Kesucian bukan hanya urusan masjid atau mihrab. Ia adalah denyut kehidupan, yang menentukan nasib diri, keluarga, bahkan bangsa.
“Kalau hati-hati umat ini kotor, maka keberkahan pun akan menjauh,” kata Ustaz Qodiron Abdurrahim, mubaligh Muhammadiyah, dalam ceramahn seperti dikutip dari kanal Youtube Baitul Arqom Joss.
Ustaz Qodiron berangkat dari pesan Al-Qur’an surat Asy-Syu’ara ayat 88–89, “(Ingatlah) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang suci.”
“Ini ayat yang menjadi kunci kehidupan setelah mati. Kelak yang menolong kita bukan jabatan, bukan kekayaan, tapi kebersihan hati,” ujar Qodiron.
Menurutnya, langkah pertama menuju kehidupan yang diridai Allah adalah menyucikan pribadi. Ia mengutip surat Asy-Syams ayat 9–10, “Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang-orang yang mengotorinya.”
“Kalau kita menyucikan diri, kita tersambung dengan Allah. Tapi kalau mengotori diri, kita masuk perangkap setan,” tegasnya.
Ustaz Qodiron menekankan bahwa tempat paling efektif untuk mensucikan diri adalah masjid. Di tempat inilah, manusia belajar berzikir, salat, dan mengingat Allah.
Dia mengutip sabda Nabi, bahwa salat lima waktu ibarat mandi lima kali sehari di sungai yang jernih — membersihkan seluruh kotoran jiwa.
“Salat itu pembersih diri paling ampuh. Bahkan sebelum salat, wudhu saja sudah menggugurkan dosa. Maka perbanyaklah salat wajib dan salat sunnah, terutama salat tahajud,” tuturnya.
Setelah pribadi, langkah berikutnya adalah menyucikan keluarga. Qodiron menegaskan, tanggung jawab terbesar ada di pundak kepala keluarga.
Dia mengutip surat At-Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Dengan nada haru, dia menceritakan pengalaman pribadi saat anaknya mengalami luka karena menginjak obat nyamuk yang menyala.
“Hanya karena luka kecil, saya dan istri menangis semalaman. Lalu bagaimana jika salah satu keluarga kita terbakar di neraka? Tidak ada orang tua yang sanggup menanggung itu,” katanya
Ustaz Qodiron mengajak jamaah untuk meneladani keluarga para nabi, terutama Nabi Ibrahim dan Imron.
Menurutnya, keberhasilan Nabi Ibrahim mendidik keluarganya hingga keturunannya menjadi para nabi dan rasul adalah contoh keberhasilan pendidikan keluarga yang sejati.
“Allah menyebut ‘keluarga Ibrahim’ dan ‘keluarga Imron’ dalam Al-Qur’an karena mereka sukses menjadikan rumah tangga sebagai pusat kesucian,” jelasnya. “Bandingkan dengan Nabi Nuh dan Nabi Adam yang anak-anaknya gagal menjaga iman.”
Ustaz Qodiron juga mengisahkan keteladanan keluarga Imron, terutama Maryam, wanita suci yang sejak kecil tumbuh dalam kesucian di mihrab.
“Rezekinya langsung dari langit. Artinya, anak yang shalih dan shalihah membawa keberkahan bagi seluruh keluarga,” katanya.
Dia kemudian mengingatkan bahwa visi keluarga muslim adalah masuk surga bersama-sama. Mengutip surat Ar-Ra’d ayat 23, dia menuturkan, “Belum dianggap sukses menjadi orang tua kalau belum mampu membawa anak-anak dan pasangan masuk surga.”
Dengan suara bergetar ia berkata, “Kalau kita tidak kuat melihat anak kita menginjak bara kecil di dunia, bagaimana nanti kalau melihatnya diseret ke neraka?”
Tahap ketiga, lanjutnya, adalah menyucikan masyarakat. Ustaz Qodiron mengutip surat Al-A’raf ayat 96: “Andai saja penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan limpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
“Kalau negeri ini mau bersih dan diberkahi Allah, masyarakatnya harus disucikan dari kemaksiatan dan kedustaan,” ujarnya dengan tegas. Ia menilai banyak masyarakat yang telah menutup nikmat Allah dengan tidak bersyukur, padahal negeri ini dikaruniai kekayaan alam luar biasa.
“Gunungnya penuh tambang emas, lautnya penuh ikan, tapi rakyatnya miskin. Itu karena kita menutup nikmat Allah,” katanya sambil menyinggung data kemiskinan nasional yang masih tinggi.
Dia menuturkan pengalaman menyaksikan buruh tani yang bekerja dari pagi hingga sore hanya digaji Rp 18 ribu per hari.
“Bagaimana bisa negeri semakmur ini masih banyak orang lapar? Karena kita lupa mensucikan sistem sosial kita dari ketidakadilan,” ujarnya.
Melawan Kemungkaran
Dalam bagian akhir ceramah, Ustaz Qodiron menegaskan bahwa mensucikan masyarakat tidak cukup dengan kata-kata, tetapi dengan aksi nyata. Dia mengutip surat At-Taubah ayat 67 dan 71 tentang perbedaan antara kaum munafik dan orang beriman.
“Orang munafik itu menyebarkan kemungkaran, sedangkan mukmin laki-laki dan perempuan saling menolong dalam kebaikan,” katanya.
Menurutnya, amar ma’ruf mudah dilakukan, tetapi nahi munkar membutuhkan keberanian dan kekuasaan.
“Rasulullah mengajarkan, kalau melihat kemungkaran ubahlah dengan tangan, artinya dengan kekuasaan. Karena itu umat Islam harus punya cita-cita berkuasa, agar bisa menutup kemungkaran,” tegasnya.
Dia mencontohkan langkah-langkah berani pemimpin yang menutup tempat maksiat seperti Dolly dan Alexis. “Kekuasaan bisa menjadi alat menyucikan masyarakat. Karena itu, umat Islam tidak boleh alergi terhadap politik,” katanya.
Ustaz Qodiron mengingatkan bahwa dakwah paling kuat bukanlah ucapan, tetapi keteladanan. Ia mengutip orientalis Jerman yang menulis, “Rahasia keberhasilan Nabi Muhammad adalah uswah hasanah, bukan sekadar kata-kata.”
“Ceramah bisa dua jam, tapi memberi contoh itu perjuangan seumur hidup. Anak-anak kita tidak akan salat kalau ayah-ibunya tidak salat. Mereka tidak akan cinta ilmu kalau orang tuanya tidak membaca,” jabarnya.
“Mari kita mulai dari diri, dari keluarga, lalu kita sucikan masyarakat. Karena kalau masyarakat suci, negeri ini akan kembali diberkahi Allah dari langit dan bumi,” tutup Ustaz Qodiron. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments