Pentingnya membangun growth mindset menjadi sorotan utama dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembelajaran Mendalam, Koding & Kecerdasan Artifisial, serta Penguatan Pendidikan Karakter yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu–Ahad, 10–14 September 2025, di Hotel Platinum Surabaya ini diikuti oleh sekolah-sekolah Muhammadiyah dari berbagai daerah, khususnya Jawa Timur.
Ketua Tim Penyusun Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam, Prof (Em) Suyanto, M.Ed., Ph.D., menegaskan bahwa inti dari pembelajaran mendalam tidak terlepas dari pola pikir yang benar.
“Kita perlu growth mindset untuk pembelajaran mendalam. Jika tidak memiliki growth mindset, maka tidak akan muncul mindful, meaningful, dan joyful dalam proses pembelajaran,” tegas Suyanto dalam sesi perdana yang disampaikan secara daring pada Rabu (10/9/2025) malam .
Menurutnya, keberhasilan sekolah Muhammadiyah sangat ditentukan oleh pola pikir warganya.
“Orang yang sukses adalah orang dengan mindset benar. Kalau mindset benar maka langkah akan benar. Mindset salah, maka tindakan salah, dan hasilnya kegagalan,” ujarnya.
Mindset, jelas Suyanto, merupakan kumpulan kepercayaan yang menentukan reaksi seseorang terhadap situasi tertentu. Dalam pembelajaran mendalam, tantangan akan selalu hadir, sehingga diperlukan growth mindset.
“Selama ada tantangan dalam proses belajar, otak kita akan kaya pengetahuan. Jika kita menolak tantangan, maka otak kita tidak akan bertumbuh,” tambahnya.
Suyanto menguraikan perbedaan mendasar antara fixed mindset dan growth mindset. Orang dengan fixed mindset biasanya merasa cukup dengan talenta bawaan, menganggap keberhasilan sebagai takdir semata, dan cenderung menghindari tantangan agar tidak terlihat kurang pandai. Akibatnya, ketika menghadapi kegagalan, mereka mudah menyerah dan pasrah.
Sebaliknya, individu dengan growth mindset akan melihat tantangan sebagai sarana latihan, menerima kegagalan sebagai proses, dan terus berusaha hingga berhasil.
“Orang dengan growth mindset percaya bahwa kecerdasan bukan berasal dari talenta bawaan, melainkan hasil dari proses belajar dan perjuangan. Inilah ciri orang Muhammadiyah: bertahan, berjuang, dan mengatasi setiap masalah,” tegasnya.
Empat Pilar Mindset
Lebih lanjut, Prof Suyanto menekankan bahwa perubahan mindset harus dimulai dari diri sendiri.
“Mindset datang dari sikap (attitude), kebiasaan (behaviour), karakter (character), dan pembiasaan (habit),” paparnya.
Dengan membangun empat pilar tersebut, sekolah Muhammadiyah dapat lebih adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.
“Sekolah yang sukses adalah sekolah yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Mengembangkan sekolah harus berangkat dari kebiasaan baru, mindset baru, sehingga menghasilkan sesuatu yang baru,” ujarnya menutup sesi.
Bimtek ini menghadirkan ratusan peserta dari Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Kalimantan Barat.
Selama lima hari, para guru dan tenaga pendidik Muhammadiyah mendapatkan bekal untuk memperkuat metode pembelajaran mendalam, mengintegrasikan teknologi seperti koding dan kecerdasan artifisial, serta memperkokoh pendidikan karakter.
Dengan dorongan kuat dari Suyanto, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat baru bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk melahirkan generasi yang berdaya saing, adaptif, dan berakhlak mulia melalui kekuatan growth mindset. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments