Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Benarkah Ruh Berkeliling Rumah setelah Wafat?

Iklan Landscape Smamda
Benarkah Ruh Berkeliling Rumah setelah Wafat?
Dr. Aji Damanuri. Foto: Dok/Pri
Oleh : Dr. Aji Damanuri, MEI Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
pwmu.co -

Di era media sosial, sebuah narasi keagamaan dapat menyebar bagai virus. Satu postingan tentang “amalan”, “fadhilah”, atau “kisah” yang terdengar spiritual, seringkali langsung dibagikan tanpa proses verifikasi.

Salah satu narasi yang kerap muncul, terutama dalam konteks tradisi tahlil dan ziarah kubur, adalah tentang ruh orang meninggal yang dikatakan “berkeliling” di sekitar rumah dan makamnya. Narasi ini sering disandarkan pada sebuah teks yang diklaim sebagai hadis Nabi Muhammad saw.

Pertanyaan kritisnya, benarkah ini sabda Nabi Muhammad saw? Ataukah ini bagian dari lautan informasi yang perlu kita saring dengan saringan ilmu yang sahih?

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, telah melakukan “pemeriksaan digital” yang sangat rigor terhadap klaim hadis ini jauh sebelum istilah hoax agama populer. Fatwa ini menjadi contoh teladan bagaimana Manhaj Tarjih (metodologi penetapan hukum Muhammadiyah yang kritis dan berlandaskan dalil kuat) bekerja dalam menyikapi sebuah klaim keagamaan.

Sebelum menilai, Tarjih mengajak kita memahami anatomi sebuah hadis. Hadis yang sahih bukan sekadar teks berbahasa Arab yang indah. Ia harus memiliki dua pilar utama:

1. Matan:Isi atau materi sabda Nabi.

2. Sanad: Rantai periwayatan yang tersambung dari penghimpun hadis (seperti Imam Bukhari) hingga kepada Nabi saw. Sanad inilah yang menjadi track record keabsahan sebuah informasi.

Sebagai analogi kekinian: Sebuah berita disebut valid jika memiliki source (sumber) yang jelas dan dapat ditelusuri (traceable). Berita tanpa sumber hanyalah rumor. Begitu pula hadis tanpa sanad yang sah, statusnya lemah bahkan mungkin palsu.

Bagaimana hadis tentang ruh berkeliling rumah?

Teks yang yang dimaksud berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا مَاتَ اْلمُؤْمِنُ حَامَ رُوْحُهُ حَوْلَ دَارِهِ شَهْراً… ثُمَّ رُفِعَ رُوْحُهُ…

(Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah saw: “Apabila seorang mukmin meninggal, ruhnya berkeliling di sekeliling rumahnya selama satu bulan… kemudian ruhnya diangkat…”)

Majelis Tarjih melakukan digital tracking dengan menggunakan tiga software database hadis utama: al-Maktabah asy-Syamilah, al-Jami’ al-Akbar, dan al-Jami’ al-Kabir. Hasilnya? Nihil. Teks ini tidak ditemukan dalam ribuan kitab hadis induk (source original) seperti Shahih Bukhari, Muslim, atau kitab-kitab musnad lainnya.

Penelusuran lebih lanjut menemukan teks mirip yang diriwayatkan oleh ad-Dailami (w. 509 H) dalam kitab al-Firdaus dan kemudian dikutip oleh as-Suyuthi (w. 911 H). Namun, baik ad-Dailami maupun as-Suyuthi tidak menyebutkan sanadnya. Ini ibarat seseorang membagikan kutipan di media sosial tanpa menyertakan link sumber aslinya. Statusnya menjadi informasi yang tak bertanggung jawab.

Kesimpulan Tarjih tegas dan jelas: Matan ini bukan hadis Nabi Muhammad saw. Ia adalah atsar (riwayat) yang mursal (terputus sanad) atau bahkan mungkin maudhu’ (palsu) yang disisipkan ke dalam literatur.

Lalu bagaimana dalil yang sahih tentang alam ruh: kita harus berpegang pada apa?

1. Ruh Berada di Alam Barzakh.

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Alam barzakh adalah alam tersendiri, bukan dunia fana ini.

2. Ruh para syuhada ditempatkan di Surga.

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati; sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154).

Dalam hadis sahih, ruh syuhada digambarkan berada di dalam burung hijau yang berkelana di surga (HR. Muslim). Untuk mukmin biasa, ruhnya di na`im (kenikmatan) sesuai amalnya.

3. Mayit Mendengar dan Mengetahui Keadaan Orang yang Mengunjunginya.

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَبَضَ أَرْوَاحَكُمْ حِينَ شَاءَ وَرَدَّهَا عَلَيْكُمْ حِينَ شَاءَ…

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mencabut ruh-ruh kalian ketika Dia kehendaki dan mengembalikannya ketika Dia kehendaki.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Al-Bara’ bin ‘Azib, tentang siksa dan nikmat kubur).

Namun, ini adalah pengetahuan yang Allah anugerahkan secara khusus kepada mayit saat diziarahi, bukan karena ruhnya “berkeliling” mengawasi keluarga secara fisik.

Apa pelajaran bagi kita di era sekarang?

1. Kritis Sebelum Share.Manhaj Tarjih mengajarkan kita untuk tabayyun (klarifikasi). Sebelum menyebarkan sebuah “hadis” atau “kisah”, periksa dulu: apa sumbernya? Adakah ulama hadis kontemporer yang membahas kesahihannya?

2. Prioritaskan yang Sahih. Daripada membangun amalan di atas narasi yang lemah, berpegang teguhlah pada dalil-dalil yang telah disepakati keshahihannya.

Doa, sedekah, dan amal jariyah untuk mayit adalah hal yang disyariatkan dengan dasar kuat, tanpa perlu membayangkan “ruhnya sedang berkeliaran”.

3. Banyak mendoakan. Tradisi berdoa adalah bentuk ikhtiar (usaha) untuk memohonkan ampun saudara yang telah wafat. Niat dan tujuannya harus lurus: beribadah kepada Allah dan memohonkan ampunan untuk mayit. Tradisi ini bisa bernilai positif sebagai pengikat silaturahmi dan pengingat kematian.

Namun, janganlah ia dibangun di atas dasar hadis yang lemah atau palsu. Kuatkan dengan niat yang ikhlas dan keyakinan bahwa hanya Allah yang menerima doa.

4. Belajar dari Metodologi Tarjih. Pendekatan Majelis Tarjih yang sistematis (memeriksa sanad, melacak ke sumber primer, dan berani menyimpulkan dengan tegas) harus menjadi inspirasi dan cara kader Muhammadiyah menjalankan hukum islam. Dalam beragama, kita butuh nalar kritis yang diimbangi dengan ketundukan pada dalil sahih, bukan sekadar mengikuti tren atau apa yang “biasa” dilakukan.

Narasi tentang ruh yang berkeliling mungkin terasa menghibur dan mistis. Namun, Islam dibangun di atas ilmu, bukan dongeng. Manhaj Tarjih Muhammadiyah, melalui fatwa ini, mengingatkan kita untuk selalu kembali kepada al-Qur’an dan hadis sahih sebagai pedoman tertinggi.

Di tengah gemuruh informasi yang membanjiri gawai kita, mari bersikap sebagai muslim yang cerdas: verifikasi, pilih yang sahih, dan amalkan dengan penuh keyakinan. Karena, agama ini adalah cahaya, dan cahaya hanya bisa didapatkan dengan menyalakan pelita ilmu. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu