penanganan kondisi darurat, khususnya yang berkaitan dengan penyelamatan di perairan.
“Dengan berakhirnya pelatihan ini, Kabupaten Jepara kini memiliki tambahan barisan manusia-manusia tangguh yang siap siaga mendedikasikan diri bagi kemanusiaan, sejalan dengan napas Islam berkemajuan: tangguh di darat, ahli di air, siap siaga menjaga sesama,” pungkas Roy. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments