Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Berguru di Banyak Tempat, Kenal Pertama Ilmu Sedayuan

Iklan Landscape Smamda
Berguru di Banyak Tempat, Kenal Pertama Ilmu Sedayuan
Chusnan David
pwmu.co -

Tidak ada catatan tertulis. Tidak ada pengakuan panjang. Bahkan murid-murid terdekatnya pun hanya menyimpan potongan-potongan cerita. Jurus Harimau, salah satu warisan paling berpengaruh dalam Tapak Suci, lahir dari tangan seorang pendekar yang memilih menyembunyikan prosesnya: Chusnan David.

Berikut Kisah Lahirnya Jurus Harimau, Warisan Pendekar Besar Chusnan David untuk Tapak Suci Dunia (Bagian 2)

Chusnan David meramu ilmu dalam sunyi, menjaga rahasia dalam laku, dan membiarkan makna jurusnya hidup melalui gerak, bukan kata.

Di Surabaya ada dua murid yang sangat dekat dengan Chusnan David. Mereka adalah Fanan Hasanudin dan Supriyanto Imas. Kedua pendekar Tapak Suci yang lama berinteraksi dan berguru langsung pada Chusnan David. Kedekatan itu, rupanya, tak serta-merta membuka seluruh pintu rahasia.

“Beliau orangnya sangat privat,” ujar Fanan pelan, seolah masih menjaga etika kepada gurunya. “Ilmu pencak silatnya tinggi, tapi tidak diumbar. Tidak semua hal diceritakan.”

Kalimat itu terasa sederhana, namun justru di situlah letak gambaran kepribadian Chusnan David. Dia seorang pendekar yang memilih diam ketika bisa berbicara, dan memilih memberi teladan ketika bisa memamerkan kemampuan.

Di kalangan pendekar Tapak Suci, Jurus Harimau kerap dipahami sebagai jurus yang keras, agresif, bahkan ofensif. Geraknya tegas, tekanannya kuat, sasarannya jelas. Namun, mereka yang hanya melihat permukaan akan mudah terjebak pada kesimpulan yang keliru.

Bagi Chusnan David, Harimau bukanlah simbol kebrutalan. Harimau adalah keberanian yang terkendali.

Ada pesan mendalam yang dia tanamkan melalui jurus ini, yakni seorang pesilat Tapak Suci harus berani menghadapi tantangan, siap berdiri di garis depan, namun tetap mampu mengendalikan diri. Keras dalam gerak, lembut dalam niat. Tegas dalam sikap, tunduk dalam akhlak.

Sebagaimana Tapak Suci dibangun di atas nilai Islam dan Muhammadiyah, maka kekuatan fisik tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu disandingkan dengan nilai kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab moral.

Harimau boleh menerkam, tetapi hanya ketika benar-benar diperlukan. Harimau kuat, tetapi tidak serakah. Harimau berani, tetapi tidak kehilangan kendali.

Bagi para pelatih dan pendekar Tapak Suci, Jurus Harimau bukan sekadar rangkaian teknik beladiri. Ia adalah pelajaran tentang kekuatan yang bertanggung jawab—bahwa ilmu tinggi tidak boleh membuat seseorang jemawa, apalagi menindas.

Berguru di Banyak Tempat, Kenal Pertama Ilmu Sedayuan
Chusnan David memeragakan Jurus Harimau. Foto: Dok/keluarga

Dari Sedayu sampai Banten

Minimnya cerita langsung dari Chusnan David membuat penelusuran asal-usul ilmunya menjadi seperti merangkai mozaik. Potongan-potongan kecil, berserakan di berbagai tempat dan kenangan.

Putra sulungnya, Muhammad Zamrony, pun mengakui hal serupa. Sebagai anak, dia tidak banyak mendapat penjelasan detail dari sang ayah tentang proses penciptaan Jurus Harimau.

“Saya juga tidak banyak tahu. Ayah jarang bercerita soal itu,” kata Zamrony jujur.

Namun dari ingatan dan pengalaman yang tersisa, Zamrony mencoba merangkai kembali perjalanan awal ayahnya di dunia persilatan.

Menurutnya, tempat pertama ayahnya belajar pencak silat adalah Sedayu. Pada masa itu, belum dikenal istilah Tapak Suci. Ilmu yang berkembang dikenal dengan sebutan ilmu Sedayuan.

“Dulu dikenal dengan ilmu Sedayuan. Tapi saya tidak tahu siapa guru ayah di Sedayu.”
ujar Zamrony.

Nama gurunya di Sedayu hilang ditelan waktu. Yang tersisa hanyalah jejak. Jika sejak awal, Chusnan David sudah menempuh jalan pencarian ilmu dengan caranya sendiri. Tanpa banyak catatan. Tanpa dokumentasi. Hanya pengalaman dan latihan.

Masih kata Zamrony, perjalanan ilmu Chusnan David kemudian berlanjut ke Ujung Pangkah. Di sanalah ia berguru kepada seseorang yang dikenal dengan panggilan Mbah Dullah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Nama itu masih hidup dalam ingatan Zamrony, bukan hanya sebagai guru ayahnya, tetapi sebagai sosok yang pernah ia jumpai langsung.

“Saya beberapa kali pas Lebaran diajak ayah silaturahmi ke rumah Mbah Dullah,” kenangnya.

Bagi seorang anak, kunjungan itu mungkin tampak seperti silaturahmi biasa. Namun bagi Chusnan David, perjalanan ke Ujung Pangkah adalah bentuk adab murid kepada guru. Bahwa ilmu bukan sekadar dipelajari, tetapi juga dirawat dengan hubungan batin dan penghormatan.

Tak banyak cerita tentang apa yang diajarkan Mbah Dullah. Namun bisa dipastikan, setiap guru memberi warna tersendiri dalam pembentukan karakter dan teknik sang murid.

Perjalanan itu belum selesai. Masih ada satu lagi guru Chusnan David yang disebut Zamrony, berasal dari Kudus. Nama aslinya Mustofa. Ia tinggal di Surabaya dan merupakan keturunan Sunan Kudus.

Rony mengaku kerap bertemu dengannya. “Dia (Mustofa, red) punya ilmu macan,” ujar Zamrony, seraya menjelaskan bahwa ilmu tersebut berkaitan dengan gerakan jurus dalam pencak silat.

Selain itu, Zamrony juga mengungkapkan masih ada dua guru lain ayahnya yang ia ingat. Satu guru tinggal di Banyuwangi, sementara satu lainnya berdomisili di Banten.

Namun, terkait dua guru tersebut, Rony mengaku belum pernah bertatap muka secara langsung. Ia pun tidak dapat menjelaskan sosok keduanya secara detail, selain cerita ayahnya yang pernah berguru kepada mereka.

Namun justru di situlah kita melihat gambaran utuh perjalanan Chusnan David: belajar ke banyak tempat, menyerap banyak ilmu, tanpa pernah merasa perlu mengklaim siapa-siapa.

“Jadi ayah belajar ke banyak tempat. Saya tidak tahu selain dari empat ang saya sebutkan tadi,” urai ucap pria yang pernah mondok di Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Surakarta ini.

Warisan yang Tak Pernah Dipamerkan

Chusnan David mungkin tidak pernah menuliskan silabus, tidak pernah memaparkan teori penciptaan Jurus Harimau. Dia memilih cara lain: mewariskan melalui laku, melalui contoh, melalui keteladanan.

Ilmu yang tinggi, katanya, tidak selalu perlu diumumkan. Kadang cukup dirasakan dalam satu gerakan yang tepat, satu sikap yang tenang, atau satu keputusan yang beradab.

Hari ini, Jurus Harimau hidup dan berkembang di Tapak Suci. Ia dipelajari, dilatih, dipertandingkan, bahkan dikenalkan ke dunia. Namun jejak tangan penciptanya tetap terasa: tenang, kuat, dan penuh kendali.

Chusnan David telah pergi, tetapi Harimau yang ia lahirkan tidak pernah menjadi liar. Ia tetap setia pada nilai. Sebagaimana sang pencipta setia pada jalan sunyi seorang pendekar sejati.

Warisan itu juga tampak pada cara murid-muridnya memahami Tapak Suci. Mereka tidak sekadar menghafal rangkaian jurus, tetapi belajar menempatkan diri: kapan harus maju, kapan menahan, dan kapan berhenti.

Di situ Jurus Harimau berfungsi bukan hanya sebagai teknik, melainkan sebagai alat membentuk disiplin dan tanggung jawab.

Dalam konteks itulah nama Chusnan David terus disebut, bukan karena ia menuntut pengakuan, melainkan karena karyanya terus hidup dan dikenang. (*/bersambung)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu