Suasana Masjid Al Munirah MBS Porong tampak berbeda sejak Rabu pagi, (11/3/2026). Anak-anak datang satu per satu dengan membawa tas dan semangat. Sebagian masih didampingi orang tua, sementara yang lain mulai berani datang sendiri. Sejak awal kedatangan, mereka mulai belajar bertanggung jawab atas diri masing-masing.
Sebelum memasuki area kegiatan, seluruh peserta mengikuti proses custom house. Barang bawaan diperiksa menggunakan kartu daftar periksa. Kegiatan ini tidak sekadar formalitas, melainkan bagian dari pembelajaran kemandirian. Peserta diajak memastikan perlengkapan mereka lengkap, rapi, dan terdata, sehingga saat pulang seluruh barang tetap utuh.
Dari tahap awal tersebut, peserta memahami bahwa kemandirian bukan hanya tentang berani jauh dari orang tua, tetapi juga kemampuan mengelola hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Pondok Ramadan ini merupakan bagian dari Ramadan Edition Pesantren Holiday, salah satu program unggulan MBS Porong yang dirancang untuk membentuk keimanan, karakter, dan penguatan diri anak dalam berbagai momentum kehidupan.
Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan registrasi dan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan pembagian kelompok serta penyusunan kontrak belajar. Peserta mulai memahami bahwa mereka tidak sekadar mengikuti kegiatan, tetapi juga belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.
Memasuki siang hari, aktivitas pesantren mulai berjalan teratur, mulai dari qailulah, salat berjamaah, hingga tadarus. Dalam sesi “Taklif Education”, peserta diperkenalkan pada fase menuju balig dengan pendekatan yang hangat dan dipisah antara putra dan putri. Materi yang disampaikan meliputi batasan diri, tanggung jawab, serta cara menjaga diri di tengah perkembangan zaman.
Pada malam hari, suasana berlangsung lebih khusyuk melalui rangkaian iftar, salat tarawih, hingga sesi motivasi yang mendorong peserta untuk memiliki cita-cita serta meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian.
Hari kedua dimulai sebelum terbit matahari. Peserta bangun untuk sahur, dilanjutkan dengan salat Subuh, dzikir, dan olahraga pagi. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran bahwa proses kehidupan tidak selalu berjalan nyaman, namun justru menjadi sarana pertumbuhan.
Materi yang diberikan tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi juga melalui pengalaman langsung. Mulai dari “Panduan Ibadah Praktis Saat Safar” hingga diskusi kelompok, peserta belajar berpikir, menyampaikan pendapat, dan menghargai orang lain.
Pada sore hari, peserta mengikuti sesi “Quantum Tahfidz” untuk memperdalam interaksi dengan Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan materi kemandirian menjelang balig.
Kegiatan Pondok Ramadan ini juga didukung oleh sekitar 20 santri MBS Porong yang berperan sebagai fasilitator. Mereka tidak hanya membantu teknis kegiatan, tetapi juga menjadi pemandu, pemimpin aktivitas, serta tempat berbagi bagi peserta.
Peran ini menunjukkan praktik senioritas yang bersifat positif, yaitu memberikan teladan dan pendampingan. Para santri hadir sebagai kakak yang membimbing, bukan sekadar mengarahkan.
Kepala Pengasuhan Santri MBS Porong, Rozaq Akbar, menegaskan bahwa budaya senioritas di lingkungan MBS dibangun dalam nilai keteladanan. Santri senior diharapkan menjadi contoh yang baik, melayani, serta membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi adik-adiknya.
Hal tersebut tampak dalam berbagai situasi, seperti membantu peserta bangun sahur, menemani saat rindu rumah, serta memimpin kegiatan dengan memberikan contoh secara langsung.

Pada hari ketiga, peserta dikenalkan pada materi “AI Powered Dakwah Digital for Kids” yang menghadirkan pendekatan kreatif dalam berdakwah sesuai perkembangan zaman. Peserta diajak membuat karya desain grafis berbasis kecerdasan buatan bersama tentor dari MARS Coding.
Kegiatan dilanjutkan dengan aksi kebersihan lingkungan serta sesi refleksi diri untuk membantu peserta memahami potensi diri. Siang hari ditutup dengan pentas seni yang melatih keberanian, kerja sama tim, dan kemampuan berkolaborasi.
Sebanyak 45 peserta, yang mayoritas berasal dari SD Muhammadiyah 1 Gempol Pasuruan, mengikuti kegiatan ini hingga selesai. Mereka tidak hanya memperoleh pengalaman, tetapi juga pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada penutupan kegiatan, orang tua turut diundang untuk mengikuti sesi kebersamaan serta mendapatkan bekal pengasuhan. Acara ditutup dengan buka puasa bersama yang dikelola oleh santri MBS sebagai bentuk latihan kepemimpinan dan pelayanan.
Nilai kemandirian yang telah ditanamkan sejak awal kembali diterapkan saat kepulangan. Peserta memastikan sendiri kelengkapan barang sesuai daftar periksa yang digunakan sejak hari pertama. Hal ini menjadi bagian dari pembelajaran tanggung jawab secara menyeluruh.
Pondok Ramadan ini menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak hanya terletak pada materi yang disampaikan, tetapi juga pada kebiasaan yang dibangun selama kegiatan berlangsung.





0 Tanggapan
Empty Comments