
Oleh drh Zainul Muslimin, Bendahara PWM Jatim
PWMU.CO – Kita semua percaya, anak-anak muda Muhammadiyah—dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, hingga Nasyiatul Aisyiyah (NA)—memiliki potensi luar biasa. Mereka adalah generasi hebat, penuh semangat, dan berdedikasi tinggi.
Di tengah mereka, terdapat jaringan yang kuat, sumber daya manusia yang militan, semangat pengabdian yang tinggi, kepedulian sosial yang kuat, dan kebiasaan berbagi yang tulus. Semua itu dilandasi dengan karakter ber-DNA Al-Ma’un yang sudah mengakar.
Pondasi itu tentu kokoh. Namun, sekuat apa pun pondasi, ia tetap harus terus diperbarui agar tidak keropos dan rapuh oleh waktu.
Kita bisa belajar dari banyak organisasi kepemudaan di luar sana yang tampak gagah secara struktur, tetapi rapuh secara substansi. Akibatnya, mereka tumbang karena terlalu sibuk dengan konsolidasi internal semata.
Sementara itu, kita dihadapkan pada tantangan zaman yang berubah cepat. Generasi Z, misalnya, tak lagi tertarik dengan pendekatan struktural. Mereka tak peduli siapa ketuanya, siapa yang memimpin. Mereka lebih memilih makna dibanding nama, lebih percaya pada nilai (value) ketimbang institusi.
Gen Z belajar bukan dari seminar atau workshop, tetapi dari media sosial: Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya. Mereka tumbuh bersama teknologi yang terus berubah. Mereka tak ingin sekadar menonton—mereka ingin ikut bermain, ingin terlibat, berkolaborasi.
Maka, pertanyaannya kini bukan lagi “Siapa ketuanya?“, tapi:
Apakah kita relevan dengan apa yang mereka inginkan dan butuhkan?
Apakah kita hidup dan hadir dalam dunia mereka?
Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sudah seharusnya menjawab tantangan ini dengan langkah nyata. Beberapa kebutuhan mendesak yang harus segera dirintis antara lain:
Satu, Digital Training Center – pusat pelatihan digital berbasis kebutuhan anak muda.
Dua, Program AI dan Ekonomi Digital – sebagai ruang belajar dan berkarya di dunia yang semakin terdigitalisasi.
Tiga, Program Kewirausahaan dan Literasi Keuangan – yang mudah, murah, dan aplikatif bagi generasi muda.
Semua itu bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi bukti kesungguhan kita dalam menghadapi perubahan dan menjawab tuntutan zaman. Jika tidak, kita bisa bernasib seperti Nokia dan Kodak—ditinggalkan karena tidak beradaptasi.
AMM bisa! AMM mampu!
Sekarang tinggal satu pertanyaan: Berani atau tidak?
Berani punya visi. Berani punya nyali. Berani mengeksekusi.
Tetap semangat. Bismillah! (*)
Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan






0 Tanggapan
Empty Comments