Seratus empat siswa kelas V dan VI SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas Gresik berkegiatan Outing Class di sejumlah tempat, Selasa (10/2/2026).
Seusai belajar mengolah sampah di TPA Ngipik Gresik, murid diajak berkeliling ke spot-spot gedung/pabrik terkenal di Gresik kota seperti Gedung Utama PT Petrokimia Gresik, Gedung Wahana Ekspresi Pusponegoro, Gedung Nasional Indonesia, Makam Maulana Malik Ibrahim, Kampung Kemasan, Pelabuhan Gresik, Kantor PLTU Gresik hingga Gedung utama PT Semen Gresik.
Setelah itu mereka mengunjungi Senja Jingga Cafe di Jalan Awikoen Tirta No. 25, Desa Ngargosari,Komplek Putri Cempo, Kec. Kebomas, Kab. Gresik.
Di Cafe milik Seniman Gresik Joko Iwan ini , murid SD alam pertama di kota Gresik ini belajar melukis Damar Kurung.
Dipandu komunitas Giri DK yang hadir di antaranya budayawan Gresik Kris Aji, peraih penghargaan Bupati Gresik tahun 2025 sebagai Kontributor Kongkret dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Sub Sektor Kriya Anhar Chusnaini, dan Seniman Gresik Joko iwan siswa SD Almadany larut dalam melukis detail khas damar kurung.
Komunitas Giri DK yang konsen pada gerakan satu rumah satu Damar Kurung ini kerap memberikan edukasi pada generasi muda, “Kegiatan ini bertujuan agar warisan budaya tetap terjaga dari generasi ke generasi” ujar Joko Iwan.
Wali murid SD Almadany dari siswa kelas VI Prabu Biru Lelaki Muhammad ini mendampingi Kris Aji yang memaparkan sejarah dan detail lukisan damar kurung.
Kris Aji menerangkan, Damar Kurung, adalah sebuah lampion yang terbuat dari kayu berbentuk segi empat dan dilapisi kertas yang berhiaskan lukisan atau gambar bercerita. Dalam gambar tersebut menceritakan tentang aktifitas keseharian, tradisi, budaya dan merekamnya kedalam bentuk visual dua dimensi.
“Damar Kurung adalah sejenis lampion, pelita atau lentera khas Gresik, Jawa Timur. Jadi secara harfiah, Damar Kurung adalah lampu (damar, Bahasa Indonesia) yang dikurungi. Tetapi yang menarik adalah motif lukisan gambar unik yang menghiasi keliling Damar kurung tersebut,” ujar pria yang juga sejarawan Gresik ini.
Di samping itu, imbuh dia, memajang Damar Kurung di depan rumah setiap bulan Ramadan menjadi tradisi masyarakat setempat.
“Demikian juga tradisi arak-arakan membawa Damar Kurung setiap menjelang bulan Ramadan,” kata Kris Aji.
Dia lalu menceritakan konon Damar Kurung merupakan metamorphosis dari Wayang Beber. Motif lukisan Damar Kurung lebih condong ke gaya lukis era Sunan Prapen yang gaya lukis dari serat babad Sindujoyo.
“Atau juga mirip motif kain batik dan kain tenun dari Sasak Nusa Tenggara Barat. Namun dalam perkembangannya menjadi gaya lukisan tersendiri yang naif dan naratif atau seperti kekanak-kanakan,” terang Kris Aji.
Pembuat Damar Kurung terakhir di Gresik , imbuhnya, adalah Sriwati Masmundari atau Mbah Ndari (Januari 1904 – 25 Desember 2005). Sulung dari 4 bersaudara ini memiliki kemampuan melukis yang diturunkan oleh Sang Ayah yang lebih dikenal sebagai seorang dalang.

Sepeninggal ayahnya, Mbah Masmundari memanfaatkan kemampuan melukisnya untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Awalnya, Masmundari menggunakan cat roti atau pewarna makanan dan sisa sisa cat. Dari kombinasi yang sederhana itulah lahir sebuah karya bernama Damar Kurung.
Kris Aji juga menjelaskan, Mbah Ndari yang semula tinggal di Desa Lumpur Gresik, setiap menjelang bulan Ramadan menjajakan Damar Kurung buatannya di sekitar trotoar pasar Gresik.
“Dalam setiap karyanya, ia berusaha menyampaikan situasi social yang tengah berkembang dari pengamatan dan refleksinya sendiri. Gambar-gambar yang ada di setiap sisi Damar Kurung kebanyakan menceritakan tentang kegiatan sehari-hari masyarakat Gresik, seperti pasar malam, kondisi pasar, dan kebudayaan masyarakat setempat,” terang dia.
Menurut dia, kesenian ini juga penuh dengan makna dan simbol keagamaan yang dimunculkan kental dengan kehidupan religi. Adanya penggambaran tentang orang salat, mengaji, kesenian-kesenian yang bernuansa islami seperti hadrah dan qosidah dan sebagainya.
“Kebanyakan pembeli adalah anak-anak kecil. Hal itu dikarenakan lukisan Mbah Masmundari lebih bersahabat dengan dunia anak-anak. Di samping itu, memang anak-anak sekolahlah yang suka membawa-bawa Damar Kurung dalam arak-arakan atau sebagai kebanggaan tersendiri saat bermain bersama teman-temannya,” papar Kris Aji.
Setelah penjelasan itu, murid SD Almadany kemudian belajar melukis di selembar kertas yang menyerupai bentuk Damar Kurung, dipandu oleh Joko Iwan dan Anhar Chusnaini, murid SD Almadany mengumpulkan hasil karyanya setelah hampir sejam melukis.
Joko Iwan tak segan memberikan apresiasi kepada murid SD Almadany, ia memberikan beberapa bingkisan kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan darinya. Dan yang spesial dia juga memilih dia orang murid SD Almadany yang melukis terbaik karya Damar Kurungnya.
Dan terpilihlah Dayana Batrisya Sudjatmiko dan Azkia Fi’arafatillah sebagai pemenangnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments