
PWMU.CO – Cuaca pagi yang cerah tanpa turunnya hujan di langit Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, membuat pelaksanaan Shalat Idul Adha 1446 H di Lapangan Kopen berjalan lancar sesuai rencana dan harapan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) serta Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM) Sendangagung.
Suasana alam yang cerah seolah sejalan dengan semangat Panitia Pelaksanaan Idul Adha. Hal itu tampak tersirat dari raut wajah mereka saat ramah tamah dan sarapan pagi bersama yang berlangsung di Meeting Room Gedung KH Ahmad Dahlan, SMPM 12 Sendangagung, pada Jumat (6/6/2025).
Kegiatan sarapan pagi usai Shalat Idul Adha ini diikuti oleh imam dan khatib, KH Kusen MA PhD akrab disapa Kiai Cepu), yang didampingi oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Drs KH Muhammad Dawam Saleh.
Hadir pula jajaran Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sendangagung, antara lain Ahmad Muhtar MPd, H Milkan Muin, Sekar Gondo SPdI, Gondo Waloyo MA, Aminuddin MPd, dan H Ulin Nuha, serta perwakilan dari Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM) Sendangagung.
Pagi itu, para peserta tidak hanya menikmati santapan bersama, tetapi juga menyaksikan komunikasi hangat dan dialog intens antara dua budayawan sekaligus dua kiai yaitu Kiai Cepu dan Kiai Dawam Saleh.
Kiai Cepu saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sementara Kiai Dawam dikenal sebagai seniman yang telah melahirkan puluhan buku kumpulan puisi.
Dialog budaya pun berlangsung antara dua insan pecinta seni tersebut. Beberapa nama tokoh puisi yang disebutkan oleh Kiai Dawam merupakan sosok-sosok yang pernah dan sering dijumpai oleh Kiai Cepu di Ibu Kota, seperti Taufiq Ismail MH, Ainun Nadjib, D Zawawi Imron, Ajip Rosidi, dan lainnya.
Sementara itu, panitia Shalat Idul Adha yang terdiri dari PRM dan PRPM Sendangagung juga turut bergabung dalam jamuan makan pagi, sembari berbincang hangat tentang suksesnya pelaksanaan Shalat Idul Adha di Lapangan Kopen.

Salah satu panitia, Khoirul Naim, yang akrab disapa Boim, tampak terlibat dalam dialog intens dengan rekan-rekan setimnya. Mengenakan kaus baru Panitia Kurban berwarna biru dongker, pria kelahiran 1974 ini sibuk mempersiapkan peralatan untuk kegiatan pemotongan hewan kurban.
“Mugo-mugo diparingi sehat terus, mben taun isa ngrewangi acara terus sarapan bareng nginiki (semoga selalu diberi kesehatan, agar setiap tahun bisa terus membantu dan ikut sarapan bersama seperti ini),” ujar Boim, pria asal Beji yang kini berdomisili di Mejero, Sendangagung. (*)
Penulis Gondo Waloyo Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments