Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Beda 1 Syawal Tanpa Ribut: Teladan KH Ahmad Dahlan

Iklan Landscape Smamda
Beda 1 Syawal Tanpa Ribut: Teladan KH Ahmad Dahlan
Agus Rosid, SH., mantan aktivis Pemuda Muhammadiyah. Foto: Istimewa
Oleh : Agus Rosid, SH. Mantan Aktivis Pemuda Muhammadiyah

Sebentar lagi Ramadan akan kita akhiri. Segala pernik ibadah wajib maupun sunnah, mulai dari menahan lapar di siang hari hingga menunaikan qiyamul lail, secara rutin kita lakukan sebagai ikhtiar kolektif untuk meraih predikat takwa.

Selanjutnya bersama-sama kita bersiap menyongsong fajar kemenangan 1 Syawal, sebagai momentum titik balik menjadi insan yang suci, seolah lahir kembali tanpa noda dosa. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, “antara satu Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penggugur dosa, selagi kita mampu menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim).

Sayangnya, kebersamaan merayakan hari kemenangan itu bisa jadi tertunda. Karena dibayangi oleh fenomena klasik yang sering kali terjadi: silang pendapat perbedaan penetapan tanggal 1 Syawal.

Jika kita menilik akar masalahnya, perbedaan ini adalah wilayah ijtihad yang sangat teknis. Pemerintah, melalui sidang isbat, biasanya berpegang pada kriteria visibilitas hilal yang disepakati negara-negara MABIMS.

Di sisi lain, sebagian umat Islam yang menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal mungkin sudah jauh-jauh hari menetapkan tanggal berbeda karena posisi bulan sudah dianggap memenuhi syarat menurut perhitungan astronomi.

Lantas pertanyaannya, mengapa perbedaan posisi benda langit ini harus berujung pada saling men-‘judgement’ masing-masing pendukung, dengan menyalahkan satu sama lain? Padahal keduanya punya pendapat sendiri tanpa harus mengorbankan persaudaraan sesama umat.

Di berbagai platform media sosial, kita kembali disuguhi perdebatan antara pendukung metode hisab dan rukyatul hilal. Saling sindir, merasa paling sunnah, atau merasa paling ilmiah, tak jarang mewarnai hari-hari terakhir kita di bulan suci ini.

Situasi yang terjadi ini sebenarnya bukan hal baru. Masih belum lepas dari ingatan kita bagaimana energi umat terkuras habis dan menyisakan rasa getir yang cukup dalam hanya karena dinamika perbedaan awal Ramadan lalu. Terjebak dalam hiruk-pikuk yang melelahkan oleh klaim kebenaran sepihak, sindiran halus hingga kasar antar-pendukung, yang seolah-olah mengerdilkan esensi puasa itu sendiri.

Kita kerap kali lupa bahwa puasa adalah perilaku untuk menahan diri, termasuk menahan diri dari syahwat merasa paling benar dalam segala urusan. Salah satunya urusan perbedaan penetapan tanggal 1 Syawal.

Di titik inilah, perbedaan harusnya diletakkan secara proporsional, jika masing-masing dari kita memiliki niat dan kelapangan hati.

Kita dapat belajar dan menengok kembali teladan yang ditinggalkan oleh KH Ahmad Dahlan. Sosok pendiri Muhammadiyah ini bukan hanya seorang ahli falak yang mumpuni, tapi juga pribadi yang memiliki kedalaman spiritual dan kedewasaan sosial yang luar biasa.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Ada satu rangkaian peristiwa sejarah yang sangat menyentuh. Suatu malam, KH Ahmad Dahlan menghadap Sri Sultan Hamengkubuwono VII.

Dengan penuh takzim, beliau menyampaikan hasil hitungan falaknya yang menyatakan bahwa Idulfitri jatuh pada hari Rabu. Sementara itu, pihak istana Yogyakarta yang saat itu menggunakan perhitungan kalender Aboge, menetapkan Lebaran jatuh pada hari Kamis.

Bayangkan situasinya: seorang ulama — abdi dalem keraton, berhadapan dengan penguasa tertinggi sekaligus pemimpin agama di wilayahnya. Tidak ada debat kusir, tidak ada paksaan untuk seragam. Sri Sultan dengan bijak menerima masukan tersebut dan memberikan kebebasan bagi umat Islam di Yogyakarta untuk merayakan Idulfitri sesuai keyakinan dan perhitungan masing-masing.

Pihak istana tetap pada ketetapannya, sementara mereka yang meyakini hasil hisab KH Ahmad Dahlan diperbolehkan merayakan lebih awal. (sumber: muhammadiyah.or.id).

Inilah cermin dari kelapangan jiwa KH Ahmad Dahlan yang menunjukkan bahwa keyakinan pada kebenaran ilmu tidak harus berkelindan dengan sikap adigang, adigung, adiguna—merasa paling benar dan merendahkan yang lain. Perbedaan tidak harus dipaksakan menjadi keseragaman. Ibarat beda arus tapi sama-sama menuju lautan.

Lalu, bagaimana jika tahun ini hilal ternyata terlihat jelas dan kita merayakan Idulfitri secara serentak? Tentu itu adalah kado indah yang patut disyukuri. Namun, esensi pesan KH Ahmad Dahlan tetap akan selalu relevan: persatuan umat tidak boleh tercerai-berai hanya karena urusan perhitungan melihat posisi bulan. Kedewasaan beragama kita diukur bukan saat kita sama, tapi saat kita mampu tetap satu barisan meski metode menghitung kita berbeda.

Mari kita rayakan Idulfitri tahun ini dengan tidak lagi terjebak menang kalah pada persoalan munculnya bulan. Kemenangan yang sejati itu ada pada kemampuan kita untuk saling memaafkan di tengah perbedaan.

Bukankah kita menyembah Tuhan yang sama, menghadap kiblat yang sama, dan memiliki harapan yang sama: agar amal kita diterima dan dosa kita diampuni?

Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat merayakan kemenangan bagi siapa pun, kapan pun itu harinya. Karena pada akhirnya, yang dinilai bukanlah tanggal memulai atau mengakhiri, melainkan ketakwaan kita.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡