Search
Menu
Mode Gelap

Bangunan Tua Bersejarah di Ponpes Al-Ishlah Sendangagung Dirobohkan, Ini Alasannya

Bangunan Tua Bersejarah di Ponpes Al-Ishlah Sendangagung Dirobohkan, Ini Alasannya
Bangunan tua di Ponpes Al-Ishlah yang dirobohkan. Foto: Gondo Waloyo/PWMU.CO.
pwmu.co -

Bangunan midla’ah atau tempat wudu yang menjadi salah satu bangunan tertua di Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, akhirnya dirobohkan seiring pesatnya perkembangan fasilitas pesantren.

Bangunan permanen yang berdiri sejak awal perintisan pondok pesantren dan berdampingan dengan Masjid Salman Al-Farisi (1988) serta Asrama Umar bin Khattab itu dinilai tidak lagi optimal.

Kondisi tersebut disebabkan karena bangunan terhimpit sejumlah gedung baru, yakni Gedung Layanan Komunikasi Santri di sisi utara, unit usaha konfeksi koperasi di sisi timur, serta fasilitas kamar mandi dan toilet baru di sisi selatan, sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Yayasan Al-Ishlah, H. Ahmad Tohir, melalui pesan WhatsApp pada Selasa (6/1/2026).

Bangunan bersejarah ini mengingatkan pada perjalanan awal berdirinya Ponpes Al-Ishlah. Sejumlah tokoh terlibat dalam pembangunannya, di antaranya H. Abdul Ghofur dan Kasiyan sebagai perancang, didampingi Hasan, serta dikerjakan oleh tukang bangunan dari Sedayulawas dan Sendang, termasuk Mesran dan Ali.

Sumber air tempat wudu tersebut berasal dari mata air wakaf milik pondok di kawasan Sumur Jangkang, timur laut pesantren, yang merupakan wakaf tanah dari H. Suwono asal Bojonegoro.

Aliran air disalurkan melalui pipa besi sepanjang lebih dari 400 meter yang diperoleh secara gotong royong dari pondok dan para dermawan, di antaranya keluarga H. Dirjam, H. Suwono, H. Sambuji, H. Masyru’an, dan H. Pirsan.

Dalam salah satu kesempatan, Pengasuh Ponpes Karangasem, KH. Abdurrahman Syamsuri, pernah mengapresiasi deras dan sejuknya air di tempat wudu tersebut saat berkunjung ke Ponpes Al-Ishlah. Pujian itu disampaikan kepada KH. Muhammad Dawam Saleh.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Meski memiliki nilai historis dan menjadi kenangan santri awal, bangunan midla’ah tersebut tidak lagi dapat dipertahankan.

Selain keterbatasan lokasi, pondok juga membutuhkan ruang layanan yang lebih terbuka bagi wali santri dan masyarakat sekitar. Di lokasi tersebut direncanakan akan dibangun layanan fotokopi dan fasilitas pendukung lainnya.

“Pondok tidak bisa mengelak dari perubahan. Terkadang, perubahan mengharuskan kita mengorbankan sesuatu yang penting bagi sebagian orang karena tidak ada alternatif tempat lain,” ujar H. Ahmad Tohir.

Ia menambahkan, penyediaan layanan tersebut diharapkan dapat mempererat hubungan pesantren dengan wali santri dan masyarakat sekitar, sekaligus memudahkan kebutuhan mereka saat berada di lingkungan pondok.

“Prinsip yang tetap kami pegang teguh yakni pondok menghindari menyaingi layanan usaha yang telah ada di masyarakat sekitar. Oleh karena itu, layanan tersebut dibangun di dalam kompleks pondok yang melekat dengan bangunan, meskipun harus merobohkan fasilitas yang telah ada sebelumnya,” pungkasnya. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments