Dari Sedayu sampai Banten
Minimnya cerita langsung dari Chusnan David membuat penelusuran asal-usul ilmunya menjadi seperti merangkai mozaik. Potongan-potongan kecil, berserakan di berbagai tempat dan kenangan.
Putra sulungnya, Muhammad Zamrony, pun mengakui hal serupa. Sebagai anak, dia tidak banyak mendapat penjelasan detail dari sang ayah tentang proses penciptaan Jurus Harimau.
“Saya juga tidak banyak tahu. Ayah jarang bercerita soal itu,” kata Zamrony jujur.
Namun dari ingatan dan pengalaman yang tersisa, Zamrony mencoba merangkai kembali perjalanan awal ayahnya di dunia persilatan.
Menurutnya, tempat pertama ayahnya belajar pencak silat adalah Sedayu. Pada masa itu, belum dikenal istilah Tapak Suci. Ilmu yang berkembang dikenal dengan sebutan ilmu Sedayuan.
“Dulu dikenal dengan ilmu Sedayuan. Tapi saya tidak tahu siapa guru ayah di Sedayu.”
ujar Zamrony.
Nama gurunya di Sedayu hilang ditelan waktu. Yang tersisa hanyalah jejak. Jika sejak awal, Chusnan David sudah menempuh jalan pencarian ilmu dengan caranya sendiri. Tanpa banyak catatan. Tanpa dokumentasi. Hanya pengalaman dan latihan.
Masih kata Zamrony, perjalanan ilmu Chusnan David kemudian berlanjut ke Ujung Pangkah. Di sanalah ia berguru kepada seseorang yang dikenal dengan panggilan Mbah Dullah.
Nama itu masih hidup dalam ingatan Zamrony, bukan hanya sebagai guru ayahnya, tetapi sebagai sosok yang pernah ia jumpai langsung.
“Saya beberapa kali pas Lebaran diajak ayah silaturahmi ke rumah Mbah Dullah,” kenangnya.
Bagi seorang anak, kunjungan itu mungkin tampak seperti silaturahmi biasa. Namun bagi Chusnan David, perjalanan ke Ujung Pangkah adalah bentuk adab murid kepada guru. Bahwa ilmu bukan sekadar dipelajari, tetapi juga dirawat dengan hubungan batin dan penghormatan.
Tak banyak cerita tentang apa yang diajarkan Mbah Dullah. Namun bisa dipastikan, setiap guru memberi warna tersendiri dalam pembentukan karakter dan teknik sang murid.
Perjalanan itu belum selesai. Masih ada satu lagi guru Chusnan David yang disebut Zamrony, berasal dari Kudus. Nama aslinya Mustofa. Ia tinggal di Surabaya dan merupakan keturunan Sunan Kudus.
Rony mengaku kerap bertemu dengannya. “Dia (Mustofa, red) punya ilmu macan,” ujar Zamrony, seraya menjelaskan bahwa ilmu tersebut berkaitan dengan gerakan jurus dalam pencak silat.
Selain itu, Zamrony juga mengungkapkan masih ada dua guru lain ayahnya yang ia ingat. Satu guru tinggal di Banyuwangi, sementara satu lainnya berdomisili di Banten.
Namun, terkait dua guru tersebut, Rony mengaku belum pernah bertatap muka secara langsung. Ia pun tidak dapat menjelaskan sosok keduanya secara detail, selain cerita ayahnya yang pernah berguru kepada mereka.
Namun justru di situlah kita melihat gambaran utuh perjalanan Chusnan David: belajar ke banyak tempat, menyerap banyak ilmu, tanpa pernah merasa perlu mengklaim siapa-siapa.
“Jadi ayah belajar ke banyak tempat. Saya tidak tahu selain dari empat ang saya sebutkan tadi,” urai ucap pria yang pernah mondok di Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Surakarta ini.






0 Tanggapan
Empty Comments