Di tengah derasnya arus informasi dan riuhnya perdebatan di media sosial, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah H. Khoirul Abduh, M.Si mengingatkan bahwa peradaban hari ini tidak hanya dibangun di mimbar-mimbar masjid, tetapi juga di ujung jari.
Dia menegaskan, jempol yang tak terjaga bisa melukai, memecah belah, bahkan menggerus pahala tanpa disadari.
Karena itu, menurutnya, umat Islam, terutama warga Muhammadiyah, harus meneguhkan akhlak digital sebagai bagian dari dakwah pencerahan: beradab dalam bermedia, agar tetap bermartabat sebagai umat berkemajuan.
Sejak awal, dia mengingatkan pentingnya istiqamah dalam mengikuti ajaran Rasulullah saw.
“Mudah-mudahan sejak kita membuka mata hingga menutup mata nanti, kita tetap istiqamah berpegang teguh pada apa yang Rasulullah contohkan melalui hadis-hadis sahih,” ujarnya seperti dilansir di kanal Youtube PCM Besuki.
Abduh menyayangkan fenomena sebagian orang yang mengaku taat kepada Nabi, namun perilaku sosialnya justru jauh dari akhlak Rasulullah.
Dalam suasana santai, Khoirul Abduh juga menceritakan kesibukannya yang padat melayani undangan dari berbagai daerah. Dalam satu hari, dia pernah harus menghadiri agenda di beberapa kabupaten sekaligus.
“Hidup saya ini belum merdeka. Jadwal saya diatur penuh oleh wilayah,” katanya sambil tersenyum.
Ia pun menegaskan pentingnya dukungan keluarga, terutama istri, dalam perjuangan dakwah.
“Orang Muhammadiyah harus punya istri terbaik. Minimal meneladani Siti Hajar—sabar, kuat, dan penuh tanggung jawab,” tuturnya.
Jenggot Bukan Ukuran Surga
Dalam ceramahnya, ia juga menyinggung fenomena simbolisme keagamaan yang kerap disalahpahami. Menurutnya, atribut seperti jenggot bukanlah ukuran seseorang masuk surga atau neraka.
“Jenggot itu aksesoris. Tidak ada hubungannya dengan surga dan neraka. Kalau jenggot jadi syarat masuk surga, kasihan yang tidak punya jenggot,” ujarnya.
Dia mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan simbol sebagai ukuran utama ketakwaan, melainkan akhlak dan ketulusan amal.
Abduh kemudian mengajak jamaah merenungkan kualitas ibadah, khususnya salat. Ia mengutip firman Allah bahwa salat seharusnya mencegah perbuatan keji dan mungkar.
“Kalau orang salat tapi masih korupsi, masih memfitnah, berarti ada yang belum benar dalam salatnya,” tegasnya.
Dia bahkan memberi ilustrasi sederhana: jika sandal terbaik diletakkan di masjid dan masih hilang, berarti nilai salat belum benar-benar membentuk akhlak.
Media Sosial: Investor Terbanyak ke Neraka?
Masuk pada tema utama, ia menyoroti penggunaan media sosial yang masif di Indonesia. Dengan lebih dari separo penduduk aktif bermedia sosial, dia mengingatkan bahwa gawai bisa menjadi sumber pahala besar, tetapi juga bisa menjadi penyebab dosa yang terus mengalir.
“HP ini bisa membuat kita cepat masuk surga, tapi juga bisa jadi investor terbanyak yang menyeret kita ke neraka,” katanya.
Abduh mencontohkan maraknya judi online, pinjaman online, perundungan, hingga penyebaran fitnah yang berawal dari media sosial.
Mengutip Surah Al-Hujurat ayat 6, 11, dan 12, ia menegaskan pentingnya tabayyun (klarifikasi), larangan gibah, serta larangan memberi gelar buruk kepada orang lain.
“Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Jangan sampai pahala salat dan puasa kita habis karena lisan dan jari kita di media sosial,” pesannya.
Dalam paparannya, Abduh merinci beberapa prinsip berkeadaban bermedia sosial:
- Meluruskan niat – Setiap aktivitas harus diniatkan untuk kebaikan dan dakwah.
- Mengendalikan emosi dan lisan – Tidak mudah terpancing dan tidak menyebar ujaran kebencian.
- Tabayyun sebelum membagikan informasi – Tidak menyebarkan berita tanpa klarifikasi.
- Menghindari gibah dan fitnah – Dunia maya bukan tempat merendahkan orang lain.
- Menjaga privasi dan aurat – Tidak mengumbar aib diri dan orang lain.
- Memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah – Menyebarkan ayat, hadis, dan pesan kebaikan.
- Bijak mengatur waktu – Tidak larut berjam-jam hingga melalaikan ibadah.
“Hasil survei menunjukkan rata-rata orang bisa tiga jam lebih memegang HP setiap hari. Jangan sampai waktu kita habis untuk hal yang tidak bernilai,” ujarnya.
Dakwah dengan Hikmah
Ia juga menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan tidak menyinggung perasaan. Perbedaan jumlah rakaat tarawih, misalnya, tidak perlu menjadi sumber perpecahan.
“Dakwah itu penyadaran, bukan pemaksaan. Targetnya rida Allah, bukan menang debat,” tegasnya.
Abduh mengingatkan bahwa media sosial adalah cermin akhlak seseorang. “Karakter orang bisa terlihat dari statusnya. Maka jadikan media sosial sebagai etalase akhlak kita,” ujarnya.
Dia mengajak jamaah menjadikan gawai sebagai alat perjuangan, bukan alat kehancuran moral.
“Sekali kita mati, semua akan dipertanggungjawabkan. Termasuk apa yang kita ketik dan kita bagikan,” pesannya penuh penekanan.
Kegiatan ditutup dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk membangun peradaban Islam berkemajuan, sebagaimana digaungkan dalam yel-yel PCM Besuki Jaya yang menggema di akhir acara. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments