Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kandangsemangkon Paciran Lamongan menggelar Pengajian Nuzulul Qur’an 1447 H/2026 M pada Sabtu (14/03/2026).
Adapun pengajian berlangsung di Masjid Darussalam Muhammadiyah Kandagsemangkon tepat di mulai pukul 20.00 WIB atau setelah sholat tarawih.
Sebagai penceramah adalah Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan, Masro’in Assafani SPdI MA.
Sambutan Ta’mir Masjid
Pada kesempatan tersebut, Masro’in menyampaikan ceramah bertema Tiga perdagangan yang tidak akan pernah rugi.
Sebelum ceramah, agenda terbuka dengan kata pengantar dari Ta’mir Masjid Darussalam Muhammadiyah Kandangsemangkon.
“Kami selaku Ta’mir Masjid Darussalam Muhammadiyah Kandangsemangkon menyampaikan terima kasih atas kehadiran jamaah sekalian. Semoga pengajian ini membawa keberkahan, menambah ilmu, dan memperkuat iman kita” tuturnya.
“Akhirnya, mari kita jadikan Nuzulul Qur’an sebagai momentum untuk menghidupkan kembali semangat Qur’ani dalam diri, keluarga, dan masyarakat” tambah Ta’mir.
Pada pengajiannya, Masro’in mengutip ayat Al-Qur’an surah Al-Fathir ayat 29:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi”.
Membaca Kitab Allah (Al-Qur’an)
Pertama, orang yang tidak pernah merugi, yaitu orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an)”, sangat indah dan penuh makna.
Seolah mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab untuk dibaca. Tetapi ia adalah “bacaan Allah” yang diturunkan sebagai petunjuk, pengingat, dan cermin bagi hati manusia.
Makna yang bisa ditarik:
- Al-Qur’an sebagai bacaan Allah untuk manusia: Ia adalah firman-Nya, bukan ciptaan manusia, sehingga setiap ayat yang kita baca adalah komunikasi langsung dari Allah kepada hamba-Nya.
- Membaca berarti berinteraksi dengan Allah: Saat kita membaca Al-Qur’an, sebenarnya kita sedang membuka ruang dialog dengan Sang Pencipta.
- Kita yang dibaca oleh Al-Qur’an: Ayat-ayatnya seringkali menyingkap kondisi hati, kelemahan, dan potensi kita. Seakan-akan Al-Qur’an sedang “membaca” siapa diri kita sebenarnya.
- Jadikan bacaan Al-Qur’an bukan hanya rutinitas, tapi kesempatan untuk bercermin: “Ayat ini sedang berbicara tentang aku.”
- Dengan selalu membaca Al-Qur’an, kita menjaga agar Allah senantiasa hadir di hati, karena firman-Nya adalah cahaya yang menuntun langkah
Menegakkan Sholat
Kedua, adalah orang yang senantiasa menegakkan sholat. Menegakkan sholat bukan sekadar melaksanakan kewajiban, tetapi menegakkan tiang kehidupan. Dalam Al-Qur’an, sholat disebut sebagai “tanha ‘anil fahsya’i wal munkar” (mencegah dari perbuatan keji dan mungkar).
Artinya, sholat yang ditegakkan dengan hati akan memancarkan cahaya yang menjaga perilaku sehari-hari.
Makna menegakkan sholat:
- Konsistensi: Sholat bukan hanya dilakukan, tapi dijaga waktunya, kualitasnya, dan kekhusyukannya.
- Keterhubungan: Sholat adalah penghubung langsung antara hamba dan Allah, mengingatkan bahwa kita tidak pernah sendiri.
- Penyucian jiwa: Dengan sholat, hati dilatih untuk sabar, tunduk, dan ikhlas.
- Menegakkan sholat berarti menjadikannya pusat kehidupan, bukan sekadar rutinitas.
- Sholat yang benar akan melahirkan akhlak yang baik, karena ia menanamkan rasa malu kepada Allah.
- Menegakkan sholat juga berarti menghidupkan nilai-nilainya di luar sholat: kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang.
Menginfaqkan Sebagian Rezeki
Terakhir, adalah orang yang menginfaqkan sebagian rezekinya. Menginfaqkan sebagian rezeki adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat ditekankan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”.
Makna menginfaqkan rezeki:
- Tanda syukur: Dengan berinfaq, kita mengakui bahwa semua rezeki berasal dari Allah, dan kita hanya menitipkan sebagian untuk sesama.
- Pembersih harta: Infaq menjauhkan kita dari sifat kikir dan membersihkan harta dari hak orang lain.
- Investasi akhirat: Setiap infaq adalah tabungan yang akan kembali berlipat ganda di sisi Allah.






0 Tanggapan
Empty Comments