Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bencana Bukan Sekadar Peristiwa Alam

Iklan Landscape Smamda
Bencana Bukan Sekadar Peristiwa Alam
Moh. Hilman Sueb. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Moh. Helman Sueb Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat–Lamongan
pwmu.co -

Ditenggelamkannya Fir’aun di laut bersama bala tentaranya terjadi karena kesombongannya, hingga pada puncaknya ia mengaku sebagai Tuhan. Ia mendustakan kebenaran yang dibawa Nabi Musa ‘Alaihissalam dan Nabi Harun ‘Alaihissalam. Keengganannya mengikuti jalan yang benar menjadi sebab ia menerima hukuman dari Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.

Bala tentaranya yang berjumlah ribuan juga ikut tenggelam karena mengikuti jalan yang salah. Inilah salah satu contoh akibat manusia yang mendustakan ayat-ayat Allah dan melakukan kerusakan di bumi.

Bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara

Musibah banjir dan tanah longsor yang menimpa saudara-saudara kita di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara bukan sekadar bencana alam. Ada faktor lain yang turut berperan, termasuk perilaku manusia yang merusak lingkungan. Kita turut berduka dan berdoa semoga Allah Subḥānahu wa Ta’ālā memberikan kesabaran kepada mereka.

Akh. Muzakki, Rektor dan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, menjelaskan bahwa musibah tersebut termasuk kategori bencana hidrometeorologi, yaitu fenomena alam yang merusak lingkungan akibat curah hujan tinggi, kelembapan tinggi, temperatur yang ekstrem, dan angin kencang.

Beliau juga mengakui adanya peran tangan-tangan kotor manusia, dibuktikan dengan temuan gelondongan kayu dan timbunan di berbagai titik bencana. Pembalakan liar (illegal logging) dan pertambangan liar (illegal mining) menjadi faktor yang semakin memperparah dampaknya.

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā telah berfirman dalam QS. Ar-Rūm ayat 41:

 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut seperti kekeringan, minimnya hujan, banyak penyakit dan wabah, semuanya disebabkan kemaksiatan manusia. Allah menurunkan hukuman agar mereka sadar, bertaubat, dan kembali kepada-Nya, hingga keadaan mereka menjadi lebih baik.

Para pelaku kejahatan dan perusakan tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatan mereka. Mereka hanya mengikuti dorongan hawa nafsu yang menjerumuskan. Pelaku kemaksiatan tidak hanya berasal dari kalangan awam; mereka yang memiliki ilmu, jabatan, dan kekayaan pun dapat terlibat dalam tindakan merusak.

Bahaya mereka bahkan lebih besar, karena biasanya menggunakan strategi untuk mempertahankan kepentingan diri sendiri.

Akibat Ulah Tangan Manusia

Bencana yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara adalah duka kita bersama—duka seluruh bangsa Indonesia. Realita yang tersaji di televisi maupun media sosial menunjukkan ratusan korban meninggal, ratusan lainnya hilang, serta banyak yang luka berat maupun ringan.

Ada rumah yang hanyut, rusak berat, hingga rusak ringan. Belum lagi kendaraan dan harta benda yang tertimbun lumpur. Warga tiga provinsi tersebut tentu sangat menderita dan sangat membutuhkan bantuan. Kita doakan semoga mereka diberi kesabaran dan seluruh bantuan segera mengalir dari mereka yang peduli.

Bencana Menimpa Siapa Saja

Bencana tidak memilih-milih korban. Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman dalam QS. Al-Anfāl ayat 25:

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Bencana bisa menimpa pelaku maksiat maupun orang-orang shaleh. Orang-orang beriman yang telah berusaha meninggalkan kemaksiatan pun dapat terkena dampaknya sebagai bentuk ujian.

Ayat ini memberi isyarat bahwa kaum beriman harus tetap menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar, mencegah perilaku maksiat yang dapat mendatangkan murka Allah. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu