Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buah Manis Ujian Bertubi-tubi: Kajian Ahad Pagi PCM Pare Hadirkan Ustadz Abu Abdillah Amir

Iklan Landscape Smamda
Buah Manis Ujian Bertubi-tubi: Kajian Ahad Pagi PCM Pare Hadirkan Ustadz Abu Abdillah Amir
Ustadz Abu Abdillah Amir saat menyampaikan kajiannya. (Dahlansae / PWMU.CO)
pwmu.co -

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menggelar kajian Ahad pagi bertema “Buah Manis Ujian Bertubi-tubi”, Ahad (19/10/2025).

Acara berlangsung di Klinik Rawat Inap Pelayanan Medik Dasar Siti Fatimah Muhammadiyah, Jalan Ahmad Yani, Pare, dengan suasana penuh semangat dan kehangatan ukhuwah.

Para jamaah yang datang disambut ramah oleh pasukan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) di bawah komando Jawaharlal Nehru.

Tampak hadir pula sejumlah pimpinan harian PCM Pare, seperti Agus Widodo, H. Barnawi, Andi Nur Takwa, dan Rezza Firmansyah. Panitia juga menyiapkan teh manis, kopi, dan roti hangat untuk para peserta.

Kajian dimulai pukul 06.11 hingga 07.15 WIB. Bertindak sebagai master of ceremony (MC) adalah Waliuddin Abdurrahman, Sekretaris Majelis Tabligh PCM Pare. Adapun muballigh yang hadir ialah Ustadz Abu Abdillah Amir, alumnus Darul Hadits Ma’rib, Yaman.

Nikmat Iman dan Ilmu

Ustadz Abu Abdillah Amir yang memiliki nama asli Amir Hadi Santoso mengawali ceramahnya dengan ajakan untuk bersyukur atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan.

“Karena dengan nikmat itulah kita bisa berkumpul dalam majelis ilmu seperti ini,” ujarnya.

Beliau menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

“Tidak harus mondok untuk belajar ilmu syar’i,” jelasnya. “Menghadiri kajian dari masjid ke masjid pun termasuk jalan ilmu.”

Ustadz Amir mengutip hadis Nabi Saw:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Cinta kepada Allah dan Tanda-tandanya

Ustadz Amir kemudian mengajukan pertanyaan kepada jamaah:

“Apakah kita cinta kepada Allah?”

“Cinta!” jawab jamaah serentak.

“Apakah Allah mencintai kita?” lanjutnya.

“Yakin!” jawab jamaah lagi.

Beliau menjelaskan, cinta Allah kepada hamba memiliki tanda-tanda. Salah satunya adalah semangat beribada.

“Kalau adzan berkumandang, kita segera datang ke masjid, berarti ada cinta Allah di situ,” ujarnya.

Beliau mengutip firman Allah Swt dalam QS Al-Hujurat ayat 7:

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ

“Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu.” (QS Al-Hujurat: 7)

Rasulullah Saw juga bersabda:

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Barang siapa senang dengan kebaikan dan benci terhadap keburukan, maka dia adalah seorang mukmin.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Ujian sebagai Tanda Cinta Allah

Ustadz Amir menjelaskan, ujian justru tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.

“Semakin besar cobaan, semakin besar cinta Allah,” ujarnya.

Beliau mengutip sabda Rasulullah Saw:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah; siapa yang murka, baginya kemurkaan Allah.” (HR. Ibnu Majah, hasan)

Musibah Menghapus Dosa

Lebih lanjut, Ustadz Amir menyampaikan bahwa ujian dan sakit merupakan cara Allah menghapus dosa hamba-Nya.

“Kalau Allah sayang, hukumannya disegerakan di dunia,” katanya.

Beliau membacakan hadis:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia segerakan hukumannya di dunia. Namun jika Allah menghendaki keburukan padanya, maka Dia tangguhkan hukumannya hingga hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Demikian pula hadis berikut:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)

Ujian Sesuai Tingkat Iman

Ustadz Amir mengingatkan, semakin tinggi keimanan seseorang, semakin berat pula ujiannya.

يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى قَدْرِ دِينِهِ

“Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, ujiannya berat. Jika agamanya lemah, ujiannya pun sesuai kadar agamanya.” (HR. Tirmidzi)

Beliau menutup dengan perumpamaan indah: “Ibarat pohon kelapa, semakin tinggi, semakin kencang angin yang menerpa. Tapi kalau cuma rumput teki, ya anginnya sepoi-sepoi saja,” ujarnya disambut senyum jamaah.

Kajian Ahad pagi ini ditutup dengan doa dan harapan agar setiap ujian yang datang menjadi penghapus dosa dan jalan menuju surga Allah Swt.

حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Seorang hamba akan terus diuji hingga ia berjalan di bumi tanpa dosa.” (HR. Tirmidzi)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu