Akhir November tahun lalu, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh dilanda banjir bandang yang memakan ribuan korban. Banyak orang terdampak oleh bencana ini, dan kerugian dilansir lebih dari 50 triliun rupiah. Dalam bencana banjir ini, deforestasi yang terjadi di Sumatera disorot oleh masyarakat. Usaha pertambangan dan perkebunan sawit disebut sebagai penyumbang besar dalam deforestasi di Pulau Sumatera.
Jika menilik hubungan antara manusia dan lingkungan, sejarah mencatat keduanya menjadi satu kesatuan yang tak bisa lepas. Peradaban manusia sangat bergantung dengan kondisi alam, begitu juga kondisi alam sangat dipengaruhi oleh keberadaan manusia.
Air sebagai Core of Civilization
Peradaban manusia tak lepas dari perairan. Imperium besar dunia seperti Mesopotamia sangat bergantung dengan sungai Eufrat dan sungai Tigris. Peradaban Mesir Kuno tak lepas dari keberadaan sungai Nil. Hal serupa juga terjadi di Nusantara. Dalam Prasasti Canggu, dijelaskan bahwa Kerajaan Majapahit sangat bergantung pada sungai Brantas dan sungai Bengawan Solo. Mereka menggunakan sungai ini sebagai jalur perdagangan vital, sumber pengairan, hingga pusat peradaban.
Melaju di masa kolonial, Batavia (Jakarta) yang menjadi pusat perdagangan, tak lepas dari fungsi sungai Ciliwung sebagai penopangnya. Pemerintah kolonial menggunakan sungai Ciliwung sebagai kebutuhan sehari-hari, jalur perdagangan (terutama menghubungkan Batavia dengan Bogor), hingga menjadi bagian dari kanal yang digunakan oleh Hindia Belanda untuk mengontrol air dan memfasilitasi transportasi dalam kota.
Ketika keberadaan perairan (terutama sungai) tercemar, maka kehidupan masyarakat di sekitarnya akan sangat terdampak. Dalam catatan sejarah, mencemari sungai merupakan salah satu upaya untuk melumpuhkan lawan dalam peperangan. Sebagai contoh adalah bagaimana Mataram meracuni sungai Brantas (dalam konteks ini adalah sungai Kalimas yang masuk dalam wilayah Surabaya) untuk melumpuhkan aktivitas di Kota tersebut. Hal serupa juga digunakan oleh Sultan Agung Mataram ketika berupaya menaklukan Batavia, yakni dengan meracuni sungai Ciliwung.
Akibatnya? Kolera merebak di seluruh kota dan mengakibatkan banyak orang meninggal. Sebagai contoh adalah dalam upaya penaklukan Mataram ke Batavia, Gubernut Jenderal VOC saat itu, yakni J.P. Coen meninggal akibat kolera di tahun 1629.
Namun, kondisi kini berubah. Semakin bertambahnya penduduk, urbanisasi, dan banyaknya industrialisasi mengakibatkan kualitas air semakin menurun. Menurut penelitian yang dilakukan tahun 2019 bertajuk Riverine Plastic Emission from Jakarta into the Ocean, dijelaskan bahwa 20.000 sampah plastik mengalir ke Laut Jawa tiap jam.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan di tahun 2025 Indonesia mengurangi sampah plastik lautan hingga 70 persen. Namun, hingga pertengahan 2025, penurunan kebocoran sampah laut baru mencapai angka sekitar 41%. Fakta di lapangan menyebutkan bahwa Indonesia masih menjadi penyumbang sampah plastik ke laut signifikan, meskipun posisinya membaik dari peringkat kedua menjadi peringkat kelima (data tahun 2021).
Berdasarkan hasil ini, akhirnya KKP memperbarui target melalui program Laut Sehat Bebas Sampah (Sebasah) yang menargetkan pengurangan sampah 70% di tahun 2029, dengan target bertahap di tahun-tahun sebelumnya.
Air yang merupakan core of civilization harus mendapat perhatian khusus oleh pemerintah. Masalah sampah plastik, pembuangan limbah ke sungai, dan penggunaan air tanah yang berlebihan bisa berakibat pada kondisi masyarakat di sekitarnya. Melihat bagaimana track record air sebagai unsur vital kehidupan masyarakat, sudah sepatutnya pemerintah dan masyarakat sendiri bisa lebih aware terkait pelestarian air.
Deforestasi yang Tak Kunjung Usai
Deforestasi atau penggundulan hutan merupakan kegiatan penebangan hutan agar lahannya bisa dipakai untuk kegiatan lain. Alih fungsi lahan hutan di Indonesia sudah tercatat sejak masa kolonial. Kegiatan deforestasi di masa tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan dari sarana prasarana, ekonomi, hingga kebutuhan militer.
Di masa pendudukan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), kegiatan deforestasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan, bahan bakar sampai bahan bangunan di dalam benteng kota Batavia. VOC melakukan pencarian di kawasan Ommelanden atau luar tembok kota Batavia yang kala itu berupa hutan lebat. Pencarian tersebut dilakukan karena pertumbuhan penduduk yang pesat dan semakin tingginya kebutuhan kayu.
Hal ini mengakibatkan hutan berkurang lebih awal dari pada wilayah lain di Pulau Jawa. Deforestasi yang masif tersebut mengakibatkan pendangkalan Sungai Ciliwung di tahun 1683 yang mengakibatkan sungai tersebut tak dapat dilalui kapal lagi.
Deforestasi yang masif tersebut juga mengakibatkan banjir tiap tahun di Batavia. Menanggapi hal tersebut, VOC menerbitkan peraturan larangan perusakan hutan dan penebangan pohon di distrik Jaccarta pada Juni 1696. Meski sudah ada aturan tersebut, penebangan hutan secara liar masih tetap terjadi. Sementara itu VOC kesulitan mengendalikannya karena keterbatasan sumber daya.
Setelah Indonesia merdeka, deforestasi secara masif tetap terjadi. Sepanjang masa Orde Baru (1966-1998) tercatat Indonesia kehilangan sekitar 2 juta hektare hutan per tahun. Menurut Global Forest Watch, sepanjang tahun 2001 sampai 2022, Indonesia kehilangan 10,29 juta hektare hutannya.
Peran Khalifah di Muka Bumi
Abad ke-21 ini iklim bumi memang sangat tidak bisa diprediksi. Setelah musim hujan yang datang mengakibatkan banjir (bahkan banjir bandang) di beberapa daerah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa musim kemarau di Indonesia akan datang lebih awal, yakni bulan April 2026. Namun, BMKG memperingatkan bahwa musim kemarau kali ini akan lebih kering dan dijuluki sebagai Godzilla El Nino.
Kemarau yang lebih kering dan musim hujan yang sering kali disertai badai menjadi tanda bagaimana iklim telah berubah. Manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki tanggung jawab yang besar untuk memperbaikinya. Langkah preventif dan paling pertama bisa diambil sebagai individu adalah mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, menghemat air, menyediakan sumur resapan, dan tidak mubazir dengan makanan. Ini disebabkan sampah organik bisa menjadi salah satu penyebab pemanasan global.
Dalam lingkup besar, dalam tanda kutip negara, memiliki andil yang penting dalam mencegah perubahan iklim lebih parah. Yang perlu dicatat adalah deforestasi yang terus terjadi akibat pertumbuhan penduduk, pembukaan lahan pertanian, maupun aktivitas pertambangan. Pemerintah harus bisa memberikan solusi yang efektif terkait hal tersebut, mengingat Indonesia menjadi salah satu negara yang menyumbang oksigen di dunia setelah Hutan Amazon.
Selain itu, penguatan kebijakan lingkungan tidak cukup hanya berhenti pada regulasi di atas kertas. Penegakan hukum harus berjalan beriringan dengan edukasi publik. Pengalaman sejarah telah menunjukkan bahwa aturan tanpa pengawasan yang kuat hanya akan menjadi formalitas. Dalam konteks ini, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta menjadi kunci utama.
Kesadaran ekologis juga perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan. Lingkungan bukan sekadar objek yang dimanfaatkan, tetapi ruang hidup yang harus dijaga keberlanjutannya. Belajar sejarah lingkungan memberi pelajaran penting bahwa kerusakan yang terjadi hari ini seringkali merupakan akumulasi dari keputusan masa lalu. Oleh karena itu, generasi saat ini memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bumi.
Di sisi lain, pendekatan berbasis kearifan lokal juga perlu dihidupkan kembali. Banyak komunitas adat di Indonesia yang telah lama menerapkan prinsip hidup selaras dengan alam. Sistem seperti hutan larangan, pembagian zona alam, hingga tradisi menjaga sumber air merupakan bukti bahwa keberlanjutan bukan konsep baru, melainkan warisan yang mulai ditinggalkan.
Penutup
Belajar dari lingkungan berarti memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Sementara belajar dari sejarah berarti menyadari bahwa kesalahan yang sama tidak boleh terulang. Kombinasi keduanya menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran kolektif.
Akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya soal menyelamatkan alam, tetapi juga menjaga keberlangsungan peradaban manusia itu sendiri. Jika air sebagai inti peradaban rusak, dan hutan sebagai paru-paru dunia terus hilang, maka yang terancam bukan hanya ekosistem, tetapi juga masa depan generasi mendatang.
Dengan demikian, refleksi dari sejarah dan kondisi lingkungan saat ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Sudah saatnya manusia tidak lagi memposisikan diri sebagai penguasa alam, melainkan sebagai khalifah yang bertanggung jawab. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments