Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Birrul Walidain dan ‘Uququl Walidain

Iklan Landscape Smamda
Birrul Walidain dan ‘Uququl Walidain
pwmu.co -
Ilustrasi AI

Oleh Katirin Mardiono – Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kras

PWMU.CO – Islam menempatkan birrul walidain (berbakti kepada orang tua) sebagai salah satu amal yang sangat utama. Dalam Al-Qur’an dan hadis, banyak perintah untuk berbakti kepada orang tua yang bersandingan dengan perintah untuk mentauhidkan Allah. Hal ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan kedua orang tua dalam Islam. 

Allah berfirman: “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada mereka perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka, tetapi ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23) 

Sedang dalam hadis, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:  “Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka keduanya.” (HR. Tirmidzi) 

Bentuk-bentuk Birrul Walidain 

Ada banyak cara bagi seorang anak untuk bisa melakukan keberbaktiannya kepada orang tua, baik saat mereka masih hidup maupun setelah wafat, antara lain: 

  1. Mentaati perintah mereka, selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan menaati perintah orang tua adalah kewajiban. 
  2. Bersikap Lembut dan Sopan. Dalam berkomunikasi atau berbicara, seorang anak harus melakukannya dengan lemah lembut dan penuh hormat kepada orang tuanya.
  3. Membantu dan merawat mereka. Saat orang tua telah lanjut usia dan membutuhkan bantuan, seorang anak harus siap merawat mereka dengan penuh kesabaran. 
  4. Mendoakan Mereka. Doa seorang anak yang saleh adalah salah satu amal yang tidak terputus pahalanya bagi orang tua setelah mereka wafat. 
  5. Menyambung silaturahmi dengan kerabat mereka. Rasulullah Saw mengajarkan bahwa menyambung silaturahmi dengan sahabat-sahabat orang tua termasuk dalam birrul walidain. 

Akibat durhaka kepada orang tua 

Sebaliknya, Islam melarang ‘uququl walidain  atau durhaka kepada orang tua. Dalam banyak hadis, durhaka kepada orang tua disebut sebagai dosa besar yang mendatangkan murka Allah. 

Jika berbakti kepada orang tua (birrul walidain) menjadi salah satu amal yang sangat ditekankan. Maka, durhaka kepada orang tua (‘uququl walidain) menjadi dosa besar yang mendapatkan ancaman berat dari Allah Subhanahu wa ta’ala. 

Pengertian ‘Uququl Walidain

Secara bahasa, ‘uquq berarti durhaka atau tidak patuh, sedangkan walidain berarti kedua orang tua. Jadi, ‘uququl walidain adalah tindakan yang menyakiti, tidak menghormati, atau tidak memenuhi hak-hak orang tua baik secara fisik, ucapan, maupun perbuatan. 

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an: 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka, serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 23) 

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dari ayat ini, jelas bahwa berkata kasar atau menghardik orang tua saja sudah termasuk bentuk kedurhakaan. Apalagi jika sampai menyakiti mereka secara fisik atau meninggalkan mereka tanpa perhatian. 

Rasulullah Saw juga bersabda:   

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar? Para sahabat menjawab: Tentu, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw menyebutkan bahwa “durhaka kepada orang tua termasuk dosa yang disegerakan hukumannya di dunia sebelum azab di akhirat.” (HR. Hakim). 

Bentuk-Bentuk ‘Uququl Walidain 

  1. Mengucapkan kata-kata kasar atau membentak orang tua. Misalnya, mengatakan: ah, bosan, atau menyusahkan diri mereka. 
  2. Tidak menaati mereka dalam hal yang baik. Selama perintah mereka tidak bertentangan dengan syariat, seorang anak wajib taat kepada orang tua. 
  3. Menyakiti mereka secara fisik maupun mental. Termasuk membiarkan mereka dalam kesedihan, tidak peduli dengan keadaan mereka, atau mempermalukan mereka di depan umum. 
  4. Tidak memberikan nafkah atau bantuan ketika mereka membutuhkan.Jika orang tua dalam keadaan miskin, sementara anak mampu membantu, maka wajib baginya menafkahi mereka. 
  5. Menelantarkan mereka saat usia tua. Merawat mereka saat mereka sudah lanjut usia adalah bentuk kedurhakaan yang besar. 

Apa akibatnya jika seorang anak melakukan ‘Uququl Walidain  kepada orang tuanya?

  1. Mendapat laknat dari Allah Swt.
  2. Doa tidak terkabulkan.
  3. Hidup tidak berkah dan selalu dalam kesulitan.
  4. Azab disegerakan di dunia dan siksa di akhirat.
  5. Terputusnya rahmat dan kasih sayang Allah* 

Jika seseorang telah durhaka kepada orang tuanya, maka hendaknya ia segera: 

  1. Bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh
  2. Meminta maaf kepada orang tua dan berusaha membahagiakan mereka.
  3. Berbuat baik kepada mereka selama masih hidup.
  4. Mendoakan mereka, terutama jika sudah wafat.
  5. Banyak bersedekah atas nama mereka* 

Jadi ‘Uququl walidain adalah dosa besar yang harus dihindari oleh setiap Muslim. Sebaliknya, kita harus berusaha menjadi anak yang berbakti agar mendapat ridha Allah Swt, karena ridha-Nya tergantung pada ridha orang tua. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa menghormati dan membahagiakan kedua orang tua.  Wallahu a’lam.

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu