
PWMU.CO – Selama dua hari pada pekan lalu, mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), yang akan bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), mengikuti bimbingan sekaligus ujian praktik pemeriksaan bayi.
Kegiatan akademik tersebut dilaksanakan pada Senin (30/6/2025) dan Rabu (2/7/2025), bertempat di Klinik Bidan Mandiri Bdn. Endah Wiendarti SST.
Salah satu mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan UMMAD (UMJT) yang mengikuti bimbingan dan ujian praktik pemeriksaan bayi, Siti Nur Fadilah, menyampaikan bahwa ia sangat terkesan dengan pelaksanaan ujian praktik tersebut.
“Praktik pemeriksaan fisik bayi baru lahir yang kami lakukan sangat berkesan sekali dan memberikan tambahan skill dan dapat kita digunakan saat sudha lulus nanti, Karena Lulusan D3 Kebidanan UMMAD disiapkan untuk Siap Bekerja saat sudah lulus nanti,” terang Dila, panggilan akrabnya.
Dila menjelaskan bahwa selama mengikuti bimbingan, ia diajarkan banyak hal mengenai langkah-langkah pemeriksaan fisik bayi secara menyeluruh, mulai dari kepala, dada, hingga kaki.
“Pada bagian kepala, dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah terdapat kelainan atau tidak. Sementara itu, tonus otot dinilai dari seberapa aktif gerakan bayi, apakah ia bergerak lincah atau tidak,” ujar Dila.
Dila mengungkapkan bahwa ia dan teman-temannya diajari cara menilai warna kulit bayi. Jika bayi dalam kondisi normal, maka warna kulitnya kemerahan. Namun, jika terdapat warna kebiruan, hal itu menandakan adanya ketidaknormalan.
“Selain itu, kami juga dituntut untuk bisa menilai tangisan bayi. Jika bayi menangis dengan normal, maka dapat dikatakan bayi tersebut dalam kondisi normal,” kata Dila.
Mahasiswa yang mengikuti bimbingan dan ujian pemeriksaan bayi juga diajarkan cara menilai tanda-tanda vital pada bayi. Salah satunya adalah laju pernapasan, yang secara normal berada pada kisaran 40-60 kali per menit.
Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan laju jantung menggunakan stetoskop. Denyut jantung bayi yang normal berkisar antara 100-120 kali dalam 60 detik.
Pemeriksaan suhu tubuh bayi juga dilakukan menggunakan termometer digital dengan teknik aksila (di ketiak), di mana suhu normal berada pada rentang 36,5–37,5°C.
Pemeriksaan Kepala
Dila menerangkan bahwa mahasiswa juga dibimbing untuk mengetahui apakah ukuran kepala bayi normal atau tidak, dengan melakukan pengukuran menggunakan pita pengukur (metlin).
Selain pemeriksaan kepala, dilakukan pula pemeriksaan pada mata dan telinga bayi untuk menilai bentuk, letak, serta apakah terdapat gangguan pendengaran.
“Kami juga memeriksa hidung, mulut, langit-langit, bibir, serta refleks isap (rooting reflex) bayi, dan memastikan tidak ada kelainan bawaan seperti labiopalatoskizis,” terang Dila.
Mahasiswa juga mendapatkan bimbingan mengenai pemeriksaan bagian tubuh lainnya, seperti perut, dada, leher, bahu, dan punggung bayi. Ukuran dada bayi yang normal berkisar antara 33-38 cm.
“Kami melakukan pengkajian terhadap berbagai refleks bayi, seperti refleks Moro, rooting, sucking, tonic neck, grasp, stepping, dan Babinski. Normal atau tidaknya refleks pada bayi dapat diketahui melalui hasil pemeriksaan tersebut,” terang Dila.
Untuk pemeriksaan perut bayi, Dila menyampaikan bahwa hal itu dilakukan guna mengetahui apakah terdapat tanda-tanda infeksi. Selain itu, biasanya pada bayi yang berusia kurang dari 15 hingga 16 hari, tali pusar masih belum lepas.
“Pemeriksaan punggung dilakukan untuk mengetahui apakah ada benjolan (spina bifida) atau tidak,” terang Dila.
Pemeriksaan Genetalia
Dila menerangkan, mahasiswa juga diajari mengenai cara pemeriksaan genetalia pada bayi untuk mengetahui apakah ada kelainan atau tidak.
“Untuk mengetahui apakah bayi memiliki anus atau tidak, kami juga melakukan pemeriksaan. Jika bayi belum buang air besar, kami dapat menunggu hingga 24 jam untuk melihat apakah mekonium keluar,” ujar Dila.
Selanjutnya, dilakukan juga pemeriksaan kulit untuk menilai apakah terdapat tanda lahir atau kelainan pada kulit bayi. Pemeriksaan dilanjutkan ke bagian tungkai dan kaki untuk melihat apakah terdapat kelainan pada jari-jari bayi.
Setelah seluruh pemeriksaan selesai dilakukan, kedua tangan yang telah memakai sarung tangan (handscoon) dapat dicelupkan ke dalam larutan detergen atau enzimatik untuk proses pembersihan.
Terakhir, mahasiswa atau pemeriksa wajib melakukan dokumentasi kebidanan dalam bentuk dokumentasi Subjective, Objective, Assessment, dan Plan (SOAP).
“Rasanya sangat menyenangkan, karena kami bisa menambah pengalaman dengan langsung berinteraksi dengan keluarga bayi yang hadir, sekaligus meningkatkan keterampilan praktik maupun kemampuan menulis dan teori,” terang Dila. (*)
Penulis Humas UMMAD Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments